Advertisement

iklan

Profil Penulis : Nadia

Nadia adalah trader forex part-time yang menyukai analisa fundamental. Penyuka instrumen gold ini gemar memburu promosi dan bonus dari broker-broker forex. Saat ini, Nadia sedang mendalami trading saham.
FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Harga emas tak banyak berubah. Pasar mengamati sejumlah bank sentral yang telah dan akan mengumumkan kebijakan moneternya.
Harga emas naik di sesi perdagangan merespon pernyataan Steven Mnuchin yang dinilai menyiratkan ketidakpastian perjanjian AS-China.
Pakta perdagangan Fase Satu AS-China akan segera ditandatangani. Di tengah penantian pasar akan sinyal kesepakatan fase berikutnya, PPI AS dirilis di bawah ekspektasi.
Inflasi CPI AS turun dari periode sebelumnya, tapi dalam kisaran yang sesuai ekspektasi. Dolar AS terpantau stabil karena ditopang optimisme dagang AS-China.
Meski naik, harga emas terbentur oleh reli Dolar AS yang masih bertahan dan mendinginnya tensi AS-Iran.
Menurunnya angka Non Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang dirilis pada hari Jumat malam ini, tak memberikan tekanan berarti bagi Dolar AS.
Dolar AS menguat setelah Presiden AS Donald Trump tak menunjukkan minat untuk berperang. Sementara itu, data ADP Employment AS juga meningkat.
Harga emas naik begitu Iran menyerang markas militer AS di Irak. Namun, logam mulia turun lagi, terutama setelah Trump tak menunjukkan minat perang.
Iran belum memaparkan bentuk pembalasan terhadap AS secara lebih rinci, sementara PMI Jasa AS versi ISM melesat ke level 55 di bulan Desember.
Terbunuhnya Jenderal Iran akibat serangan udara yang didalangi AS, membuat para investor berbondong-bondong membeli emas sebagai aset safe haven.
PMI ISM Manufaktur AS yang mengecewakan tak begitu melemahkan Indeks Dolar. Pasar masih fokus pada serangan AS kepada Iran.
Harga emas naik ke level tertinggi tiga bulan, menerobos sentimen risiko yang mulai tumbuh di awal tahun 2020 ini.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan bahwa penandatangan pakta perdagangan Fase Satu dengan China akan dilaksanakan pada 15 Januari 2020.
Sentimen bearish mendominasi Dolar AS jelang penutupan tahun 2019 ini. Rilis indikator ekonomi AS yang dirilis tak mampu mendongkrak mata uang tersebut.
Di hari terakhir 2019, performa emas makin gemilang. Harga logam mulia tersebut terus merangkak naik hingga sesi perdagangan Selasa (31/Desember) dini hari.
Dalam rangkuman prediksi harga emas di tahun 2020, sebagian besar memperkirakan bahwa harga emas akan lebih tinggi daripada di tahun 2019.
Jeda di pasar ekuitas dan ketidakpastian AS-China membuat harga emas melambung meski pasar sedang sepi dalam rangka libur Natal.
GDP Kanada jatuh ke -0.1 persen. Para analis pun memperkirakan jika Bank of Canada (BoC) akan semakin tertekan untuk memotong suku bunga.
Baik AS maupun China belum memastikan tanggal pakta dagang akan ditandatangani. Situasi ini dianggap sebagai peningkatan ketidakpastian, sehingga harga emas naik.
Walaupun data ekonomi AS menunjukkan penurunan, tetapi Dolar AS hari ini tak bearish karena minimnya likuiditas jelang libur panjang.
Harga emas berakhir dalam trend ranging di sesi perdagangan akhir pekan. Ketidakpastian hubungan dagang AS-China masih menopang permintaan emas saat ini.
Data GDP Final dan Personal Spending Amerika Serikat dinilai cukup positif, sehingga Dolar AS naik di sesi perdagangan akhir pekan ini.
Dolar Kanada menjadi satu-satunya mata uang mayor yang mampu menekan Dolar AS malam ini, berkat data-data inflasi Kanada yang lebih tinggi daripada ekspektasi BoC.
Poundsterling yang melemah akibat isu Brexit, menjadi penunjang Dolar AS. Selain itu, data JOLTS yang sesuai ekspektasi turut menjaga stabilitas mata uang AS tersebut.
Meredanya tensi AS-China pasca pembatalan tarif impor tak lantas membuat harga emas merosot. Hal ini karena pasar masih menanti rincian kesepakatan dagang yang lebih spesifik.