Pasca Rilis CPI, Sterling Dibombardir Rumor PM May Lengser Minggu Ini

Setelah rilis data CPI Inggris yang mengecewakan pada sesi Eropa, Sterling dikejutkan lagi oleh rumor kalau Theresa May bakal didesak untuk mundur minggu ini.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Poundsterling merosot lebih dari 0.5 persen versus Dolar AS ke kisaran 1.2637 pada awal sesi New York hari ini (22/Mei). Setelah rilis data CPI Inggris yang mengecewakan pada sesi Eropa, Sterling dikejutkan lagi oleh rumor kalau Theresa May bakal didesak untuk mundur secepat hari Minggu besok. Akibatnya, Poundsterling merosot drastis terhadap semua mata uang mayor. Saat berita ditulis, GBP/JPY telah longsor 0.65 persen ke level 139.46, sementara EUR/GBP meroket 0.6 persen ke level 0.8832.

GBPUSD Daily

 

Data CPI Memupus Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BoE

Menurut UK Office for National Statistics (ONS), laju Consumer Price Index (CPI) hanya naik dari 1.9 persen menjadi 2.1 persen (Year-on-Year) pada bulan April, atau gagal memenuhi ekspektasi yang sebesar 2.2 persen. Hal ini semakin memupus harapan akan dinaikkannya suku bunga bank sentral Inggris (Bank of England/BoE).

"Meskipun kami mengira inflasi kemungkinan akan tetap berada di atas 2 persen sepanjang sisa tahun ini, kami berpendapat (laju inflasi) itu tidak akan mendesak BoE untuk bertindak (menaikkan suku bunga) dalam waktu dekat," ujar Thomas Pugh dari Capital Economics.

 

Apakah TM Masih Akan Jadi PM?

Sementara itu, headline berita politik Inggris semakin memanas. Rumor terbaru menyebutkan bahwa para anggota parlemen dari partai Konservatif tengah merintis upaya baru untuk melengserkan Theresa May dari kursi Perdana Menteri. Targetnya, mencegah May membawa draft kesepakatan brexit terbarunya ke arena voting parlemen pada awal bulan Juni mendatang.

Situasi ini dipicu oleh presentasi draft kesepakatan brexit baru oleh PM Theresa May kemarin, yang ternyata mengandung aspek kontroversial. Dalam presentasi tersebut, May membuka kemungkinan untuk digelarnya kembali referendum brexit kedua. Sebagian anggota partai Konservatif menjadi murka, karena tindakan May dianggap sebagai "pengkhianatan" yang bisa memancing Skotlandia menuntut referendum kemerdekaan lagi.

Editor Politik BBC, Laura Kuenssberg, konon diberitahu bahwa "hari Minggu" adalah waktu ketika May akan "pergi". Hari itu bertepatan dengan publikasi hasil pemilu parlemen Uni Eropa. Editor Politik ITV, Robert Peston, juga menerima kisi-kisi serupa. 

Kata Peston, "Ketika saya bertanya kepada menteri senior apakah Theresa May akan diberitahu hari ini bahwa ia telah kehilangan dukungan sebagian besar kabinetnya, jawabannya adalah 'sesuatu sedang terjadi'. Selain itu, menteri junior memberitahu Perdana Menteri agar membatalkan voting kesepakatan brexit keempat. Apakah TM masih akan jadi PM malam ini!?"

Selama PM Theresa May belum mampu meraih dukungan lagi bagi kepemimpinannya maupun proposal brexit yang diusungnya, perkembangan lebih lanjut dari ketidakpuasan para anggota parlemen Inggris ini bisa terus memengaruhi fluktuasi Poundsterling.

288624

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

Trader Indonesia
memang mengerikan gerakan GU.
turun tanpa ampun semoga trader indonesia bisa menjaga MM nya dan tidak loss.