Konflik Global dan Nasional Masih Hantui Bursa Saham Indonesia

Tahun 2014, bursa saham Indonesia boleh saja dibilang dalam tren bullish nya. Sejak awal tahun, bursa saham Indonesia sudah mengalami kenaikan 18,24%. Pertumbuhan ini bahkan melebihi pertumbuhan bursa Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan China dan Amerika sekalipun.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Tahun 2014, bursa saham Indonesia boleh saja dibilang dalam tren bullish nya. Sejak awal tahun, bursa saham Indonesia sudah mengalami kenaikan 18,24%. Pertumbuhan ini bahkan melebihi pertumbuhan bursa Malaysia, Singapura, Thailand, bahkan China dan Amerika sekalipun.

BEI
Banyak katalis yang mempengaruhi mempengaruhi perkembangan bursa. Terutama, katalis dari perkembangan politik yang sedang terjadi sekarang ini. Seperti yang sedang kita saksikan sekarang, Indonesia baru saja memilih siapa pemimpin untuk periode lima tahun kedepan. Proses demokrasi lima tahunan ini lah yang menjadi penentu akan seperti apa perekonomian Indonesia lima tahun mendatang. Dan proses demokrasi lima tahunan ini juga menjadi penentu bagaimana bursa kita lima tahun mendatang.

Masa Konsolidasi Bursa

Bursa kita boleh saja sudah tumbuh 18,24%. Namun, tidak ada yang tahu apakah hingga akhir tahun bursa kita masih akan tetap seperti sekarang, turun atau masih bisa naik lagi. Tentunya, perkembangan bursa kedepan nantinya tidak lepas dari situasi domestik dan internasional. Dari dalam domestik, kelanjutan proses demokrasi lima tahunan masih menjadi isu utama, disamping laporan perekonomian nasional dan laporan kinerja emiten terdaftar. Sedangkan, dari dunia internasional semua mata investor masih tertuju pada situasi konflik Israel-Palestina, serta konflik ISIS di Irak.

Banyak pengamat yang menyakini bahwa kuartal ketiga tahun ini merupakan masa konsolidasi bursa, dan bisa saja cenderung mengalami penurunan. Hal ini tidak terlepas dari banyaknya sentimen negatif baik dari domestik maupun dari dunia internasional yang bisa saja menyengat bursa kita.

Dari domestik, kita masih dibuat menunggu kabar perkembangan sidang gugatan pilpres di Mahkamah Konstitusi. Apalagi, perkembangan saat ini sudah melalui dua kali sidang.

Dari dunia internasional, pusat perhatian investor masih tertuju pada situasi di Ukraina. Dimana, perkembangan terakhir militan Ukraina pro-Rusia mengancam akan mengembargo minyak Rusia yang disuplai ke Eropa. Jika embargo ini benar-benar terjadi, jelas kondisi ini akan mempersulit pemulihan ekonomi yang sudah berlangsung di negara-negara Eropa saat ini. Dan jika embargo ini benar-benar terjadi, Eropa kemungkinan akan semakin terpuruk dimakan krisis.

Disamping kabar dari Ukraina, perhatian kita juga tertuju pada konflik yang tanpa ujungnya di Gaza, Israel yang terus menerus menyerang dan terus menerus membombardir Gaza. Selain Gaza, investor juga menyaksikan perkembangan serangan militer Amerika Serikat ke Irak.

Minyak Yang Bergejolak

Konflik yang terjadi di negara-negara penghasil minyak ini jelas bukan kondisi yang menguntungkan bagi Indonesia. Jika kondisi ini tidak ada penyelesaiannya, harga minyak dunia akan makin meningkat. Kenaikan harga minyak dunia jelas akan semakin membuat perekonomian Indonesia kembali bergejolak.

Perekonomian Indonesia tidak akan lepas dari minyak dunia karena ketergantungan Indonesia akan sumber energi yang didatangkan dari luar negeri itu sangat tinggi. Juni 2014 sedikit memberikan sentimen positif, dimana selama Juni kemarin impor Migas mengalami kontraksi 8,42%. Meskipun impor migas turun, secara keseluruhan neraca perdagangan Indonesia masih membukukan defisit sebesar US$ 305 juta.

Karena kondisi domestik dan global yang masih belum kondusif, mungkin saja akan membuat bursa saham Indonesia berkonsolidasi yang cenderung turun. Paling tidak, kemungkinan kondisi ini akan berlangsung sampai Oktober dimana di bulan tersebut, pemerintahan baru segera memulai pekerjaannya. Saat pemerintahan baru sudah memulai pekerjaannya, bursa saham Indonesia diprediksi akan menguat kembali.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.