Advertisement

iklan

Positifnya NFP AS Tak Berarti FED Akan Naikkan Bunga

Dengan data Nonfarm Payroll terhitung bagus, maka FED dinilai punya alasan untuk menaikkan bunga lagi dalam waktu dekat. Namun, apakah memang demikian?

acy

iklan

Advertisement

iklan

Dolar terus menanjak sejak rilis data NFP akhir pekan lalu, terutama terhadap Yen. Pasalnya, dengan kondisi ketenagakerjaan yang terhitung bagus, maka FED dinilai punya alasan untuk menaikkan bunga lagi dalam waktu dekat, biarpun bulan lalu ekspektasi akan diambilnya kebijakan itu sempat surut. Namun, apakah memang demikian?

Suku Bunga AS - ilustrasi

Nonfarm payroll (NFP) merupakan indikator ketenagakerjaan khas Amerika Serikat yang menunjukkan jumlah pekerjaan di semua sektor kecuali pertanian, PNS, LSM, dan rumah tangga. Dilaporkan dalam periode bulanan, NFP acap kali dinilai menyajikan outlook ter-update tentang kondisi ekonomi AS, sehingga menjadi salah satu indikator fundamental dengan impact paling besar.

Angka NFP Juli yang dirilis di pekan pertama Agustus kemarin memang sangat menggiurkan. Tak hanya payroll yang nangkring di angka 225k, mendepak ekspektasi 180k, tetapi Average Hourly Earnings yang menjadi indikator pertumbuhan gaji juga naik melampaui estimasi hingga 0.3%. Walaupun angka NFP Juli tak setinggi bulan Juni, tetapi banyak dianggap bullish dan membuka kemungkinan FED bisa mempertimbangkan kenaikan suku bunga lagi pada bulan September.

Akan tetapi, jelas bakal terlalu dini bagi FED (maupun kita) untuk membayangkan kenaikan suku bunga dalam waktu dekat. Sedikitnya ada tiga alasan mengapa FED takkan buru-buru menaikkan suku bunga biarpun NFP tampil prima:

 

1. Inflasi Masih Rendah

Dalam sebuah catatan yang dipublikasikan efxnews, analis Morgan Stanley meyakini bahwa Dolar AS masih bearish sekaligus menyatakan, "Selama ekspektasi inflasi AS tetap rendah, FED kemungkinan takkan menaikkan suku bunga terlalu dini."

Laporan terakhir CPI bulan Juni masih flat pada 1% YoY, atau 0.2% MoM. Laporan bulan Juli baru akan dirilis tanggal 16 Agustus mendatang, dengan forecast stagnan pada 1% YoY meskipun naik 0.3% MoM.

 

2. Pemilu AS

Entah kebetulan yang menyenangkan atau tidak, Pemilu Presiden AS jatuh pada tahun ini, tepatnya tanggal 8 November 2016. Disebut-sebut sebagai pemilu paling sengit sepanjang sejarah AS, ada empat kandidat yang bakal berebut kursi Presiden: Hillary Clinton (Partai Demokrat), Donald Trump (Partai Republik), Gary Johnson (Partai Libertarian), dan Jill Stein (Partai Green).

Biarpun FED sebagai bank sentral merupakan lembaga independen dari pengaruh politis, tetap saja kecil kemungkinannya mereka akan mengusik situasi. Salah-salah, kalau suku bunga naik terlalu cepat, ekonomi goyang, lalu masyarakat malah jadi sentimen negatif pada calon yang separtai dengan incumbent Presiden Obama. Apalagi, perkara peran dan posisi FED pun termasuk salah satu topik yang kerap diperdebatkan diantara para kandidat.

 

3. Bank Sentral Lain Ramai-Ramai Pangkas Suku Bunga Dan Tambah Stimulus

Boris Schlossberg dari BK Asset Management menyebutkan bahwa dalam situasi dimana bank-bank mayor lainnya tengah melonggarkan kebijakan moneter mereka, FED bisa jadi akan enggan untuk mengetatkan kebijakan, meskipun fundamental ekonomi memadai. Mereka bisa jadi akan khawatir mengetatkan kondisi kredit global, karena status Dolar sebagai mata uang cadangan global berarti dampak tindakan FED akan meluas hingga lintas samudera.

Namun, Schlossberg sepakat bahwa FED ingin sesegera mungkin menjauh dari wilayah suku bunga rendah dan menormalisasi kebijakan, sehingga skenario yang paling mungkin adalah para pejabat FED akan mengirim sinyal pada rapat September bahwa mereka bakal menaikkan suku bunga pada bulan Desember. Meski demikian, apakah kebijakan itu akan sungguh-sungguh dilakukan saat tiba hari H yang diharapkan atau tidak, tetap tergantung pada kualitas data-data AS.

 

269983

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019

21 Mei 2019