Advertisement

iklan

Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

iklan

iklan

Dolar AS terimbas oleh laporan Belanja Konsumen AS yang meleset dari ekspektasi, sedangkan trader EUR/USD menantikan laporan inflasi Zona Euro nanti sore.
Risiko resesi bikin investor cari aman. Alhasil Dolar AS, franc Swiss, dan yen Jepang menguat secara moderat terhadap mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi.
Dolar AS melemah lantaran penurunan proyeksi terminal rate, tetapi mata uang mayor lain juga menghadapi risiko besar ke depan.
Zona Euro tengah mengalami kesulitan ekonomi, sehingga mendorong pelaku pasar untuk memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga ECB dan menjual EUR/USD.
Pasangan-pasangan mata uang utama berkonsolidasi hari ini, sementara upaya pemulihan kurs dolar AS terhalang oleh liburan.
Pengumuman suku bunga Swiss dan Inggris kemarin menjadi katalis bearish yang memukul dolar AS dalam beragam pasangan mata uang mayor.
Kenaikan suku bunga The Fed malah diikuti dengan aksi jual atas dolar AS. Kurs GBP/USD dan AUD/USD membukukan kenaikan paling besar di antara major pairs.
Kenaikan inflasi dan yield obligasi memberi energi ekstra bagi dolar AS. Greenback melumpuhkan yen Jepang dan mata uang mayor lain pada perdagangan awal pekan.
Data inflasi AS tetap fantastis pada Mei 2022, sehingga mendukung ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan nilai tukar dolar AS.
Pelaku pasar cenderung wait-and-see menantikan publikasi data inflasi AS nanti malam serta rapat The Fed pada pekan depan.
Euro mempertahankan posisi pada kisaran 1.0730-an di tengah ketidakpastian proyeksi suku bunga ECB, sementara yen babak belur.
Laporan ketenagakerjaan dari ADP menumbuhkan kekhawatiran terhadap rilis data Non-farm Payroll AS pada akhir pekan.
Dolar AS mencuat berkat peningkatan minat atas aset safe haven, depresiasi euro, serta perbaikan dalam data ekonomi AS terbaru.
Retorika Federal Reserve dan Data GDP AS yang buruk membuat para trader menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada paruh kedua tahun ini.
Indeks dolar AS telah meningkat sampai kisaran 102.13 di tengah penantian pasar menjelang serangkaian rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat.
Euro dan Franc Swiss unggul berkat pernyataan pejabat bank sentral terkait rencana kenaikan suku bunga dalam tahun ini. Sementara itu, dolar AS rontok akibat beragam faktor.
GBP/USD meroket sekitar 1.3 persen sampai level tertinggi sepekan pada 1.2485, sementara EUR/GBP anjlok 0.8 persen ke kisaran 0.8400.
Pelaku pasar memilih ambil untung di tengah perbaikan sentimen pasar setelah lockdown Shanghai diumumkan akan segera berakhir.
EUR/USD menstabilkan posisi pada kisaran 1.0396 saat berita ini ditulis, tetapi tadi malam sempat menyentuh rekor terendah sejak Januari 2017.
Data inflasi AS April 2022 menunjukkan pertumbuhan lebih tinggi daripada perkiraan konsensus, sehingga suportif bagi prospek suku bunga The Fed dan dolar AS.
Tiga faktor utama berkontribusi dalam situasi pasar forex saat ini, yakni apresiasi dolar AS serta rontoknya bursa saham dan komoditas utama dunia.
Partisipan rapat FOMC menaikkan suku bunga sebanyak 50 basis poin sesuai ekspektasi, tetapi mengeliminasi spekulasi seputar Fed rate hike yang lebih agresif.
Dolar AS saat ini melemah dalam semua pasangan mata uang mayor kecuali USD/CHF. Pasar sedang menatikan pengumuman hasil rapat FOMC nanti malam.
RBA mengumumkan kenaikan suku bunga dalam jumlah lebih besar daripada perkiraan konsensus, sehingga memberi support bagi dolar Australia.
Dolar AS tetap berpeluang mengakhiri April dengan penguatan bulanan paling impresif dalam dua dekade terakhir.