OctaFx

iklan

Seusai FOMC The Fed, Pasar Menanti Rilis Data Ekonomi Indonesia

Berbagai kabar dari dalam dan luar negeri menyambut bursa pagi ini. Diantaranya adalah hasil rapat kebijakan moneter di AS dan Jepang, serta beragam isu ekonomi dalam negeri. Laporan kinerja emiten Bursa Efek Indonesia akhir pekan kemarin sepertinya juga baru akan direspon pasar pada pekan ini. Deretan laporan ekonomi Indonesia yang akan dirilis dalam minggu ini pun dinanti pasar.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Berbagai kabar dari dalam dan luar negeri menyambut bursa pagi ini. Diantaranya adalah hasil rapat kebijakan moneter di AS dan Jepang, serta beragam isu ekonomi dalam negeri. Laporan kinerja emiten Bursa Efek Indonesia akhir pekan kemarin sepertinya juga baru akan direspon pasar pada pekan ini. Deretan laporan ekonomi Indonesia yang akan dirilis dalam minggu ini pun dinanti pasar.

rilis data ekonomi indonesia - ilustrasi

The Fed Hentikan QE, Tahan Suku Bunga

Akhirnya, rapat kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (FOMC The Fed) memutuskan penghentian program Quantitatif Easing (QE). Pelaku pasar awalnya menanggapi negatif penghentian stimulus ini. Dimana, perdagangan bursa Amerika Serikat berakhir negatif pada hari pengumuman itu, dan perdagangan bursa Asia dan Eropa pun ikut melemah. Namun, selang hari berikutnya, perdagangan bursa global kembali berbalik arah, dan kembali melanjutkan penguatannya.

Berakhirnya stimulus ini memang sudah diperkirakan sebelumnya oleh para investor. Sebab, setelah The Fed memutuskan untuk mulai mengurangi besarnya stimulus yang dimulai Oktober tahun 2013, data-data perekonomian Amerika menunjukkan pemulihan perekonomian pasca krisis mortgage berjalan stabil. Sehingga, investor pun yakin kebijakan stimulus tersebut sudah tidak diperlukan lagi dan akan lebih baik jika diberhentikan secara permanen.

Hasil rapat kebijakan moneter FOMC The Fed juga menghasilkan keputusan bahwa The Fed tetap mempertahankan suku bunga yang rendah. Sebelumnya, investor memprediksi era kebijakan moneter longgar akan segera berakhir dan The Fed akan segera mengumumkan menaikkan suku bunga acuannya. Namun, mengingat keadaan ekonomi global yang kurang begitu baik, The Fed lebih memilih menghentikan kebijakan stimulusnya dan mempertahankan suku bunga rendah. Tetapi, jika data-data ekonomi Amerika setelah penghentian stimulus menunjukan pertumbuhan ekonomi yang baik, The Fed pun akan mengumumkan kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

Penghentian QE Amerika Serikat Ikut Melemahkan Yen

Hasil rapat FOMC The Fed semakin memperkokoh posisi dollar terhadap sejumlah mata uang global. Bagi perekonomian sejumlah negara termasuk indonesia, penguatan dollar bukanlah hal yang baik. Ketergantungan akan produk impor seperti produk energi akan membuat harga produk tersebut semakin meningkat. Namun, lain halnya dengan Jepang, dimana pelemahan Yen justru akan membuat perekonomian negara ini menjadi lebih baik. Industri akan kembali bergairah, akibat ekspor kembali menggeliat karena pelemahan Yen.

penjualan ritel jepang - ilustrasi
Data produksi sektor industri Jepang di bulan September naik 2.7% MoM, lebih baik dari ekpektasi sebesar 2.2% MoM dan produksi bulan sebelumnya yang mengalami kontraksi sebesar 1.9%. Kenaikan di bulan September ini merupakan laju pertumbuhan tercepat dalam delapan bulan terakhir. Data penjualan ritel bulan September menunjukan kenaikan sebesar 2.7% YoY, lebih tinggi dari kenaikan di bulan Agustus yang tercatat di angka 1,9% YoY. Secara kumulatif, angka penjualan ritel Jepang di kuartal ketiga tahun ini naik 1,4% YoY dibandingkan penurunan sebesar 1,8% YoY di kuartal kedua.

