PMI Jasa China Versi Caixin Catat Laju Ekspansi Terlemah 3 Bulan

PMI Jasa China oleh Caixin pada bulan Mei mencatat laju pertumbuhan paling lemah sejak Februari 2019, terpukul oleh kemerosotan pesanan ekspor karena imbas perang dagang.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Berdasarkan laporan Caixin pada hari Rabu (05/Juni), aktivitas jasa China selama periode Mei 2019 tumbuh dalam laju terlemah tiga bulan terakhir. Pelemahan itu disebabkan oleh kemerosotan tajam dalam penjualan ekspor yang selama ini terpukul oleh perang dagang dengan AS, dan lemahnya permintaan dari negara-negara di kawasan Asia lainnya.

Caixin : PMI Jasa China Mei Catat Laju

Caixin yang secara khusus melakukan survei terhadap sektor Usaha Kecil Menengah (UKM) di China mengungkapkan bahwa Indeks PMI Jasa bulan Mei terperosok dari 54.5 ke 52.7, level terendah sejak Februari 2019. Meski masih di area ekspansi, kemerosotan kali ini menimbulkan kekhawatiran karena lebih rendah dari ekspektasi penurunan ke 54.3 saja.

 

Pesanan Ekspor Terus Melemah

Kemerosotan aktivitas jasa China pada bulan Mei sebagian besar disebabkan oleh penurunan indeks pesanan ekspor dari level tertinggi beberapa tahun pada 55.6, ke level 51.1. Sebagian besar perusahaan yang disurvei oleh Caixin mengakui bahwa tidak ada kenaikan berarti dalam penjualan ekspor di bulan Mei.

"Secara keseluruhan, perekonomian China menunjukkan perlambatan di bulan Mei. Ketenagakerjaan dan kepercayaan bisnis harus menjadi perhatian khusus para pembuat kebijakan," kata Zhengsheng Zhong, Direktur analisis ekonomi makro di CEBM Group.

Secara umum, rilis hasil survei Caixin pagi ini tidak jauh berbeda dengan rilis PMI Manufaktur dari Pemerintah yang menegaskan bahwa perekonomian China sedang menghadapi pelemahan permintaan global. Bahkan, pesanan ekspor dalam laporan resmi tersebut menunjukkan kontraksi terparah sejak Oktober 2018.

Analis berpendapat bahwa perlambatan aktivitas ekonomi China memberi sinyal buruk bagi perekonomian global yang saat ini tengah menghadapi risiko perang dagang antara AS dengan China dan banyak negara lainnya.

"Berlanjutnya ketegangan perdagangan global dan penurunan secara luas pada aktivitas manufaktur maupun Jasa, mengindikasikan bahwa risiko pelemahan ekonomi menjadi semakin terlihat," tutur analis Morgan Stanley dalam sebuah catatan minggu ini.

288746

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.