Negara Kaya Harus Hitung Dampak Kebijakan Bagi Negara Berkembang

Pidato gubernur bank sentral Inggris (BoE) Mark Carney kali ini menyinggung soal kebijakan bank sentral AS, tetapi tak membahas kebijakan moneter negaranya sendiri.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dalam sebuah pidato di Tokyo hari ini, gubernur bank sentral Inggris (BoE) Mark Carney menyatakan bahwa bank-bank sentral di Amerika Serikat dan negara-negara kaya lain harus lebih memperhitungkan dampak kebijakan mereka bagi negara-negara berkembang. Katanya, "Meski tak realistis untuk mengharapkan pengambil kebijakan di negara-negara maju agar menginternalisasi sepenuhnya dampak tindakan mereka terhadap negara-negara berkembang, dikarenakan mandat domestik mereka, (tetapi) kebijakan moneter semakin perlu memperhitungkan efek samping."

Mark Carney

 

Kebijakan AS Berdampak Tak Proporsional Bagi Ekonomi Global

Secara khusus, Carney menunjuk Amerika Serikat yang hanya mencakup 15 persen output ekonomi global, tetapi Dolar AS digunakan dalam lebih dari setengah perdagangan internasional. Dolar AS pun berfungsi sebagai cadangan devisa bagi negara-negara lain yang secara kumulatif mencakup 70 persen output global.

"Ini artinya perkembangan di Amerika Serikat memiliki dampak tak proporsional terhadap kondisi keuangan dan ekonomi global. Saat Fed merespons perkembangan domestik, seperti pelonggaran kebijakan fiskal, maka aktivitas dan kondisi keuangan global bereaksi dengan kuat. Ini terjadi ketika 'taper tantrum' tahun 2013 dan selama tahun lalu, karena komunikasi Fed mengubah ekspektasi kebijakan moneter AS secara signifikan."

Di sisi lain, Mark Carney menyarankan agar bank sentral di negara-negara berkembang senantiasa menjaga independensi masing-masing dan menghindari pertumbuhan pinjaman yang berlebihan. Selain itu, ia memeringatkan agar mengurangi utang dalam denominasi mata uang asing, dalam rangka persiapan menghadapi perlambatan ekonomi di masa depan.

Carney juga mewanti-wanti potensi destabilisasi reksa dana yang diinvestasikan dalam utang negara berkembang yang tak likuid, apabila terjadi lonjakan permintaan pencairan dari investor. Peringatan ini disampaikannya karena sejumlah reksa dana Inggris mensuspensi upaya withdrawal dana oleh investor pasca referendum brexit, dan baru-baru ini terjadi pula kasus high-profile serupa di Inggris.

 

Sterling Tetap Tenang

Terlepas dari beragam peringatan Carney tersebut, ia tak menyinggung masalah kebijakan moneter BoE sama sekali, sehingga posisi Sterling relatif statis. Saat berita ditulis (6/Juni), pair GBP/USD meningkat 0.2 persen ke kisaran 1.2710 sebagai imbas dari pelemahan Dolar AS, tetapi masih bergerak dekat level terendahnya sejak bulan Januari.

Bulan lalu, ia sempat mengatakan bahwa pasar keuangan terlalu meremehkan peluang kenaikan suku bunga BoE. Namun, hingga kini, pelaku pasar belum memperhitungkan kembali prospek kenaikan suku bunga BoE dalam tahun ini. Bahkan, sebagian pihak memperkirakan BoE lebih mungkin untuk memangkas suku bunga pada tahun depan, ketimbang menaikkannya.

288752

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.