Dari data ekonomi yang telah rilis, pertumbuhan perekonomian Jepang memang masih labil. Melihat hal tersebut, akhir Oktober Bank Sentral Jepang (BOJ) mengeluarkan kebijakan untuk menambah besarnya stimulus. BOJ menyepakati untuk menaikkan base money dengan laju tahunan sebesar 80 trilyun yen (dari 60-70 trilyun Yen) melalui pembelian obligasi pemerintah dan aset beresiko. Kebijakan BOJ tersebut mengejutkan pasar, sehingga pasar saham merespon keputusan tersebut dengan sangat positif.

Perlu diketahui sebelumnya, BOJ pertama kali meluncurkan program pelonggaran pertama di bulan April 2013 dengan target pencapaian level inflasi ideal dalam dua tahun atau di 2015. Namun seiring banyaknya kendala di lapangan, BOJ mengubah target waktu pencapaian inflasi hingga 3 tahun atau di 2016 mendatang. Gubernur Bank of Japan, Haruhiko Kuroda mengatakan bahwa mereka memiliki banyak pilihan untuk pelonggaran moneter lebih lanjut, dan menekankan bank sentral akan menyesuaikan kebijakan jika dibutuhkan untuk mencapai target inflasi 2% sekitar bulan Maret 2016 mendatang. BoJ telah meningkatkan kepemilikan Japan Government Bond secara substansial, namun jumlahnya masih 20% dari total JGB yang beredar. BOJ sendiri tidak menutup pintu untuk adanya pelonggaran baru apabila laju inflasi menjauh dari sasaran.

Subsidi Energi, Kenaikan Fed Rate Masih Hantui Indonesia

Lega rasanya ketika FOMC The Fed memutuskan untuk menghentikan stimulus. Meskipun angkanya sudah sangat rendah, tapi tetap saja ketidakpastian kapan stimulus tersebut dihentikan telah menjadi fokus ekonomi Indonesia. Setelah ini pun ketidakpastian akan kenaikan suku bunga The Fed (Fed Rate) masih akan menghantui Indonesia.  Ekonomi Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan pada kecepatan paling lambat sejak tahun 2009, tengah menghadapi ancaman defisit transaksi berjalan yang berada di dekat rekor tertingginya, serta kemungkinan perubahan kebijakan the Fed pada tahun depan. Kondisi ini menjadi ancaman potensi arus keluar dana dari pasar modal Indonesia.

Presiden Joko Widodo diperkirakan segera menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) untuk menciptakan ruang fiskal lebih besar. Akan tetapi pasar masih akan menantikan kapan kepastian pelaksanaannya. Menteri Keuangan RI, Bambang Brodjonegoro, memberikan kepastian akan rencana pemerintah untuk menaikan harga BBM bersubsidi sebelum akhir tahun ini. Namun, tanggal kenaikan serta besarnya kenaikan harga belum diinformasikan. Hal senada juga disampaikan Wakil Presiden Jusuf Kalla, bahwa harga BBM bersubsidi sudah pasti akan dinaikkan dalam waktu dekat.

Di sisi lain, pasar akan mencermati kemampuan pemerintah dalam meredam dampak kenaikan harga bahan pokok jika harga BBM dinaikkan. Jika tidak diredam, gejolak harga dari kebutuhan pokok tersebut diperkirakan akan memicu inflasi lebih tinggi dan akan meningkatkan potensi depresiasi rupiah.

Pasar juga sedang menantikan bagaimana kebijakan moneter Bank Indonesia menghadapi potensi meningkatnya inflasi pasca kenaikkan harga bbm bersubsidi dan ancaman rupiah yang berpotensi semakin melemah. Tahun lalu, BI sudah menaikkan suku bunga acuan hingga 7,50%. Kebijakan memperketat moneter diambil BI sebagai upaya meredam rupiah yang terus melemah sejak The Fed merubah arah kebijakan moneternya pertengahan 2013. Dampak Kenaikkan BI Rate ini membuat perekonomian Indonesia berjalan lebih lambat. Bahkan, Ekonomi Indonesia saat ini mengalami pertumbuhan pada kecepatan paling lambat sejak tahun 2009.

