Advertisement

iklan

Prelim GDP AS Kuartal IV Direvisi Turun Menjadi 2.5 Persen

Pertumbuhan ekonomi AS selama kuartal keempat tahun lalu direvisi turun. Hal ini rupanya berpangkal dari kenaikan impor.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Menurut laporan Prelim GDP yang dirilis oleh Departemen Perdagangan pada hari Rabu (28 Februari) di awal sesi New York, pertumbuhan ekonomi AS selama kuartal keempat tahun lalu direvisi turun. Penurunan itu terjadi lantaran adanya kenaikan nilai impor. Padahal, pengeluaran konsumen Negeri Paman Sam sedang berada dalam laju tercepat di tiga tahun terakhir.

 

Prelim GDP AS Kuartal IV Direvisi Turun

 

GDP AS berekspansi 2.5 persen selama periode tiga bulan terakhir 2017, direvisi turun dari First Release bulan lalu yang berada di level 2.6 persen. Departemen terkait melaporkan bahwa revisi turun mencerminkan persediaan yang lebih sedikit dibandingkan laporan sebelumnya, dan hal itu sudah sejalan dengan ekspektasi ekonom dalam sebuah polling Reuters.

Penurunan data Prelim GDP AS kuartal IV tahun 2017 disebabkan oleh melonjaknya nilai impor, sehingga mempengaruhi Trade Balance yang juga berimbas kepada perhitungan GDP. Impor tumbuh mencapai 14 persen, direvisi naik dari laporan sebelumnya yang kenaikan 13.9 persen. Ini menjadi kenaikan terbesar sejak 2010.

Di sisi lain, kokohnya belanja konsumen membatasi akumulasi inventories barang, dan belanja bisnis mencatatkan kenaikan 11.8 persen (direvisi naik dari 11.4 persen) yang menjadi laju tercepat sejak kuartal ketiga 2014. Namun, rilis data Durable Goods Orders kemarin (28 Februari) sepertinya akan menghambat momentum belanja bisnis Negeri Paman Sam di kuartal pertama 2018.


Masih Dianggap Wajar

Perekonomian AS telah mencatat akselerasi cukup signifikan hingga penghujung 2017 lalu. Namun yang terjadi saat ini justru sebaliknya. Ekonom berpendapat bahwa ekonomi AS telah kehilangan momentum lebih lanjut untuk mencatat pertumbuhan signifikan di awal tahun ini, setelah serangkaian rilis data Fundamental seperti Retail Sales, penjualan rumah, maupun pesanan barang tahan lama (Durable Goods Orders) mencatatkan pelemahan di bulan Januari.

Proyeksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama 2018 cenderung melemah karena fenomena musiman – seperti tahun-tahun sebelumnya— tetapi berpeluang akan kembali berakselerasi pada kuartal selanjutnya hingga akhir tahun. Hal ini wajar, mengingat program stimulus dengan paket pemotongan pajak senilai $1.5 trilliun baru dimulai.

Ekonom memprediksi pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama akan mencapai 1.8 persen, dan percaya target 3 persen dapat terwujud di akhir tahun. Hal itu kemungkinan akan "memaksa" Fed melakukan Rate Hike sedikit lebih agresif dari rencana awa

282615

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.