Zona Eropa Memanas, IMF Pangkas Ekonomi Global

Bursa saham global dan regional sepekan kemarin bergerak liar bak roller coaster, naik cukup tinggi dan begitu turun langsung nyungsep dalam. Begitu banyak isu penting keluar dalam sepekan lalu. Berikut ini review kondisi ekonomi Dunia yang mempengaruhi pasar keuangan selama seminggu yang lalu.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Bursa saham global dan regional sepekan kemarin bergerak liar bak roller coaster, naik cukup tinggi dan begitu turun langsung nyungsep dalam. Begitu banyak isu penting keluar dalam sepekan lalu. Mulai dari IMF dan bank dunia yang kembali memangkas pertumbuhan ekonomi dunia, penantian kejelasan kapan Fed Rate dinaikkan, bagaimana perekonoman China yang belum keluar dari stagnasi, dan juga bagaimana pemulihan perekonomian Zona Euro. Isu terakhir tersebut menjadi yang paling berpengaruh, mengingat pemulihan ekonomi Zona Euro berjalan sangat lamban. IMF memangkas pertumbuhan ekonomi kawasan tersebut, memandang bahwa kawasan tersebut rentan kembali mengalami masa-masa krisis seperti sebelumnya. Situasi makin mengkhawatirkan ketika Jerman menentang kebijakan moneter serta ruang fiskal yang lebih longgar. Jerman menentang kebijakan Quantitative Easing ala Amerika Serikat dan mendesak untuk melanjutkan disiplin anggaran.

Berikut ini review kondisi ekonomi Dunia yang mempengaruhi pasar keuangan selama seminggu yang lalu.

Perekonomian Zona Euro Makin Suram

Kebijakan moneter longgar Bank Sentral Eropa sudah berjalan, namun belum menunjukan hasil yang diharapkan. Jerman yang dari awal menolak kebijakan moneter longgar, sekarang kembali menyuarakan agar Bank Sentral Eropa segera kembali melanjutkan memperketat anggaran. Jerman menaruh perhatian penuh atas pemulihan ini karena jika pelemahan kawasan tersebut tidak segera teratasi, Jerman sebagai perekonomian terbesar di kawasan pun akan ikut kena imbas pelemahan.

perekonomian zona Euro
Rilis data perekonomian Zona Euro belum menunjukan tanda-tanda pemulihan. Dari rilisan data sepekan terakhir, aktivitas manufaktur zona euro menunjukkan penurunan di bulan September. PMI manufaktur zona euro dari Markit turun menjadi 50.3 di bulan September dari 50.7 di bulan Agustus. Aktivitas bisnis di zona euro juga turun ke level terendahnya dalam 10 bulan, di mana PMI composite dari Markit turun menjadi 52,0 di bulan September dari 52,5 di bulan Agustus.

Sedangkan data perekonomian Jerman terbaru menunjukan bahwa pelambatan perekonomian tidak dapat dihindari oleh negara dengan perekonomian terbesar di Zona Euro ini. Pesanan pabrikan Jerman mengalami penurunan terbesar sejak 2009, sebesar 5.7% di Agustus 2014, melebihi perkiraan. Produksi industri Jerman untuk periode Agustus 2014 yang dipublikasikan kemarin pun tercatat turun 4%, lebih tajam dibandingkan dengan perkiraan para analis sebesar 1.5%.

Surplus neraca perdagangan Jerman turun menjadi 17.5 miliar Euro di bulan Agustus dari 22.2 miliar euro di bulan Juli. Hasil tersebut lebih rendah dari ekspektasi pasar yang memperkirakan surplus sebesar 18.5 miliar euro. Penurunan tersebut disebabkan oleh ekspor yang turun 5.8% di bulan Agustus, penurunan terbesar sejak Januari 2009.

