Investor Menanti Laporan Kinerja Emiten dan Kenaikan Harga BBM

Beberapa berita besar baik dalam negeri, regional maupun global yang terjadi sejak awal November, membuat Bursa Efek Indonesia dan juga bursa saham dunia bergerak seperti roller coaster, naik turun dengan begitu cepatnya. Pekan ini, investor di dalam negeri masih menanti laporan kinerja emiten dan kenaikan harga BBM.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Beberapa berita besar baik dalam negeri, regional maupun global yang terjadi sejak awal November, membuat Bursa Efek Indonesia serta bursa saham dunia bergerak seperti roller coaster, naik turun dengan begitu cepatnya. Mulai dari IMF yang mengkhawatirkan akan kembalinya zona Eropa ke masa krisis, stagnasi ekonomi China, dan penguatan dollar secara terus menerus, membuat investor global mengkhawatirkan pelambatan pertumbuhan ekonomi global lagi.

Sementara itu, pengaruh dari dalam negeri lebih banyak disebabkan oleh memanasnya politik sebelum pelantikan presiden terpilih. Mulai dari dikuasainya parlemen oleh koalisi partai oposisi yang membuat investor khawatir jika parlemen akan menghambat kebijakan strategis, hingga isu penjegalan pelantikan presiden terpilih. Isu-isu tersebut membuat investor lebih memilih wait and see. Namun, politik yang sempat memanas perlahan mulai mencair setelah aksi blusukan presiden terpilih ke parlemen dan kubu rival. Ini menandakan semakin stabilnya politik dalam negeri yang kembali dipertegas saat pelantikan dan proses transisi berjalan lancar. Rangkaian kejadian tersebut membuat investor perlahan mulai kembali masuk ke bursa domestik lagi.

Bursa Efek Indonesia

Pemangkasan Rating Utang Rusia dan Hasil Test Stress Bank Eropa

Sanksi ekonomi untuk Rusia yang sudah berjalan cukup lama menimbulkan kekhawatiran kalau ekonomi negara tersebut kian melambat. Apalagi, cadangan devisa-nya terus menurun. Karenanya, Moody's Investors Service memangkas peringkat utang Rusia ke posisi terendah kedua level investasi (investment grade). Moody's menurunkan peringkat utang satu level menjadi Baa2 dari Baa1 dan mempertahankan outlook negatif pada 17 Oktober 2014. Peringkat itu sama dengan peringkat kredit yang diberikan Fitch Ratings Ltd. dan satu level di atas peringkat yang diberikan Standard & Poor's yaitu BBB- pada April lalu.

Disamping kabar yang kurang baik dari Rusia, sebanyak 25 bank di Eropa dilaporkan gagal melewati tes stress. Tes stress dilakukan oleh bank sentral Eropa (ECB) untuk mengevaluasi ketahanan bank-bank di wilayahnya dalam menghadapi suatu skenario kejadian eksternal yang ekstrim. Tes stress dilakukan guna mengestimasi besarnya kerugian dan ketahanan modal Bank dalam menyerap kerugian tersebut, serta mengidentifikasi langkah-langkah yang harus dilakukan untuk memitigasi risiko dan menjaga modal. Bank yang gagal melewati stress test tersebut kemudian diberikan waktu selama 2 minggu untuk membuat rencana penambahan modal. Setelah itu, ECB akan memutuskan masuk zona merah atau hijau-kah bank-bank tersebut.

China Mampu Tahan Pelemahan Ekonomi, Ekspor Jepang Kembali Menggeliat

PDB China naik 7.3% di kuartal 3 tahun 2014 dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Produksi industri bulan September tercatat meningkat 8% YoY atau lebih tinggi dari pencapaian Agustus sebesar 6.9%. Penjualan ritel naik 11.6% YoY, sedikit lebih rendah dibanding pencapaian Agustus sebesar 11.9%. Indeks PMI awal Cina dilaporkan HSBC/Markit naik dibandingkan bulan sebelumnya, berada di level 50.4 di bulan Oktober. Membaiknya Indeks Manufaktur tersebut menadakan bahwa China mampu bertahan dari pelemahan di pasar perumahan.

