Advertisement

iklan

Ancaman Perlambatan Ekonomi Pasca Kenaikan Harga BBM Bersubsidi

Perdagangan di minggu pertama November ini IHSG mengalami pelemahan sebesar 1.41%. Pelemahan ini tidak terlepas dari rilis laporan keuangan emiten tercatat yang menunjukan pelemahan kinerja. Selain itu, pelemahan IHSG sepekan juga karena rilis laporan perekonomian Indonesia yang menunjukan bahwa perekonomian Indonesia masih melemah.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

IHSG pada perdagangan terakhir minggu pertama bulan November ditutup di level 4,987.42. Dengan demikian, perdagangan di minggu pertama November ini IHSG mengalami pelemahan sebesar 1.41%. Pelemahan ini tidak terlepas dari rilis laporan keuangan emiten tercatat yang menunjukan pelemahan kinerja. Selain itu, pelemahan IHSG sepekan juga karena rilis laporan perekonomian Indonesia yang menunjukan bahwa perekonomian Indonesia masih melemah.

Pertumbuhan Indonesia Melambat

Awal bulan Oktober kemarin, Bank Dunia kembali memangkas target pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 5.2%, dibandingkan dengan pertumbuhan tahun lalu sebesar 5.8%. Menurut Bank Dunia perekonomian Indonesia sangat tergantung pada kinerja ekspor. Sementara itu ekpor Indonesia tengah mengalami kelesuan, menyusul harga komoditas sebagai barang ekspor utama Indonesia terus mengalami penurunan. Benar saja, pertumbuhan ekonomi Indonesia nyatanya hanya tumbuh sebesar 5.01% pada kuartal ketiga tahun 2014. Sedangkan, pada kuartal kedua tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa tumbuh sebesar 5.12%. Dengan demikian, sepanjang Juli hingga September 2014, perekonomian Indonesia hanya tumbuh 2.96%.


Pertumbuhan GDP IndonesiaPertumbuhan GDP Indonesia Kuartal IV Tahun 2011-Kuartal III Tahun 2014

Faktor perlambatan dari dalam negeri terlihat dari permintaan domestik dan investasi yang berjalan lebih lambat dari periode sebelumnya. Konsumsi rumah tangga angkanya turun menjadi 5.4% YoY pada kuartal III/2014 dari 5.6%, dipicu oleh melambatnya konsumsi barang non-makanan. Setelah membukukan pertumbuhan 6.5% YoY pada semester I/2014, pertumbuhan konsumsi non-makanan turun menjadi 6.2% pada kuartal III/2014. Ke depannya, penyesuaian harga barang yang komponen harganya diatur pemerintah terlihat telah menekan daya beli konsumen di periode yang sama.

Sementara itu, investasi Gross Fixed Capital Formation (GFCF), juga mengalami penurunan menjadi 4% YoY pada kuartal III/2014 dari 5.2% pada kuartal II/2014. Dua komponen faktornya adalah, pertama, permintaan terhadap mesin asing berkontraksi 1.2% YoY dari sebelumnya tumbuh positif sebesar 6.7% YoY. Kedua, pertumbuhan investasi gedung melambat jadi 6.3% YoY pada kuartal III/2014 dari sebelumnya 6.6% YoY pada kuartal II/2014. Perlambatan ini sebagai dampak dari kebijakan pengetatan moneter BI, terutama pengukuran makro prudensial pada sektor properti.

Pertumbuhan ekonomi yang semakin rendah di kuartal ketiga ini semakin membuat pasar khawatir pertumbuhan hingga akhir tahun tidak akan mencapai 5%. Mengingat, konsumsi rumah tangga akan melambat ke depannya karena kenaikan harga BBM dan penyesuaian tarif listrik lanjutan. Selain itu, ekonomi global masih tumbuh melambat, ekonomi Cina hanya tumbuh 7.8%, dan perekonomian Jepang pun cuma tumbuh 0.2%; berdampak negatif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia terutama pada ekspor tertekan. Apalagi harga komoditas ekspor andalan Indonesia seperti batu bara dan kelapa sawit belum membaik.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia yang kembali mengalami defisit sebesar US$270.3 juta pada September 2014, dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Ekspor pada September 2014 mencapai US$15.28 miliar meningkat 6.48% MoM dan 2.94% YoY. Meskipun Freeport sudah dibolehkan mengekspor tembaganya, namun ternyata dampaknya tidak signifikan pada ekspor kuartal III/2014 (dampaknya hanya akan terlihat pada bulan September saja) dan tidak cukup untuk menutupi penurunan volume dari ekspor komoditas lain pada kuartal III/2014.