ECB menyatakan akan mulai melakukan pembelian covered bonds dari pertengahan Oktober dan Asset-Backed Securities (ABS) selama 3 bulan terakhir tahun ini. Kebijakan tersebut dinilai sebagai kebijakan yang menurut Presiden ECB Mario Draghi akan berdampak cukup signifikan terhadap neraca bank sentral. Namun, ECB tidak menyatakan berapa besarnya pembelian yang akan dilakukan tersebut. Sementara itu, ECB telah mempertahankan kebijakan suku bunga; Dewan Gubernur masih menjaga komitmen untuk menggunakan instrumen konvensional tambahan jika prospek inflasi memburuk, dan tetap membuka kemungkinan untuk membeli obligasi pemerintah melalui kebijakan yang dikenal sebagai pelonggaran kuantitatif (Quantitative Easing). Kendati memiliki kapasitas untuk membeli hingga US$1,26 trilyun obligasi tertutup dan ABS, Draghi mengatakan bahwa bank sentral tidak akan menggunakan seluruhnya.

Pemangkasan Outlook Ekonomi Dunia Oleh Bank Dunia, IMF

IMF menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global untuk tahun 2014 menjadi 3.3% dan 3.8% untuk 2015. Ekonomi negara-negara di Eropa yang cenderung stagnan dan pemulihan ekonomi Jepang yang lebih lemah dari perkiraan telah mendorong IMF untuk memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tersebut. IMF mengatakan, pertumbuhan 18-negara Zona Euro akan menjadi 0.8% tahun ini, turun tajam dari perkiraan sebelumnya sebesar 1.1%, dan menjadi 1.3% pada 2015 turun dari 1.5%.

IMF memandang pemulihan negara-negara di kawasan Eropa masih akan melemah, pertumbuhan ekonomi Jepang juga masih terkendala oleh kenaikan pajak konsumsi, dan Tiongkok harus menghadapi laju pertumbuhan moderat. Kendati demikan, IMF terlihat lebih optimis terhadap prospek ekonomi AS, dan mengharapkan ini bisa mendorong negara lainnya terbantu dalam memulihkan ekonominya. IMF juga menilai kekuatan negara-negara maju dapat ditingkatkan dengan investasi bidang infrastruktur, dengan biaya oleh negara.

Lembaga dunia lain, Bank Dunia, juga kembali memangkas target pertumbuhan ekonomi beberapa negara. Mulai dari Indonesia, Bank Dunia memangkas target pertumbuhan ekonomi menjadi 5.2% dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu sebesar 5.8%. Menurut Bank Dunia, perekonomian Indonesia sangat tergantung pada kinerja ekspor. Sementara ini ekpor Indonesia tengah mengalami kelesuan, karena harga komoditas sebagai barang ekspor utama Indonesia terus mengalami penurunan.

Bank Dunia juga memangkas pertumbuhan ekonomi China. Bank Dunia memangkas proyeksi ekonomi negeri Tirai Bambu dari 7.6% menjadi 7.4% untuk periode 2014. Bank Dunia menyebut minimnya efek reformasi ekonomi dan ancaman polusi sebagai faktor yang berperan dalam penurunan kinerja ekonomi negara ini. Sementara untuk tahun depan, proyeksi pertumbuhan China juga dipangkas dari 7.5% menjadi 7.2%.

PMI Manufaktur China bulan September versi HSBC berada pada level 51.1 sedangkan versi pemerintah pada level 50.2. Sedangkan laju pertumbuhan sektor jasa melambat tipis di bulan September. Data PMI sektor jasa yang dikeluarakan HSBC/Markit turun menjadi 53.5 pada September dari level tinggi 17 bulan pada 54.1 di bulan Agustus. Sub-indeks bisnis baru turun menjadi 53.2 pada September dari level tinggi 19 bulan pada 53.9 di bulan Agustus. Secara keseluruhan, sektor jasa China nampak membaik di bulan September, kendati tekanan turun pada sektor manufaktur.

Pertumbuhan ekonomi Thailand juga ikut dipangkas. Proyeksi pertumbuhan ekonomi negeri ini dipapas menjadi hanya 1,5% atau separuh dari estimasi sebelumnya yang sebesar 3%. Menurut Bank Dunia, perlambatan ekonomi Thailand dipengaruhi oleh tingkat konsumsi serta volume ekspor yang rendah. Hal yang berdampak langsung terhadap pasar modal adalah proyeksi kenaikan Fed Funds Rate lebih cepat, perlambatan perekonomian China, serta penurunan harga komoditi yang berpengaruh pada defisit neraca berjalan. Proyeksi ekonomi Thailand merupakan yang paling buruk di kawasan Asia Tenggara dan Thailand juga menjadi negara dengan outlook produk domestik bruto paling rendah.

