Profil Penulis : Royan Aziz

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Beberapa isu penting terjadi selama bulan November. Mulai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih lambat sebesar 5.01% di kuartal III, hingga kenaikan harga BBM bersubsidi. Dari luar negeri pun, terdapat berbagai kabar mengenai perkembangan ekonomi terkini yang akan mempengaruhi perekonomian global.
Akhirnya, Senin (17/11) Presiden Joko Widodo memutuskan untuk memangkas besarnya subsidi bahan bakar minyak hingga Rp 100 triliun. Dengan dana sebesar itu, pemerintah dinilai siap merealisasikan sejumlah proyek infrastruktur. Terealisasinya berbagai proyek besar tersebut dinilai akan mendatangkan keuntungan tersendiri untuk emiten BUMN konstruksi dan pendukungnya, termasuk WIKA BETON (kode saham WTON)
Pekan sebelumnya, pergerakan IHSG lebih dipengaruhi faktor dalam negeri. Seperti keputusan pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi, dan keputusan BI untuk menaikkan BI Rate menjadi 7.75% guna mengantisipasi inflasi yang lebih tinggi pasca kenaikan tersebut. Sementara itu, sejumlah kemelut tengah membayangi raksasa ekonomi Asia, yaitu China dan Jepang.
Di tengah ancaman perlambatan ekonomi Indonesia pasca kenaikan harga BBM bersubsidi, pencapaian pendapatan dan belanja pemerintah hingga kuartal ketiga 2014 dan neraca pembayaran Indonesia yang positif sedikit memberi angin segar.
Tahun 2014 merupakan tahun gain-nya emiten konstruksi di Bursa Efek Indonesia. Bagaimana tidak, perdagangan dari awal tahun hingga pertengahan November 2014, saham-saham emiten ini sudah naik dengan rata-rata kenaikan 50% lebih. Bahkan, harga saham emiten WSKT naik hingga 144%.
PT Gudang Garam, Tbk (kode saham GGRM) adalah perusahaan rokok yang sahamnya ditransaksikan di Bursa Efek Indonesia. Saham Gudang Garam termasuk blue chips dengan nilai kapitalisasi pasar hingga akhir kuartal tiga tahun 2014 tercatat sebesar 109 triliun. Sehingga, pergerakan saham Gudang Garam akan secara langsung berpengaruh terhadap gerak IHSG, meskipun pengaruhnya tidak begitu signifikan.
Perdagangan di minggu pertama November ini IHSG mengalami pelemahan sebesar 1.41%. Pelemahan ini tidak terlepas dari rilis laporan keuangan emiten tercatat yang menunjukan pelemahan kinerja. Selain itu, pelemahan IHSG sepekan juga karena rilis laporan perekonomian Indonesia yang menunjukan bahwa perekonomian Indonesia masih melemah.
Pada laporan kuartal tiga 2014 kemarin, ketika emiten-emiten lain sedang mengalami pelemahan, emiten sawit malah mencatatkan kinerja sebaliknya. Mayoritas emiten sektor ini melaporkan peningkatan kinerja yang cukup signifikan, mulai dari pendapatan hingga laba bersih.
Berbagai kabar dari dalam dan luar negeri menyambut bursa pagi ini. Diantaranya adalah hasil rapat kebijakan moneter di AS dan Jepang, serta beragam isu ekonomi dalam negeri. Laporan kinerja emiten Bursa Efek Indonesia akhir pekan kemarin sepertinya juga baru akan direspon pasar pada pekan ini. Deretan laporan ekonomi Indonesia yang akan dirilis dalam minggu ini pun dinanti pasar.
Beberapa berita besar baik dalam negeri, regional maupun global yang terjadi sejak awal November, membuat Bursa Efek Indonesia dan juga bursa saham dunia bergerak seperti roller coaster, naik turun dengan begitu cepatnya. Pekan ini, investor di dalam negeri masih menanti laporan kinerja emiten dan kenaikan harga BBM.
PT Unilever Indonesia Tbk (kode saham UNVR) merupakan perusahaan Fast Moving Consumer Goods (FMCG) terkemuka. Kinerja perdagangan saham UNVR di Bursa Efek Indonesia pun cukup memberikan keuntungan bagi pemegang sahamnya.
