Marak Risk-Off, Yen Pertahankan Apresiasi Versus Dolar AS

Permintaan pasar terhadap Yen Jepang mengalami peningkatan di tengah aksi risk-off yang dipicu oleh gejolak politik di Hong Kong dan Argentina.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pasangan mata uang USD/JPY bertahan di kisaran terendah tujuh bulan dalam perdagangan hari ini (13/Agustus). Gejolak di Hong Kong dan Argentina menjadi sorotan pasar, sekaligus mendorong investor beralih ke mata uang safe haven Yen. Saat berita ditulis, USD/JPY diperdagangkan pada level 105.22, sementara EUR/JPY dan GBP/JPY terpuruk di level terendah dalam lebih dari dua tahun terakhir.

USDJPY MonthlyGrafik USD/JPY Monthly via Tradingview.com

Bandara internasional Hong Kong ditutup akibat demonstrasi yang semakin parah pada awal pekan ini. Hasil pemilu pendahuluan di Argentina yang mengisyaratkan kekalahan petahana, juga mengakibatkan kekacauan di pasar keuangan. Berita-berita ini meningkatkan sentimen risk-off di kalangan investor, terutama setelah perundingan dagang AS-China menghadapi kebuntuan.

"Aksi 'risk-off' di pasar yang digerakkan oleh peristiwa di Hong Kong dan Argentina-lah yang mendorong permintaan bagi Yen," kata Yukio Ishizuki dari Daiwa Securities, sebagaimana dilansir oleh Reuters, "Spekulan meningkatkan posisi long mereka terhadap Yen."

Lebih lanjut, ia memaparkan, "Tak ada sinyal penguatan Yen akan memudar. Target Yen berikutnya adalah level terkuat yang pernah dicapai terhadap Dolar pada awal Januari, tetapi bahkan ambang itu takkan menjadi halangan yang berarti dalam situasi saat ini."

Sementara itu, Junichi Ishikawa dari IG Securities menyinggung masalah penurunan suku bunga AS sebagai salah satu faktor yang mendukung apresiasi Yen. Katanya, "Penyempitan selisih antara yield (obligasi) AS dan Jepang telah menjorokkan Dolar/Yen ke dalam sebuah downtrend, meskipun pasar ekuitas global baru-baru ini menguat."

Menjelang rilis data inflasi AS nanti malam, indeks Dolar AS (DXY) masih cenderung sideways di sekitar level 97.50-an. Pasalnya, pelaku pasar merisaukan kemungkinan terkoreksinya laju inflasi serta pertumbuhan ekonomi AS. Apabila pertumbuhan inflasi meleset dari ekspektasi, maka bank sentral AS akan memperoleh alasan tambahan untuk memangkas suku bunga lagi.

289638

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

1 Ags 2019

19 Ags 2019