Menanti Rilis Data Ekonomi Indonesia

Pasar Domestik masih menantikan laporan data-data perekonomian Indonesia yang rilis awal November ini. Mulai dari inflasi bulan Oktober, neraca perdagangan, cadangan devisa, dan fokus utama yaitu laporan pertumbuhan perekonomian Indonesia kuartal tiga tahun 2014. Selain itu, di akhir pekan sebelumnya sebagian besar emiten sudah melaporkan kinerjanya. Hasilnya, beberapa sektor masih menunjukan kinerja yang menurun.

Sektor Coal Mining masih menunjukan kinerja melemah hingga kuartal 3 tahun 2014. Beberapa perusahaan sektor Coal Mining besar seperti Adaro Energi (kode saham ADRO) mencatatkan laba bersih turun hampir 29%, meskipun perolehan pendapatan hingga kuartal 3 tercatat meningkat sebesar 3%. Anak usaha Indika Energy Tbk, Petrosea (kode saham PTRO) juga masih mencatatkan kinerja kurang memuaskan. Tercatat, kinerja penjualan yang menurun 3%, membuat laba bersih yang didapatkan tergerus hingga 81%. Hingga kuartal 3 2014, Petrosea mencatatkan laba bersih US$ 3.122.000 atau lebih rendah dari laba bersih hingga kuartal 3 tahun 2013 yang mencapai US$ 16.535.000.

pertambangan batubara indonesia - ilustrasi
Sektor coal mining yang masih mencatatkan kinerja bagus adalah PT. Bukit Asam, Tbk (PTBA). Perusahaan plat merah tersebut mampu mencatatkan kenaikan laba bersih sebesar 26%, dengan kenaikan pendapatan sebesar 19%. Selain Bukit Asam, Samindo Resources (MYOH) juga mencatatkan peningkatan kinerja. Tercatat penjualan yang meningkat hingga 30% atau sebesar 2,2 triliun, dengan laba bersih berhasil dicetak meningkat 59% sebesar 215 miliar.

Berbeda dengan sektor Coal Mining, sektor Crude Palm Oil hingga kuartal tiga 2014 terus melanjutkan peningkatan kinerja. Astra Agro Lestari (AALI) misalnya, memperoleh pendapatan meningkat hingga 41% atau sebesar 11 triliun. Laba bersih yang diperolehnya naik signifikan hingga 104%, sebesar 1,9 triliun.

Pelemahan kinerja yang cukup signifikan dialami emiten sektor pakan ternak. Dari rilis data yang dilaporkan, laba bersih yang dicetak Malindo Feedmill (MAIN) dan Japfa (JPFA) mengalami pelemahan cukup signifikan, masing-masing sebesar 92% dan 54% walaupun penjualan masing-masing perusahaan tersebut mengalami kenaikan sebesar 9% dan 17%. Kenaikan signifikan beban operasional masih menjadi masalah yang belum terselesaikan. Akibat biaya beban operasional meningkat, nett profit margin (NPM) masing-masing emiten tergerus hingga cukup signifikan. Malindo Feedmill hingga kuartal tiga tahun 2013 masih mencatatkan margin 8%, tetapi tahun ini margin yang diperoleh hanya 1%, atau tergerus hingga 93%. Margin yang dicatat Japfa di tahun 2013 sebesar 5%, namun di tahun ini marginnya hanya sebesar 2%, atau turun 60%.

Sementara itu, dari rilis data sektor consumer good, emiten sektor ini masih mencatatkan kinerja yang cukup baik. ICBP misalnya, masih mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 21% dengan laba bersih yang dicetak meningkat 6%. Begitu pula dengan penjualan GGRM yang masih meningkat 20% dengan peningkatan laba bersih sebesar 24%. KLBF juga mencatatkan peningkatan penjualan sebesar 12% dan laba bersihnya meningkat sebesar 9%.

Penerbitan data laporan kinerja emiten d iakhir pekan kemarin sepertinya baru akan direspon pasar pada pekan ini. Sebagian besar emiten memang mencatatkan kinerja kurang memuaskan, seiring dengan perlambatan ekonomi yang sedang terjadi sekarang. Pasar juga sedang menantikan bagaimana data-data makro ekonomi Indonesia yang akan rilis mulai awal pekan ini. Sehingga, patut kita cermati bagaimana data-data tersebut sebelum kita memutuskan untuk investasi.


Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.