Sementara itu, pasar masih menunggu kejelasan mengenai perubahan alokasi aset investasi dana pensiun Jepang, mengingat ini merupakan salah satu kebijakan reformasi yang akan dijalankan pemerintahan Abe. Pemerintah Jepang diyakini akan meningkatkan kepemilikan saham-saham berbasis domestik Jepang melalui investasi dari dana pensiun. Tidak tanggung-tanggung, nilai dana Investasi Pensiun Pemerintah Jepang (GPIF) mencapai US$ 1,2 triliun. Dengan kebijakan tersebut meningkatkan target alokasinya untuk saham-saham lokal menjadi sekitar 25% dari sebelumnya 12%. Tidak hanya itu, GPIF juga akan meningkatkan kepemilikannya pada obligasi asing dan saham dengan kombinasi mencapai 30% dari sebelumnya 23%. Di sisi lain, badan dana pensiun ini akan menurunkan utang domestik menjadi 40% dari sebelumnya 60%.

Seperti diketahui sebelumnya, pemerintah Jepang tengah berupaya untuk mengeluarkan negaranya dari stagnasi pertumbuhan ekonomi. Salah satu upaya yang dilakukan, adalah dengan terus membuat Yen melemah. Dengan pelemahan Yen, diharapkan dapat menaikkan Inflasi sebesar 2% dan ekspor Jepang diharapkan kembali bergairah.

Data laporan ekspor Jepang tercatat naik 6.9% dibandingkan September tahun sebelumnya atau lebih tinggi dari perkiraan kenaikan yang hanya sebesar 6.5%. Sementara impor tumbuh 6.2% dengan terutama didorong oleh impor gas alam cair dan telekomunikasi. Pembelian gas alam tercatat tetap tinggi karena kesenjangan energi dan miskinnya sumber daya di negara itu. Hal ini terjadi setelah krisis di Fukushima pada 2011 yang memaksa penutupan reaktor nuklir yang sebelumnya memberikan kontribusi sepertiga energi nasional. Hal ini mendorong defisit perdagangan menjadi 958,3 miliar yen atau US$9 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 943,2 miliar yen. Defisit perdagangan Jepang naik 1,6% YoY pada September 2014.

Menanti Laporan Kinerja Emiten dan Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Di dalam negeri, Investor masih menanti kepastian kebijakan pemerintahan baru mengenai subsidi energi. Di sisi lain, Bank Indonesia mengharapkan harga bahan bakar minyak bersubsidi dapat naik sebelum The Federal Reserve mulai menaikkan suku bunga (Fed fund rate) yang diperkirakan terjadi pada pertengahan tahun 2015. BI mengharapkan kenaikan harga BBM dilakukan pada triwulan IV 2014, tapi tidak lebih dari Februari 2015. Dengan menaikkan harga BBM, masalah defisit anggaran dan defisit transaksi berjalan Indonesia dapat diatasi. Menurut Mantan Menteri Keuangan RI, Chatib Basri, jika harga BBM bersubsidi dinaikkan sebesar Rp 1.000 per liter, maka dampak inflasi yang ditimbulkan sekitar 1.2% - 1.5%. Penghematan yang akan didapat dari kenaikan harga BBM subsidi jika dilakukan bulan November 2014 adalah Rp 7 triliun hingga akhir tahun 2014. Jika kenaikan BBM dari awal tahun 2015, maka hemat Rp 48 triliun ditambah Rp 7 triliun di 2014 atau Rp 55 triliun.

Selain itu, investor juga sedang menantikan rilis kinerja keuangan emiten yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Beberapa perusahaan sudah melaporkan kinerjanya hingga akhir kuartal tiga, termasuk bank BUMN. Namun, mayoritas emiten yang sudah melaporkan kinerja kuartal tiga tahun 2014 menunjukan adanya pelemahan kinerja.

kinerja perusahaan - illustrasi
Dari sektor basic industry, emiten yang sudah merilis kinerja keuangannya adalah PT Arwana Citramulia, Tbk (ARNA). Perusahaan dari bidang keramik ini mampu mencetak pendapatan sebesar 1,1 triliun rupiah, atau naik 15%. Laba bersih yang dapat didistribusikan kepada pemilik entitas induk naik menjadi 198 miliar dari sebelumnya 178 miliar. Net Profit Margin ARNA mengalami penurunan, namun NPM nya masih sebesar 17%.