Neraca Perdagangan IndonesiaNeraca Perdagangan Indonesia Oktober 2013-September 2014

Sementara impor pada September 2014 mencapai US$15.55 miliar, atau naik 5.09% MoM dan 0.23 % YoY. Impor mengalami rebound pada komoditas minyak. Impor minyak mengalami rebound terbesar karena berkontribusi 3.2ppt dari 5.1% MoM dari total impor (US$15.5 miliar) pada bulan September. Sementara itu, impor barang modal dan barang konsumsi masih ringan dengan kontribusi masing-masing 0.8ppt dan 0.02ppt karena pertumbuhan headline. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia periode Januari-September 2014 mengalami defisit sebesar US$1,668 miliar dollar AS, yang terutama disebabkan oleh defisit neraca perdagangan migas sebesar US$9,617 miliar.

Kenaikan Inflasi, Harga BBM Bersubsidi

Inflasi indeks harga konsumen (CPI) dibukukan 0.47% MoM atau 4.83% YoY pada Oktober karena kenaikan komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices). CPI tersebut di atas prediksi Mandiri Sekuritas dan konsensus yaitu sebesar 0.33% MoM. Kontributor utama kenaikan inflasi bulanan adalah kenaikan tarif listrik rumah tangga (0.14ppt), harga LPG (0.08ppt), dan makanan mentah maupun olahan (0.13ppt). Sementara itu, inflasi di luar makanan dan energi, inflasi inti masih terukur yaitu sekitar 4% YoY dalam 2 bulan terakhir. Secara umum, inflasi sepanjang Januari hingga oktober masih relatif ringan yaitu 4.19% YoY. Sehingga, inilah kesempatan pemerintah untuk merealisasikan kebijakan menaikkan harga bbm bersubsidi.


Inflasi IndonesiaLaju Inflasi Indonesia (MoM) November 2013-Oktober 2014

Sinyal kenaikan harga BBM bersubsidi ini semakin jelas terlihat,  karena pada saat ini pemerintah sedang menyiapkan dana kompensasi senilai Rp6.4 triliun yang akan diberikan kepada 12.5 juta keluarga miskin. Setiap rumah tangga akan diberikan Rp200,000 per bulan selama 2 bulan melalui distribusi Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) bersama dengan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Pengurangan anggaran subsidi energi dengan cara menaikkan harga BBM bersubsidi dinilai sebagai program yang bagus untuk fiskal Indonesia. Apalagi, dana yang semula digunakan untuk subsidi energi dialihakan untuk mendanai infrastuktur. Maka, kenaikan harga BBM bersubsidi akan bagus bagi perekonomian Indonesia dalam jangka panjang.

Akan tetapi, dampak jangka pendek dari kenaikan BBM bersubsidi dapat memicu terjadinya inflasi, yaitu kenaikan harga produk maupun jasa di semua sektor. Dan, BI rate kemungkinan akan dinaikkan segera setelah kenaikan BBM untuk menjaga ekspektasi inflasi. Meskipun demikian, kemungkinan peningkatan BI Rate akan terbatas. Seperti halnya yang  terjadi pada 2008 dan 2013 ketika kenaikan BI rate terjadi sekitar 160bps. Jika BBM dinakkan, BI Rate diperkirakan akan mengalami kenaikan sebesar 50bps menjadi 8,00% dan masih flat hingga akhir 2015.