Inflasi Jepang Masih Jauh Dari Target

Bank Sentral Jepang (BOJ) pertama kali meluncurkan program pelonggaran pertama di bulan April 2013 dengan target pencapaian level inflasi ideal dalam dua tahun, atau di 2015. Namun seiring banyaknya kendala di lapangan, BOJ mengubah target waktu pencapaian inflasi hingga 3 tahun atau di 2016 mendatang. Gubernur Bank of Japan, Haruhiko Kuroda mengatakan mereka memiliki banyak pilihan untuk pelonggaran moneter lebih lanjut, dengan menekankan bahwa bank sentral akan menyesuaikan kebijakan jika dibutuhkan untuk mencapai target inflasi 2% sekitar bulan Maret 2016 mendatang. BoJ telah meningkatkan kepemilikan Japan Government Bond secara substansial, namun masih ada 20% dari total JGB beredar. BOJ sendiri tidak menutup pintu untuk adanya pelonggaran moneter baru apabila laju inflasi menjauh dari sasaran. Untuk saat ini, BOJ menyepakati untuk menaikkan base money dengan laju tahunan sebesar 60-80 trilyun yen melalui pembelian obligasi pemerintah dan aset beresiko.

produksi industrial jepang
Di sisi lain, produksi industrial Jepang secara tidak terduga turun 1,5% MoM di bulan Agustus. Kenaikan pajak penjualan bulan April lalu dinilai sebagai sebab penurunan output industri ini. Penurunan ini dikhawatirkan akan menimbulkan dampak yang lebih buruk dari perkiraan pada perekonomian Jepang nantiya.

Jepang mencatatkan Indeks sentimen sektor jasa flat di level 47.4 bulan lalu bulan September atau bertahan di bawah level 50. Level tersebut menunjukkan lebih banyak responden yang pesimis mengenai kondisi bisnis. Selain itu survey untuk Indeks outlook yang mengindikasikan tingkat kepercayaan pada kondisi di masa mendatang, turun ke 48.7 dari 50.4 di bulan Agustus.

Ekspor Amerika Terancam Jika Dollar Terus Menguat

Rilisan data tingkat pengangguran AS September 2014 berada 5.9%. Tingkat pengangguran tersebut merupakan level terendah selama 6 tahun terakhir atau sejak Juli 2008. Amerika juga berhasil menambah jumlah tenaga kerja sebesar 248,000 bulan lalu, melebihi ekspektasi sebesar 215,000. Perekonomian Amerika menunjukan pertumbuhan stabil, memunculkan prospek suku bunga The Fed akan naik lebih cepat dari perkiraan. Imbasnya, dollar akan terus menguat.

Untuk menyelesaikan krisis beberapa tahun silam, Bank Sentral Amerika membuat kebijakan stimulus yang dikenal dengan Quantitative Easing (QE) dan kebijakan moneter longgar. Kini, seiring membaiknya perekonomian, Oktober ini kebijakan QE mulai dihentikan. Namun, Bank Sentral Amerika masih melanjutkan kebijakan moneter longgarnya, yaitu tetap mempertahankan Fed Rate di level rendah. Kebijakan ini diambil untuk memastikan apakah setelah QE dihentikan, perekonomian Amerika masih tetap akan tumbuh stabil atau tidak. Jika stabilitas pertumbuhan tersebut masih berlangsung, bukan tidak mungkin Fed Rate akan dinaikkan tahun depan .

Namun, kekhawatiran stabilitas perekonomian Amerika akan terganggu pasca QE dihentikan mulai mencuat. Faktornya adalah perlambatan ekonomi global; Zona Euro belum keluar dari krisis, perlambatan ekonomi China, serta nilai tukar dollar yang terus menguat. Hal ini dikarenakan faktor–faktor tersebut dapat mengancam ekspor Amerika khususnya, serta pada akhirnya dapat menggerogoti perekonomian.

