Pemilu Uni Eropa 2019 Mengancam Posisi Euro Dan Poundsterling

Pemilu Uni Eropa 2019 yang dimulai hari ini, akan membayangi pergerakan berbagai pair Euro dan Poundsterling, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Euro melemah terhadap mayoritas mata uang mayor menjelang digelarnya pemilu Uni Eropa. Saat ulasan ini ditulis pada awal sesi Eropa (23/Mei), pair EUR/USD telah terbanting kembali ke rekor terendah bulan ini pada level 1.1133, sementara EUR/JPY tersungkur 0.15 persen ke level 122.88, dan EUR/CHF tergelincir 0.1 persen ke level 1.1246. Euro hanya unggul versus Poundsterling, karena pemilu Uni Eropa ini menghadirkan risiko yang lebih besar lagi bagi Inggris. Mengapa event politik ini jadi sorotan pasar?

 

Ancaman Destabilisasi Uni Eropa

Krisis utang Yunani beberapa tahun lalu diikuti dengan peningkatan sentimen anti-Uni Eropa yang dikenal dengan istilah Eurosceptic. Dalam pemilu kali ini, partai-partai yang berkarakter Eurosceptic dikhawatirkan bakal meraup jatah cukup besar dari total 751 kursi yang tersedia di parlemen Uni Eropa. Padahal, parlemen Uni Eropa mendatang akan membuat beragam keputusan krusial, termasuk upaya penyelesaian masalah perbatasan, otonomi nasional, serta hubungan Inggris dengan Uni Eropa.

Pemilu Uni Eropa 2019

Kemenangan kubu pro-Brexit dalam referendum tahun 2016, dinilai sebagai salah satu kemenangan terbesar Eurosceptic. Bentrok soal defisit anggaran Roma vs Brussels baru-baru ini semakin mengekspos kelemahan model supranasional Uni Eropa. Sebaliknya, pamor para politisi pro-Uni Eropa seperti Presiden Prancis Emmanuel Macron justru merosot akibat kegagalan mereka memenuhi janji-janji kampanye.

Berdasarkan polling terbaru, kubu Eurosceptic diperkirakan memenangkan sekitar sepertiga kursi dari keseluruhan parlemen Uni Eropa. Apabila prediksi itu tepat, maka akan menjadi ancaman lebih besar bagi integritas Uni Eropa. Pasalnya, mereka bisa menghalangi pengesahan perundangan-perundangan vital dan memaksa perombakan atas peraturan yang sudah ada.

Beberapa waktu lalu, Deputi PM Italia Matteo Salvini telah menyampaikan ancaman akan mengobrak-abrik aturan fiskal Uni Eropa mengenai ambang utang publik, apabila partainya menang. Padahal tanggungan utang Italia termasuk yang paling besar dan paling rentan default di benua Eropa. Ini merupakan salah satu contoh konkrit mengenai betapa besarnya risiko pemilu Uni Eropa 2019 bagi outlook fundamental Euro.

 

Dampak Hasil Pemilu Uni Eropa Sukar Diprediksi

Apakah ini artinya Euro akan anjlok jika kubu Eurosceptic menang? Belum tentu. Kaum Eurosceptic berasal dari golongan sayap kanan, sisi politik yang sama dengan Presiden AS Donald Trump dan koalisi petahana yang baru saja memenangkan pemilu Australia. Sebelum kemenangan Trump versus Clinton di bursa pilpres AS, sempat muncul kekhawatiran kalau Greenback bakal anjlok jika ia menang; tetapi nyatanya Dolar AS malah reli spontan setelah hasil pemilu diumumkan.

Kathy Lien dari BK Asset Management mencatat, "Sulit untuk mengatakan (apakah Euro akan menguat atau melemah jika ada dukungan besar bagi Eurosceptic), tetapi jelas bahwa kita tak bisa mengasumsikan kalau kemenangan mereka akan negatif bagi mata uang ini. Hasil pemilu akan terungkap perlahan, jadi breakout akan terbatas hingga hari Minggu, dimana di sana bisa jadi akan ada gap terbuka."

Sejumlah analis lain menilai kalau besarnya risiko yang diusung oleh pemilu Uni Eropa akan terus menekan Euro hingga pengumuman rekapitulasi hasil pemilu pada hari Minggu. Secara khusus, peluang trading Euro versus trio safe haven Yen, Franc, dan Dolar AS; bakal laris manis di kalangan spekulan. Selain itu, pair EUR/GBP juga akan disoroti karena sebagian arah perkembangan negosiasi brexit berikutnya bakal ditentukan oleh para petinggi Uni Eropa.

 

Barometer Minat Brexit di Inggris

Tokoh Eurosceptic yang jadi aktor utama di balik kubu pro-Brexit, Nigel Farage, telah mendirikan partai Brexit untuk bersaing memperebutkan suara di ajang pemilu Uni Eropa kali ini. Sejalan dengan itu, perolehan suara kubu Eurosceptic di Inggris akan menjadi barometer terkait minat rakyat Inggris untuk hengkang dari Uni Eropa, sekaligus mengukur tingkat kepuasan mereka terhadap pemerintah petahana dari partai Konservatif yang terpecah-belah.

"Perolehan yang tinggi bagi partai Brexit akan dibaca sebagai dukungan para pemilih bagi 'hard brexit', dan semestinya akan meningkatkan kekhawatiran pasar kalau model kesepakatan seperti itu akan muncul lagi di meja perundingan serta memperburuk outlook GBP," kata Jan von Gerich, seorang analis dari Nordea Markets.

288636

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


1 Ags 2019

15 Jul 2019

5 Ags 2019