Advertisement

iklan

Risiko Geopolitik Tetap Tinggi, Yen Menguat Lagi

Walaupun AS menunda kenaikan tarif impor bagi produk China, tetapi minat beli Yen masih tinggi lantaran beragam risiko geopolitik dari hubungan AS-China dan Hong Kong.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pasangan mata uang USD/JPY sempat melonjak drastis hingga kisaran 106.97 pada sesi New York kemarin, tetapi kembali terkoreksi ke bawah ambang 106.50-an dalam perdagangan sesi Asia dan Eropa hari ini (14/Agustus). Keputusan Washington untuk menunda kenaikan tarif impor terhadap sebagian produk asal China telah mendorong kenaikan USD/JPY. Meski demikian, minat risiko pasar tetap minim lantaran banyak pihak meragukan motivasi keputusan AS tersebut, serta mengkhawatirkan sejumlah ketegangan geopolitik lain di berbagai bagian dunia.

USDJPY DailyGrafik USD/JPY Daily via Tradingview.com

Pada sesi New York, Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer mendadak mengumumkan penundaan kenaikan tarif impor AS sebesar 10 persen bagi beberapa kategori produk impor asal China. Tarif tambahan yang yang sedianya akan efektif mulai 1 September itu diundur hingga 15 Desember. Penundaan berlaku bagi kelompok barang konsumsi seperti konsol game, laptop, pakaian, dan alas kaki, dengan alasan meredam dampak buruk kenaikan tarif impor terhadap musim liburan AS. Selain itu, Lighthizer juga mengungkapkan bahwa sejumlah kategori barang tertentu akan dihapus dari daftar produk yang bakal dibebani tarif tambahan, atas pertimbangan kesehatan dan keamanan nasional.

Pengumuman Lighthizer meredakan sedikit ketegangan pelaku pasar, tetapi tak memudarkan ancaman perang dagang. Analis dan investor masih pesimis terhadap kemungkinan tercapainya resolusi antara Amerika Serikat dan China dalam jangka pendek.

"Jika kita hanya berpikir mengenai Amerika Serikat dan China, (maka) bisa jadi ada lebih banyak ruang untuk penguatan Dolar dan pelemahan Yen, tetapi hal ini tak berarti bahwa konflik dagang telah terselesaikan," kata Tohru Sasaki dari JP Morgan Securities, Tokyo, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Lanjutnya, "(Selain itu) masih ada banyak risiko geopolitik, seperti situasi Hong Kong, Brexit, dan Iran. Saya memperkirakan tak akan ada pergerakan (risk-on) yang signifikan."

Konflik antara demonstran dan polisi di Hong Kong semakin sengit. Bandaranya kembali diduduki oleh para demonstran, meskipun sejumlah penerbangan internasional sudah mulai beroperasi lagi. Sejumlah rumor bahkan menyebutkan bahwa Beijing tengah menyiapkan tentara untuk mengendalikan krisis, sehingga menumbuhkan kekhawatiran mengenai kondisi politik dan keamanan di salah satu pusat keuangan Asia ini.

289657

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


15 Jul 2019

1 Ags 2019

19 Ags 2019