Advertisement

iklan

Pelabuhan China Larang Impor Batu Bara Australia, AUD/USD Longsor

AUD/USD merosot lebih dari 1 persen hingga mencetak level terendah di kisaran 0.7090 menjelang akhir sesi Asia hari Kamis ini (21/Februari).

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar Australia anjlok drastis dalam dua jam terakhir karena kabar bahwa Dalian Port Group yang mengelola lima pelabuhan di RRC, telah mengeluarkan larangan bagi batu bara asal Australia untuk masuk pabean. Akibatnya, pasangan mata uang AUD/USD merosot lebih dari 1 persen hingga mencetak level terendah di kisaran 0.7090 menjelang akhir sesi Asia hari Kamis ini (21/Februari), walaupun terdapat sejumlah kabar positif yang dirilis sebelumnya. Berita menghebohkan dari negeri Panda ini juga mengakibatkan pasangan NZD/USD tumbang 0.64 persen ke kisaran 0.6812, serta melonjakkan mata uang Safe Haven seperti Dolar AS dan Yen Jepang.

AUDUSD Daily

Dolar Australia sempat menguat tipis pada awal perdagangan sesi Asia, sehubungan dengan data ketenagakerjaan yang lebih baik dari ekspektasi serta rumor bahwa Amerika Serikat dan China telah mulai menyusun MoU untuk menyelesaikan konflik perdagangan mereka. Namun, efek kedua faktor yang relatif bullish itu langsung runtuh setelah merebak kabar bahwa Dalian Port Group takkan mengizinkan batu bara Australia masuk pabean, meski tetap mengizinkan batu bara Rusia dan Indonesia untuk diproses seperti biasa. Pelabuhan-pelabuhan lain di China juga telah meningkatkan masa clearing bagi batu bara Australia menjadi 40 hari.

Peraturan yang secara tidak langsung menjadi larangan impor bagi batu bara Australia tersebut berlaku mulai awal Februari hingga waktu yang belum ditentukan pada lima pelabuhan yang dipantau Dalian, yaitu pelabuhan Dalian, Bayuquan, Panjin, Dandong and Beiliang. Selain itu, pelabuhan Dalian juga membatasi impor batu bara pada level 12 juta ton sepanjang tahun 2019. Padahal, tahun lalu, Dalian menangani sekitar 14 juta ton batu bara yang setengahnya bersumber dari Australia.

Perlu diketahui, batu bara merupakan komoditas ekspor terbesar kedua Australia setelah bijih besi. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pengumuman ini merupakan pukulan dahsyat bagi perekonomian Australia yang berbasis ekspor.

287476

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


22 Feb 2019

28 Feb 2019