Advertisement

iklan

Pasca KTT G20, Perang Dagang Masih Mengancam Pasar Finansial Global

Terdapat sejumlah kejanggalan dalam persetujuan AS-China di ajang KTT G20 kemarin, mengindikasikan kalau perang dagang belum berakhir.

acy

iklan

Advertisement

iklan

Setelah Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping dikabarkan melakukan "gencatan senjata" pada pertemuan keduanya di ajang KTT G20 akhir pekan lalu, minat risiko di pasar mata uang langsung meroket. Perubahan sentimen pasar ini berimbas pada aksi jual atas Dolar AS sebagai mata uang yang sebelumnya bertindak sebagai Safe Haven di tengah perang dagang antara kedua negara. Di sisi lain, nilai mata uang komoditas dan aset-aset negara berkembang justru berbalik meroket.

Terlepas dari itu, sebenarnya banyak ketidakjelasan mengenai cakupan "gencatan senjata" dalam perang dagang antara AS dan China. Hal ini menyebabkan banyak pihak mempertanyakan berapa lama imbas dari event tersebut akan mampu bercokol di pasar finansial global. Bagi trader forex, hal ini merupakan indikasi nyata untuk berpaling kembali pada pokok-pokok fundamental masing-masing mata uang, karena bias yang ditimbulkan bisa jadi takkan bertahan lama.

Perang Dagang Masih Mengancam Pasar Finansial Global

 

Simpang Siur Mengenai Konsesi AS dan China dalam KTT G20

Demi tercapainya sebuah persetujuan antara dua pihak, dalam konflik apapun, dibutuhkan kesediaan kedua belah pihak yang berseteru untuk berkompromi dengan masing-masing memberikan konsesi tertentu. Namun, konsesi apa yang diberikan oleh AS dan China demi "gencatan senjata" ini?

Dalam berita-berita yang dilansir media internasional segera setelah acara makan malam Trump dan Xi, disebutkan bahwa:

  1. Trump setuju untuk menunda peningkatan tarif dari 10 persen menjadi 25 persen atas USD200 Milyar produk asal China yang sebelumnya dijadwalkan bakal diberlakukan mulai 1 Januari mendatang.
  2. Xi bersedia membuat China membeli lebih banyak produk buatan Amerika Serikat dalam jumlah "yang belum disepakati, tetapi sangat substansial" guna menyeimbangkan neraca perdagangan kedua negara.
  3. Kedua belah pihak akan kembali ke meja perundingan untuk membicarakan solusi konflik perdagangan yang lebih final.

Sepintas, ketiga poin tersebut nampak indah. Namun, media AS dan China memberitakannya secara berbeda.
Pernyataan Gedung Putih yang dikutip media AS menyebutkan bahwa jika dalam tempo 90 hari (hingga 1 Maret 2019) tak ada kemajuan dalam perundingan, maka tarif impor tambahan akan diterapkan sesuai rencana. Sebaliknya, media China kabarnya tidak menyebut-nyebut soal deadline 90 hari tersebut. Alih-alih, berita ini dibingkai sedemikian rupa sehingga seolah-olah AS yang melangkah mundur (dengan membatalkan rencana tarif tambahan) dan mempercepat perundingan.

Lebih aneh lagi, kemarin Trump mendadak bercuit di akun Twitter-nya bahwa China telah sepakat akan mengurangi dan menghapus tarif impor atas produk otomotif buatan Amerika. Namun, para pejabat China tak memberikan komentar apapun terkait hal ini.

China has agreed to reduce and remove tariffs on cars coming into China from the U.S. Currently the tariff is 40%.

— Donald J. Trump (@realDonaldTrump) December 3, 2018

 

Cuma "Time Out", Belum "Game Over"

Di tengah ketidakpastian mengenai konsesi kedua belah pihak, ada dua poin krusial yang sama sekali tidak disinggung oleh AS maupun China. Yaitu:

  1. Masalah pelanggaran hak cipta (intellectual property) oleh China. Dahulu, hal ini disebut oleh Trump sebagai penyebab utama mengapa AS harus menerapkan tarif impor tinggi atas produk-produk China.
  2. Tarif impor yang sudah diterapkan oleh AS atas produk China, dan sebaliknya, tarif impor yang telah diterapkan China atas produk-produk AS. Produk AS dan China senilai ratusan miliar Dolar AS sudah sama-sama dikenai bea impor tinggi, tetapi Trump maupun Xi tak menyinggung sama sekali rencana soal pengurangan tarif tersebut.

Dengan melihat fakta-fakta ini, agaknya kita hanya bisa menganggap "gencatan senjata" AS-China kali ini sebagai "time out" semata dalam game perang dagang mereka. Konflik perdagangan antara kedua negara yang telah menyeret berbagai kawasan lain ini masih jauh dari "game over", walaupun pelaku pasar menanggapinya dengan hangat hingga meningkatkan minat risiko.

Ketika sentimen risiko kembali anjlok, imbasnya dapat menyeret pasangan mata uang mayor selain Dolar AS, khususnya Dolar Australia dan Dolar New Zealand, yang meroket pesat dalam dua hari ini lantaran "time out" tersebut. Saat ulasan ini ditulis, AUD/USD telah mencapai level tertinggi tiga bulan, sementara NZD/USD menyentuh rekor tertinggi enam bulan; tanpa adanya indikasi perbaikan signifikan dari fundamental dalam negeri masing-masing. Tak boleh dilupakan pula bahwa Federal Reserve kemungkinan masih akan menaikkan suku bunganya satu kali lagi pada bulan Desember ini.

Dalam catatannya tadi pagi, Kathy Lien dari BK Asset Management, mengungkapkan, "Berita baiknya adalah untuk lebih dari dua bulan (ke depan), kita kemungkinan akan mendengar lebih banyak berita rekonsiliasi dari kedua pihak, sejalan dengan berlanjutnya negosiasi. Hal ini akan bagus bagi minat risiko, (dalam) saham dan mata uang. Namun, seiring dengan makin mendekatnya deadline, nada bisa berubah, khususnya jika mereka jauh dari kata sepakat."

"Jadi, walaupun banyak yang ragu kalau gencatan Trump-Xi akan berubah menjadi kesepakatan dagang (final), untuk sementara ini lebih menguntungkan bagi USD/JPY, EUR/USD, NZD/USD, dan pasangan mata uang dengan beta tinggi lainnya yang sensitif pada minat risiko."

286460

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

1 Ags 2019

5 Ags 2019