Dari sektor consumer goods, PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) telah melaporkan kinerjanya hingga akhir kuartal tiga. Penjualan UNVR mengalami kenaikan sebesar 13% menjadi 26 triliun. Namun, laba bersih UNVR tercatat turun tipis 1%, menjadi 4 triliun. EPS UNVR sebesar 531 rupiah dengan NPM tercatat sebesar 16%.

Emiten sektor properti yang telah merilis laporan kinerjanya adalah PT Agung Podomoro Land, Tbk (APLN). Hingga akhir kuartal ketiga, pendapatan APLN mencapai 3.5 triliun atau naik tipis 1% dari tahun sebelumnya dengan periode yang sama. Penjualan properti perseroan mengalami pelemahan, tercatat dari penjualan properti perseroan mendapatkan 2.5 triliun. Sedangkan berulang perseroan mengalami peningkatan hingga 1 triliun, dari sebelumnya sebesar 762 miliar. Laba bersih APLN tercatat mengalami penurunan sebesar 18% menjadi 555 miliar.

PT Bina Buana Raya, Tbk melaporkan kinerja perlambatan kinerja. Tercatat, pendapatan hingga akhir kuartal ketiga yang perseroan peroleh sebesar US$ 25 juta, atau turun 8%. Sedangkan laba bersih yang perseroan turun signifikan hingga 89%, atau tercatat sebesar US$ 534 ribu.

Sedangkan dari sektor keuangan, beberapa emiten seperti Bank Capital Indonesia Tbk, Bank Rakyat Indonesia Tbk, PT Bank Danamon Indonesia, Tbk, Bank Internasional Iindonesia, Tbk, Bank Tabungan Pensiunan Negara, Tbk, PT Adira Dinamika Multifinance, Tbk, PT Wahana Ottomitra Multiartha, Tbk, PT Panca Global Securities, Tbk, dan PT Asuransi Jasa Tania, Tbk juga telah merilis laporan keuangan kuartal tiga.

Bank Capital Indonesia (BACA) mencatatkan laba bersih sebesar 48 miliar, turun 11% dari tahun sebelumnya. Sedangkan BBRI masih mencatatkan kenaikkan laba bersih hingga 18% menjadi 18 triliun. Sementara itu, laba bersih BDMN turun cukup signifikan sebesar 30%, menjadi 2,1 triliun. Penurunan laba cukup signifikan juga dialami oleh BNII, yaitu sebesar 68% atau menjadi 355 miliar. Sedangkan BTPN mengalami penurunan 15% atau menjadi 1,4 triliun.

Sama seperti emiten perbankan, emiten multifinance yang sudah melaporkan kinerja keuangan kuartal tiga menunjukan pelemahan. Diantaranya adalah ADMF yang laba bersihnya anjlog drastis hingga 44% menjadi 688 miliar. WOMF juga mengalami menurunan laba bersih, tetapi hanya 8%, atau menjadi 41 miliar.

Sektor keuangan yang masih mencatatkan pertumbuhan kinerja adalah sektor asuransi. Misalkan saja Asuransi Jasa Tania (ASJT) yang mencatatkan kenaikan laba menjadi 14 miliar, atau naik 252%. Juga ASDM yang mencatat peningkatan kinerja laba bersih menjadi 24 miliar, atau naik 34%.

Kedepan, kita masih akan menantikan laporan keuangan publikasi emiten. Beberapa emiten yang sudah merilis laporan keuangannya menunjukan pelemahan kinerja. Namun, kita optimis emiten lainnya masih bisa menunjukan pertumbuhan kinerja. Dan semoga saja, emiten yang merilis laporan keuangan berikutnya mencatatkan pertumbuhan, bukan perlambatan.


Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.