Advertisement

iklan

Pindah Trading Online, Bursa Efek Hong Kong Akan Ditutup

Penutupan lantai Bursa Efek Hong Kong (HKEX) ini disebabkan karena perdagangan saham masa kini sudah beralih ke transaksi elektronik.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex.com - Lantai Bursa Efek Hong Kong (HKEX) akan ditutup pada bulan Oktober mendatang. Menurut laporan South China Morning Post, penutupan lantai bursa ini disebabkan karena proses trading masa kini sudah beralih ke transaksi elektronik, termasuk untuk perdagangan saham. Para pelaku pasar tidak lagi merasa perlu "menyewa meja" dan hadir di bursa untuk jual-beli bermacam-macam aset finansial.

 

Bursa Efek Hong Kong HKEX

 

Diubah Jadi Tempat Pameran

Pada puncak masa kejayaannya, Bursa Efek Hong Kong yang berperingkat nomor dua di dunia setelah NYSE ini, sempat menaungi lebih dari 900 broker dalam satu atap. Namun, kini tinggal 62 broker yang "menyewa meja" di lantai bursa, karena kebanyakan aktivitas trading sudah dilakukan secara elektronik. Bahkan, kehadiran rata-rata harian hanya sekitar 30 trader saja, walaupun ada lebih dari 500 broker di komunitas keuangan Hong Kong. Tak dapat dielakkan, operasional lantai bursa secara fisik dinilai kurang atraktif.

 

Top 10 Bursa Efek Global

 

Hong Kong Exchanges and Clearing, yang mengoperasikan lantai Bursa Efek Hong Kong, telah mengirim notifikasi pada para broker yang masih berkantor di sana untuk segera pindah. Dengan langkah penutupan ini, Hong Kong mengikuti jejak Tokyo dan Singapura yang tak lagi menjalankan lantai bursa konvensional.

Menurut Juru Bicara HKEX, lokasi bursa akan diperbarui dan diubah menjadi "pameran finansial" untuk mempromosikan pasar keuangan Hong Kong dan sejarahnya. Katanya, "Lokasi ikonik ini akan direka ulang untuk upacara, pameran, konferensi, dan edukasi investor."

 

Karena Trading Bisa Via Komputer

Christopher Cheung Wah-fung dari Christfund Securities, salah satu dari segelintir broker yang masih mempertahankan sewanya di lantai bursa HKEX hingga kini, mengungkapkan, "Saya merasa sedih melihat (lantai bursa) ditutup karena saya besar di sana. Dulu saya memakai jaket merah yang terkenal itu dan berkeliling lantai bursa sebagai trader di masa muda saya. Namun kini, teknologi sudah berkembang sedemikian pesatnya hingga semua trading bisa dilakukan via komputer dari kantor broker. Cukup beralasan bagi bursa untuk menutup lokasi guna keperluan lainnya."

Pergeseran tren dari trading manual ke online ini tidak terjadi secara mendadak. Jumlah trader di lantai bursa efek Hong Kong terus menurun sejak awal 2000an karena broker-broker lebih memilih untuk bekerja via komputer di kantor mereka.

Bagaimana dengan Indonesia?

Setelah penyatuan Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya menjadi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2007, lokasi kantor Surabaya kini difungsikan terutama sebagai tempat seminar. BEI masih menjalankan lantai bursa di Jakarta, tetapi juga memanfaatkan sistem perdagangan online JATS-NextG. Broker-broker saham Indonesia pun sudah mengembangkan sistem trading online, hingga trader dan investor saham tak perlu datang langsung ke kantor mulai dari proses pendaftaran hingga transaksi saham harian.

279885

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.