Minat Risiko Ekstrim, Inflasi Produsen Gagal Dukung Aussie

Menurut analis dari ANZ Bank, pelemahan Dolar Australia belakangan ini berhubungan dengan harga komoditas, Dolar AS, dan sentimen risiko yang ekstrim.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Pada awal sesi Asia hari Jumat pagi ini (2/Februari), Dolar Australia merosot terhadap Greenback di tengah antisipasi rilis data Nonfarm Payroll (NFP) Amerika Serikat nanti malam, meskipun data Inflasi Produsen (Producer Price Index/PPI) menunjukkan peningkatan lebih besar dibanding ekspektasi. Pasangan mata uang AUD/USD terpantau -0.37% ke 0.8008 saat berita ditulis, melanjutkan penurunan yang sudah berlangsung sejak 29 Januari lalu. Menurut analis, hal ini berhubungan dengan harga komoditas, Indeks Dolar AS, dan minat risiko pasar yang semuanya berada dalam kondisi ekstrim.

Dolar Australia

 

Antisipasi NFP AS Nanti Malam

Tadi pagi, Australian Bureau of Statistics (ABS) melaporkan bahwa Inflasi Produsen di negeri Kanguru mengalami peningkatan dengan laju 0.6% QoQ pada kuartal IV/2017, lebih tinggi dari perkiraan yang dipatok pada 0.2%. Dalam basis tahunan, PPI juga naik ke 1.7% YoY dari 1.6% YoY di periode sebelumnya, walau awalnya diperkirakan akan menurun ke 1.2%.

Terlepas dari kabar gembira tersebut, AUD/USD tetap merosot. Sebagiannya disebabkan oleh antisipasi pasar menjelang rilis NFP dari Amerika Serikat nanti malam. Menurut survey Reuters, NFP diperkirakan meningkat ke 180,000 di bulan Januari 2018, lebih tinggi dari kenaikan 148,000 yang tercatat di bulan Desember. Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatannya terhadap sebagian mata yang mayor, menggeliat 0.05% ke 88.70 hari Jumat ini, setelah sempat mencapai low di 88.56 pada hari Kamis.

 

Penurunan Aussie Bisa Berlanjut?

Sejumlah pelaku pasar menilai pelemahan AUD/USD dalam beberapa hari terakhir semata koreksi, dan kelak akan bergerak lebih tinggi lagi. Namun, tim Strategi Forex dari ANZ Bank, salah satu bank terbesar di kawasan Antipodean, justru memperkirakan Dolar Australia terancam terus menurun.

Ada beberapa faktor yang dikutip ANZ Bank, sebagaimana dikutip oleh Business Insider. pertama, AUD sekarang berada pada korelasi ekstrim dengan harga komoditas, beta (sentimen risiko pasar), dan DXY, yang mana semuanya mengarah pada penguatan AUD. Apabila korelasi menurun dan perkara suku bunga kembali menjadi bahan perbincangan, maka AUD kemungkinan menurun.

Kedua, seandainya korelasi bertahan kuat, tim dari ANZ Bank memandang tetap ada risiko bagi harga komoditas untuk melandai, sentimen risiko untuk berkurang, serta bagi USD untuk kembali mencuat; karena semua faktor-faktor ini sekarang dalam kondisi ekstrim.

Indeks Sentimen Pasar Global versi ANZ

 

"Minat risiko —yang merupakan salah satu input penting dalam model USD dan penggerak AUD secara historis— juga nampak sangat meregang," katanya. Lebih lanjut lagi, "ketika melihat daftar penggerak AUD secara tradisional, semuanya antara mensinyalkan (AUD) harus lebih rendah atau trayeknya dalam risiko pembalikan."

Apakah ini artinya Dolar Australia akan merosot terus? Bukan demikian menurut ANZ Bank.

"Meskipun kami belum siap untuk mengatakan bahwa AUD berada di tepi penurunan berkelanjutan atau menguji siklus rendahnya, kami dengan pasti memperkirakan bahwa jika dibandingkan dengan Desember 2017 —ketika AUD diperdagangkan di sekitar 75 sen— Rasio Risk/Reward sudah bergeser dengan sangat drastis. Sementara AUD sekarang diperdagangkan dalam jarak 1 sen dari 'puncak' yang kami perkirakan, kami memilih untuk menggunakan (kemungkinan) penguatan ini untuk memasang ulang posisi short."


282198

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.