Proyeksi Dampak Perang Dagang AS-China Di Pasar Finansial Global

   By: A Muttaqiena    View:2131   Editorial Forex

Seputarforex.com - Tadi malam, Presiden AS Donald Trump mengumumkan akan menerapkan bea impor atas sekitar USD50-60 Milyar barang yang didatangkan dari China. Langkah tersebut diambil sebagai hukuman untuk pelanggaran hak kekayaan intelektual Amerika Serikat yang telah dilakukan China selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, AS juga akan mengekang ekspansi investasi China.

Langkah-langkah tersebut langsung memicu China meluncurkan serangkaian serangan balasan. Sementara itu, para ekonom memperingatkan bahwa perang dagang AS - China bisa merusak stabilitas ekonomi dunia, dan perekonomian AS harus menanggung dampak perang dagang yang tidak sedikit.

 

Proyeksi Dampak Perang Dagang AS-China

 

 

Bea Impor Pemicu Perang Dagang

Keputusan Donald Trump untuk menerapkan bea impor atas antara sebagian barang yang didatangkan dari China, dilakukan hanya beberapa waktu setelah pihaknya mengumumkan kenaikan bea impor logam. Awalnya, bea impor logam diharapkan dapat memukul China, tetapi nyatanya negeri Panda bukanlah pengirim logam terbesar ke AS. Oleh karenanya, AS kemudian mencari cara lain untuk menghantam China.

 

Pada hari Kamis (22/Maret), Trump menandatangani memorandum yang memerintahkan US Trade Representative (USTR) memilah produk China untuk diterapkan bea impor khusus, sembari mengatakan bahwa ini merupakan "awal dari banyak" tindakan yang akan diambil AS untuk memangkas defisit dagang dengan berbagai negara. Untuk menerapkan bea impor atas China, Trump mengutip perkara pencurian hak kekayaan intelektual (intellectual property theft) sebagai alasan.

 

Investigasi yang dilakukan AS menyimpulkan bahwa China telah nyata mencuri dan memaksa perusahaan-perusahaan AS untuk menyerahkan hak kekayaan intelektual mereka melalui serangkaian manuver terstruktur oleh pemerintahnya. Manuver tersebut antara lain meminta perusahaan-perusahaan AS untuk bermitra dengan perusahaan China sebelum mengakses pasar China, serta meretas jaringan komputer AS. Karena tindakan China khususnya berdampak pada perusahaan-perusahaan teknologi, maka bea impor akan diterapkan atas produk-produk terkait.

Bea impor atas China ini tidak akan langsung efektif dalam waktu dekat. Perwakilan dagang Amerika Serikat baru akan merilis daftar barang yang dikenai bea impor dalam tempo 15 hari ke depan, serta mengizinkan publik untuk memberikan komentar dan review selama 30 hari setelahnya.

Di mata ekonom, langkah Donald Trump kali ini merupakan tindakan proteksionisme dagang paling signifikan sejak ia dilantik. Dengan ini, ia perlahan-lahan mewujudkan janji-janji kampanye, termasuk pada poin-poin kontroversial yang ditentang oleh banyak pihak di dalam negeri AS dan dikhawatirkan dapat memicu perang dagang. Ketika ditanya mengenai dampak bea impor atas China bagi masyarakat AS, seorang pejabat senior dalam pemerintahan Trump mengatakan pada CNN bahwa efeknya minimal. Dalihnya, "Apabila dikalkulasikan secara lebih luas, kerusakan yang diakibatkan oleh pencurian kekayaan intelektual (malah) nyaris tak terhitung."

 

 

Langkah Balasan China

Hanya beberapa jam setelah Trump mengumumkan bea impor khusus atas produk China, negeri yang dipimpin Presiden Xi Jinping ini mengumumkan bea impor balasan atas barang senilai USD3 Milyar yang diekspor AS ke China, mencakup berbagai barang mulai dari besi baja hingga daging babi. Secara terperinci, Menteri Perdagangan China menyatakan akan mematok tarif 25% atas impor daging babi dan alumunium daur ulang, serta 15% atas pipa besi AS, buah-buahan, dan anggur. Selain itu, China juga akan mengajukan gugatan atas AS di World Trade Organization (WTO).

 

"Ini merupakan langkah pertama oleh China, mensinyalkan bahwa penerapan tarif impor oleh AS akan memicu respon balasan yang dipandang oleh Beijing cukup proporsional," kata Eswar Prasad, mantan pimpinan divisi China di IMF yang kini bekerja di Cornell University, pada Bloomberg, "China memiliki kemampuan untuk mengakibatkan kerusakan ekonomi signifikan bagi eksportir AS yang mendatangkan barang-barang tertentu, dan bisa menggunakan aksi terbuka maupun sembunyi-sembunyi lainnya seperti mengganggu jalur distribusi untuk merugikan perusahaan-perusahaan manufaktur AS."

