Profil Penulis : Brianika

Sudah terjun di dunia jurnalis sejak 2013. Aktif menulis di media cetak, online, dan website pribadi dengan berbagai macam topik. Selain itu, juga trading saham sejak 2018.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Strategi forex H1 dari Jim Brown dengan menggunakan time frame 1 jam ini seringkali menghasilkan profit. Namun, ada beberapa poin yang perlu diperhatikan.
Penandatanganan negosiasi dagang AS-China fase pertema berpeluang ditunda hingga Desember. London dibidik sebagai salah satu lokasi potensial.
Rupiah menguat signifikan, salah satunya karena BPS merilis data pertumbuhan ekonomi yang menunjukkan angka lebih tinggi dibandingkan perkiraan.
RBA secara resmi mengumumkan untuk mempertahankan suku bunga acuan di level 0.75%. Tingkat inflasi dan sektor tenaga kerja menjadi perhatian utama.
Rilis data penjualan ritel Australia bulan September hanya sementara menekan AUD/USD. Pasangan mata uang ini cepat bangkit karena didukung optimisme yang masih tersisa dari positifnya rilis data pekan lalu.
Rupiah terus mengalami penurunan pada perdagangan akhir pekan ini. Kondisi tersebut terjadi setelah rilis data inflasi dan PMI Manufaktur.
Di luar ekspektasi, PMI Manufaktur China melaju pesat ke levet tertinggi dalam 2 tahun terakhir, didorong oleh kenaikan permintaan asing dan domestik.
Trader dapat meraup profit hanya dalam hitungan menit, salah satu caranya menggunakan strategi trading Momo. Bagaimanakah ulasan selengkapnya?
Para pemimpin negara yang tergabung dalam Uni Eropa akan melakukan pertemuan hari ini untuk menyepakati perpanjangan deadline Brexit.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS bergerak dalam zona terbatas. Ada faktor yang menurunkan nilai tukar, ada juga faktor positif yang menopang penguatannya.
Akhir pekan dapat dimanfaatkan untuk memaksimalkan analisa trading. Bagaimana caranya? Simak dalam cara analisa forex mingguan ala Nial Fuller berikut.
Meski mendapat banyak perlawanan, PM Inggris Boris Johnson masih optimis jika deal Brexit bisa tercapai sesuai deadline pada 31 Oktober.
Hasil voting parlemen Inggris yang meminta perpanjangan batas waktu Brexit membuat pasar kembali bingung. Pound pun melemah.
Pertumbuhan ekonomi China mencapai rekor terendah 27 tahun, memicu urgensi bagi pemerintah untuk merencanakan langkah yang menangkal perlambatan lebih lanjut.
Departemen Statistik Australia merilis data tingkat pengangguran yang melemah ke 5.2%. Namun, kenaikan jumlah tenaga kerja lebih rendah dari ekspektasi.
CPI New Zealand lebih tinggi dibandingkan nilai ekspektasi. Namun, NZD justru melemah terhadap USD karena wacana Rate Cut RBNZ masih mendominasi.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS terus mengalami penurunan seiring dengan rilis data neraca perdagangan yang defisit
Para petinggi RBA memang sepakat melakukan pemotongan suku bunga. Namun, ada perdebatan yang dipicu oleh kekhawatiran terhadap efek suku bunga rendah.
Berlangsungnya perang dagang AS-China membuat laju ekspor negeri tirai bambu menurun. Meski begitu, perdagangan China masih surplus di bulan September.
Nilai tukar Rupiah versus Dolar AS mengalami penguatan tipis. Pertemuan dagang AS-China yang diliputi sentimen positif mendongkrak minat risiko pasar, sehingga memperkuat Rupiah.
Puncak negosiasi dagang AS-China berlangsung selama dua hari ini. Pertemuan para petinggi kedua negara dikabarkan berjalan dengan baik.
Hasil notulen dari pertemuan FOMC 17-18 September yang dirilis kemarin menunjukkan naiknya kekhawatiran pejabat Fed terhadap potensi resesi AS.
Data sentimen konsumen Australia rilisan Westpac untuk bulan Oktober 2019 turun ke level terendah 4 tahun. Namun, Dolar Australia malah menguat terhadap Dolar AS.
Pertemuan awal AS-China pada awal pekan ini belum menghasilkan sinyal perdamaian. Peluang kesepakatan justru meredup setelah pemerintah AS memblokir beberapa perusahaan China.
Ekonomi AS memang sedang mengalami perlambatan, tapi Esther George mengklaim The Fed perlu melakukan pemangkasan suku bunga lagi untuk mengantisipasinya.