Politik Masih Jadi Fokus Nasional

Di dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI rate di level 7.5%. Selain itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mengklaim, hingga akhir tahun ini BKPM mampu mencapai realisasi investasi Rp 450 triliun. Untuk tahun 2015, BKPM menargetkan investasi tahun depan menjadi Rp524 triliun, atau naik 15% dari tahun ini sebesar Rp456 triliun. Dalam mengejar target pertumbuhan investasi tahun tersebut, BKPM menegaskan perlunya reformasi birokrasi. Salah satu reformasi birokrasi yang diyakini mampu mendongkrak daya saing adalah kemudahan berinvestasi. Apalagi sejak kuartal III-2013, realisasi investasi Indonesia selalu di atas Rp100 triliun. Tahun ini, rekornya diharapkan bisa meningkat 15% dari nilai investasi tahun lalu sebesar Rp406 triliun.

Pelantikan presiden beserta wakilnya tidak lama lagi akan dilangsungkan. Pasca pelantikan, banyak pihak memperkirakan pengurangan subsidi BBM akan jadi kebijakan yang pertama kali diambil. Seperti sebelumnya, jika subsidi BBM diturunkan maka harga BBM di masyarakat mengalami kenaikkan. Kenaikan harga BBM ini akan memicu kenaikan inflasi relatif tinggi. Untuk menstabilkan inflasi, Bank Sentral kemungkinan akan menaikkan BI Rate bahkan hingga level 10%.

Suku Bunga BI
Kenaikan BI Rate hingga level 10% kemungkinan saja bisa terjadi di tahun depan, andaikan harga BBM bersubsidi dinaikkan hingga Rp 3.000 per liter. Namun jika BI Rate benar-benar dinaikkan hingga ke level tersebut, maka perekonomian Indonesia menjadi lebih lambat lagi.

Kenaikan Fed Rate dan capital outflow karena politik yang menyebabkan rupiah makin jatuh kedalam. Kenaikan BI Rate dilakukan guna menstabilkan inflasi dan nilai tukar rupiah. Karena inflasi dan rupiah sangat penting dalam perekonomian Indonesia. Inflasi tidak dapat dicegah oleh siapapun kenaikkannya jika harga BBM subsidi jadi dinaikkan. Dan untuk menstabilkan inflasi tersebut, maka BI Rate harus dinaikkan. Lantas, bagaimana dengan rupiah?

Beberapa hari ini rupiah terus melemah. Salah satu penyebabnya adalah Fed Rate yang kemungkinan akan dinaikkan dalam waktu dekat ini. Kenaikkan Fed Rate ini membuat Hot Money yang dulu masuk ke Indonesia, menjadi keluar dari Indonesia menuju ke negara Asalnya (Capital Outflow). Namun, capital outflow terjadi bukan hanya disebabkan oleh kenaikkan Fed Rate saja, tetapi juga bagaimana kondisi politik dalam negeri. Ya, kondisi politik dalam negeri juga turut berperan penting karena jika politik dalam negeri stabil akan menciptakan iklim investasi menarik, aman dan nyaman bagi investor. Ketika investor sudah merasa iklim investasi Indonesia sudah sangat bagus, maka dapat meminimalisir terjadinya Capital Outflow ketika Fed Rate dinaikkan.

Pekan sebelumnya, penulis berharap pemimpin rakyat dan wakil rakyat bersama-sama utamakan rakyat, mengingat Indonesia masih menjadi perhatian yang menarik investor dunia. Dengan penduduk padat dan tingkat konsumsi tinggi, wilayah luas dengan geografis yang strategis, SDM melimpah, juga melimpahnya hasil tambang yang dapat dimanfaatkan industri, berikut energi yang masih cukup untuk masa yang akan datang, Indonesia masih menjadi magnet investasi dunia. Jika subsidi energi dapat diminimalkan, maka dana untuk perbaikan dan penciptaan infrastruktur pendukung perekonomian semakin banyak dianggarkan. Sekarang, tinggal bagaimana para elit politik dapat melepaskan ego masing-masing, lebih utamakan rakyat dan ciptakan stabilitas politik untuk kepentingan bersama.

Akhir pekan kemarin, presiden terpilih beserta parlemen untuk pertama kalinya duduk dalam satu forum. Hasilnya, mereka sepakat untuk bersama-sama membangun negara, presiden sebagai pelaksana program pro rakyat dan parlemen sebagai pengawal terlaksananya program tersebut. Semoga saja ini menjadi awal sinergi kerja pemimpin rakyat dan wakil rakyat untuk rakyat dan awal mulai stabilnya kondisi perpolitikan dalam negeri yang beberapa waktu belakangan sempat memanas.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.