 

Hal serupa disampaikan pula oleh Wei Jianguo, mantan wakil menteri perdagangan China yang kini menjadi deputi direktur eksekutif think-tank China Center for International Economic Exchanges, "China tidak takut dan tidak akan menghindari perang dagang. Kami memiliki banyak alat untuk balik melawan, di bidang impor mobil, kedelai, pesawat terbang, dan chip (elektronika). Di sisi lain, Trump harus tahu bahwa ini adalah ide yang sangat buruk, dan tidak akan ada pemenang, dan tidak akan memberikan hasil baik bagi kedua negara."

 

 

Proyeksi Dampak Perang Dagang AS-China Di Pasar Finansial

Apabila baku hantam AS-China dengan amunisi bea impor ini terus berlanjut dan direalisasikan hingga lebih dari sekedar pengumuman, maka perang dagang akan benar-benar terwujud, serta melibatkan berbagai negara lainnya. Dalam jangka pendek maupun jangka panjang, pasar finansial akan menderita dampak cukup besar. Diantaranya:

 

1. Kemerosotan Pasar Saham

Dilihat dari histori harga pasar pagi ini, yang pertama kali terkena dampak perang dagang adalah pasar saham. Segera setelah Trump menandatangani memorandum, Dow Jones Industrial Average anjlok 724 poin, atau nyaris 3 persen; kemerosotan paling parah dalam enam pekan. Pada Jumat pagi ini (23/Maret), Nikkei turut merosot. Saat berita ditulis, Nikkei 225 sudah terpangkas lebih dari 730 poin (sekitar 3.40%).

 

Indeks Saham Dunia 23 Maret 2018

 

Sejumlah kelompok bisnis besar yang mewakili korporasi raksasa AS seperti Amazon dan Walmart memperingatkan bahwa penerapan bea impor yang memicu perang dagang ini bisa mengakibatkan kenaikan harga-harga masif bagi konsumen AS serta memperparah kemerosotan pasar saham.

 

2. Menghambat Pertumbuhan Ekonomi

Kekhawatiran mengenai dampak perang dagang bagi perekonomian bukan hanya disampaikan oleh korporasi saja. Baru-baru ini, dua pimpinan bank sentral mayor mengungkapkan keprihatinan senada.

Pimpinan Federal Reserve, Jerome Powell, mengatakan pada hari Rabu, "Sejumlah peserta (rapat kebijakan moneter bank sentral) melaporkan diskusi mereka dengan para pengusaha di dalam negeri dan menyatakan bahwa kebijakan dagang telah menjadi sumber kekhawatiran". Pada hari Kamis, Bank of England juga memperingatkan, peningkatan proteksionisme dagang dapat mengakibatkan "dampak negatif signifikan" terhadap pertumbuhan global.

 

3. Mengakibatkan Pelemahan Dolar AS

Patut pula untuk dicatat, sebuah contoh kasus "perang dagang ringan" di masa lalu. Menurut sebuah studi, penerapan bea impor besi di AS oleh Presiden George W. Bush pada tahun 2012 berdampak negatif bagi ketenagakerjaan AS sendiri. Selain itu, menurut estimasi perusahaan investasi TD Securities, penetapan bea impor pada masa itu berakibat pada penurunan Dolar AS hingga 15 persen.

Sebuah grafik Indeks Dolar AS (DXY) pada timeframe Weekly (2002-2005) yang dipetakan oleh Christopher Vecchio dari DailyFX menunjukkan kemerosotan Dolar AS dalam periode tersebut.

 

Proyeksi Dampak Perang Dagang AS - China Terhadap Dolar AS

 

 

Skenario Terburuk: Aksi Jual Obligasi AS

Robert Manning, seorang pakar hubungan AS-China di lembaga think-tank Atlantic Council, mengatakan pada Bloomberg, respon awal China boleh jadi tak separah yang banyak ditakutkan orang, tetapi konflik bisa tereskalasi dengan mudah.

 

"Apa yang akan Anda dapatkan dari China adalah respon ringan dalam upaya mereka untuk melakukan negosiasi mencari jalan keluar dari situasi ini. (Namun) saya khawatir bila (situasi) ini menjadi sangat, sangat buruk, mereka bisa memilih 'opsi nuklir'."

 

"Opsi Nuklir" yang dimaksud Manning yakni penjualan Obligasi Pemerintah AS (US Treasury) senilai beberapa ratus milyar dolar AS. Apabila hal itu dilakukan, maka pasar finansial benar-benar akan kolaps dan memaksa suku bunga AS melonjak. Ini karena China berada di jajaran puncak investor asing pembeli obligasi AS.

 

Defisit Neraca Dagang Dan Negara-negara Pemegang Obligasi AS

 

Pada bulan Januari lalu, Indeks Dolar AS sempat terjun bebas, semata akibat rumor mengenai rencana China menghentikan atau mengurangi pembelian obligasi AS. Saat ini, China mengantongi Obligasi Pemerintah AS senilai nyaris USD1.2 Triliun. Lebih buruk lagi, anggaran belanja terbaru Trump dapat mengakibatkan membengkaknya defisit negara yang perlu ditalangi dengan perilisan milyaran Dolar obligasi baru. Tanpa pembeli, siapa bakal mendanai program-program pemerintahan Trump yang mahal!?




Editorial Forex

Topik Berita Forex

SHARE:

SHARE:

 
Komentar: 3

Topik Berita Forex