Besarnya jumlah penduduk dan tingkat konsumsi masyarakat menjadikan Indonesia dikenal dunia sebagai target pasar potensial. Pilihan investasi pada saham sektor konsumsi bisa menjadi alternatif isi portofolio ketika investasi di sektor lain masih menunjukan pelemahan kinerja.
Margin laba atau Net Profit Margin adalah perbandingan total jumlah laba bersih dengan total jumlah pendapatan perusahaan. Istilah ini juga dikenal dengan singkatannya, NPM.
Sepekan sebelumnya, Zona Eropa memanas dan IMF memangkas ekspektasi ekonomi global membuat bursa global bergerak dengan volatilitas yang tinggi. Pergerakan yang sangat liar tersebut, membuat pergerakan bursa saham Indonesia ikut bergerak seirama. Apalagi, sentimen politik dalam negeri ikut mempengaruhi pergerakan IHSG.
Ada yang bilang, perusahaan menarik itu adalah yang menghasilkan laba bersih paling tinggi. Benarkah demikian?
Perdagangan bursa saham sudah memasuki kuartal 4 tahun 2014. Sebentar lagi, emiten-emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan merilis laporan kinerja sampai kuartal ketiga tahun ini. Namun, sebelum menganalisa laporan keuangan yang sebentar lagi keluar tersebut, yuk kita lihat kembali bagaimana kinerja emiten konstruksi di semester pertama yang lalu.
Bursa saham global dan regional sepekan kemarin bergerak liar bak roller coaster, naik cukup tinggi dan begitu turun langsung nyungsep dalam. Begitu banyak isu penting keluar dalam sepekan lalu. Berikut ini review kondisi ekonomi Dunia yang mempengaruhi pasar keuangan selama seminggu yang lalu.
Walau Indosat dan XL Axiata memilih melego menaranya, nampaknya Telkom lebih suka mengembangkan anak usaha dengan mencari mitra strategis. Hal ini sudah dilakukan Telkom ketika menggandeng Transvision Group untuk mengembangkan Telkom Vision. Dengan strategi yang sama, perusahaan ini akan membesarkan bisnis anak usaha Telkom yang lain, termasuk bisnis menara Mitratel.
Di penghujung akhir perdagangan bulan September, berbagai isu negatif dan positif semakin banyak berdatangan. Dari dalam maupun luar negeri, terjadi perubahan-perubahan proyeksi ekonomi yang cukup penting. Agar Indonesia tidak kembali ke situasi 1997/1998, diharapkan pemerintah segera menata kembali fundamental ekonomi Indonesia. Selain pemerintah, parlemen juga diharapkan dapat segera menyelesaikan kisruh politik yang sedang terjadi.
Belum jelas apakah saham CPGT maupun saham BWPT akan naik atau malah turun. Namun, ada pembelajaran yang bisa kita raih dari pergerakan harga kedua saham tersebut tahun ini.
Closing price perdagangan Jumat (26/9) kemarin mengantarkan saham BWPT di harga terendah tahun ini, yaitu 460. Dengan demikian, sepanjang tahun 2014 saham BWPT melemah hingga 65%. Ada beberapa masalah yang membayangi perusahaannya, PT BW Plantation Tbk. Namun demikian, saham BWPT dari sektor agri ini masih menarik.
PT Lippo Cikarang, Tbk (kode saham LPCK) adalah perusahaan terbuka berfokus bisnis sebagai pengembang kawasan industri, komersial maupun residensial. Member of Lippo Group ini berkembang menjadi kota mandiri dengan industri sebagai basis ekonomi yang solid. Bagaimana dengan valuasi saham LPCK?
Selama sepekan, IHSG berhasil menguat 1,63%. Artikel berikut akan memaparkan beberapa catatan selama sepekan terakhir yang perlu diperhatikan antara lain.
SidoMuncul (kode saham SIDO) adalah satu-satunya produsen jamu yang terdaftar di bursa. Emiten pharmaceutical ini mempunyai sejumlah poin menarik. Beban hutang perseroan minimal, dan baru-baru ini berhasil membagikan 99.5% laba bersih untuk pembayaran dividen kepada pemegang saham.
Mayoritas penduduk NKRI belum menginvestasikan uangnya di pasar modal. Ini bisa jadi karena mereka belum tahu apa itu pasar modal dan bagaimana cara berinvestasi di pasar modal.