Penjualan Ritel AS Negatif, Catat Penurunan 3 Bulan Beruntun

Retail Sales mengecewakan ekspektasi kenaikan. Data itu lagi-lagi berada di zona merah dan menempatkan Penjualan Ritel AS di posisi negatif.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Departemen Perdagangan AS pada hari Rabu (14/Maret) merilis data Retail Sales yang secara tidak terduga mencatatkan penurunan tiga bulan secara beruntun pada bulan Februari. Kabar ini menambah bukti bahwa kemungkinan belanja konsumen akan sedikit menurun pada kuartal pertama 2018.

 

Penjualan ritel AS negatif

 

 

Penjualan Ritel AS negatif di -0.1 persen, bertolak belakang dengan ekspektasi ekonom dalam sebuah jajak pendapat Reuters sebelumnya, yang memprediksi kenaikan 0.3 persen selama periode Februari. Kondisi tersebut tidak jauh berbeda jika dibandingkan dengan rilis bulan Januari yang mencatatkan penurunan -0.1 persen (direvisi naik dari penurunan -0.3 persen).

Analis berpendapat jika konsumen AS mungkin sedikit "mengambil nafas" setelah kenaikan suku bunga akhir tahun lalu, yang berimbas juga terhadap peningkatan biaya pinjaman. Selain itu, faktor lain yang disebut turut mempengaruhi adalah tren kenaikan upah yang tidak sebaik ekspektasi.

Sementara itu, data Penjualan Ritel AS yang tidak memperhitungkan penjualan otomotif dan bahan bakar (Core Retail Sales) masih mencatatkan kenaikan sebesar 0.2 persen, sedikit di bawah ekspektasi ekonom yang memprediksi naik 0.4 persen. Rilis Penjualan Ritel Inti periode Januari direvisi naik dari 0.0 persen menjadi 0.1 persen.

 

Inflasi Produsen AS Februari Naik Moderat

Dalam laporan terpisah, Departemen Tenaga Kerja AS juga merilis data Producer Price Index (PPI) bulan lalu, yang mencatatkan kenaikan sebesar 0.2 persen. Angka itu berada sedikit di atas ekspektasi kenaikan 0.1 persen. Secara keseluruhan, Inflasi di tingkat produsen AS naik secara moderat, menyusul kenaikan 0.4 persen pada bulan Januari lalu.

Dalam kurun waktu satu tahun terakhir hingga Februari, kenaikan PPI bertambah menjadi 2.8 persen YoY, dari kenaikan 2.7 persen YoY di bulan Januari. Sementara itu, rilis data Core PPI bulan Februari mengalami kenaikan 0.2 persen, sesuai dengan ekspektasi ekonom, tetapi lebih rendah dari peningkatan 0.4 persen di bulan sebelumnya.

Kenaikan moderat Inflasi Produsen AS bulan lalu dikarenakan oleh peningkatan biaya jasa yang dapat mengimbangi penurunan harga barang. Selama Februari, biaya jasa naik 0.3 persen yang sebagian besar berasal dari kenaikan harga akomodasi hotel, biaya layanan rumah sakit, tarif penerbangan, dan layanan telekomunikasi.

Di sisi lain, harga barang tergelincir -0.1 persen selama Februari, setelah mencatatkan kenaikan 0.7 persen pada bulan sebelumnya. Hal itu menjadi penurunan pertama sejak periode Mei 2017 lalu. Penurunan harga barang sebagian besar berpusat pada sektor grosir dan harga bahan bakar.

282832

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.