Selain BI Rate yang kemungkinan akan dinaikkan untuk meredam inflasi, inflasi juga dapat melamahkan tingkat konsumsi masyarakat. Padahal, hingga kini tingkat konsumsi masyarakat Indonesia mengalami pelemahan. Sehingga, dengan naiknya harga BBM, tingkat konsumsi masyarakat Indonesia diperkirakan akan ikut melemah. Dan jika pelemahan konsumsi ini terus berlanjut, maka pertumbuhan ekonomi Indonesia pun terancam mengalami perlambatan.

Perlambatan ekonomi Indonesia dan kenaikan BI Rate jelas bukan kondisi yang baik bagi emiten tercatat di Bursa Efek Indonesia. Mengingat, dengan naiknya BI Rate akan memperbesar beban keuangan dan akan mengikis laba bersih. Selain BI Rate, kenaikan biaya operasional dan bahan baku pasca kenaikan harga BBM bersubsidi juga dapat menipiskan laba bersih emiten. Di samping itu, pelemahan ekonomi domestik dapat menurunkan kinerja penjualan emiten. Hal ini dikarenakan, pelemahan ekonomi yang diikuti dengan melemahnya daya beli masyarakat membuat produk - produk emiten kurang laku di pasaran. Sehingga, dalam jangka pendek kenaikan BBM bersubsidi ini memberikan dampak negatif. Namun, jika inflasi cepat stabil pasca harga BBM bersubsidi dinaikkan, maka dampak negatif ini pun akan pupus.

Kenaikan harga BBM bersubsidi ini juga diharapkan akan memperbaiki defisit neraca perdagangan Indonesia. Mengingat, kondisi neraca perdagangan Indonesia menjadi fokus utama pergerakan kurs rupiah. Posisi cadangan valas diprediksi akan mencapai US$112 miliar-US$113 miliar, lebih tinggi dari posisi September US$111.2 miliar. Kenaikan itu disebabkan oleh aksi intervensi BI yang berkurang di pasar valas, diikuti dengan penyerapan valas oleh BI pada akhir bulan Oktober kemarin, sebesar US$1 miliar. Posisi akhir instrumen valas BI mencapai USS$16.8 miliar atau berporsi 15% dari total devisa. Karena itu, devisa riil (real reserve) diprediksi akan mulai naik hingga US$ 96 miliar pada oktober dari US$95.5 miliar pada bulan sebelumnya, dan mengindikasikan adanya perbaikan transaksi perdagangan Oktober.

Cadangan devisa diprediksi akan berkisar US$112 miliar-US$113 miliar atau angka tersebut setara dengan 6.6 bulan kebutuhan impor, lebih tinggi daripada ketentuan minimum IMF yang masing-masing 5.7 bulan dan 3 bulan. Kemampuan devisa untuk menutupi pelunasan utang eksternal jangka pendek juga membaik. Rasio utang jangka pendek terhadap devisa turun menjadi 52% pada oktober dari 56% pada januari. Sejak awal tahun, posisi instrumen valas BI bertambah hampir dua kali lipat menjadi US$16,8 miliar dari US$8,9 miliar pada Januari.
 

Tanda-Tanda Perlambatan Ekonomi AS, China

Proyeksi ekonomi Indonesia kedepan juga dipengaruhi oleh sinyal-sinyal perlambatan ekonomi global. Kondisi perekonomian di dua negara paling dominan, Amerika Serikat dan China yang merupakan dua partner dagang utama Indonesia, juga menunjukkan pelemahan.

Kenaikan dollar yang terjadi secara terus menerus mulai mengikis pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat, dimana defisit perdagangan meningkat 7.6% menjadi US$43.03 milyar pada bulan September dari defisit $39.99 milyar pada bulan Agustus, ekspor merosot 1.5% dari bulan Agustus menjadi $195.59 milyar. Penurunan ekspor didominasi oleh pengiriman pasokan industri, barang modal dan barang konsumsi. Namun, sepanjang 9 bulan pertama tahun ini ekspor AS telah tumbuh 12.9% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, sedangkan impor naik 3.3%. Melemahnya permintaan AS untuk barang-barang produksi bisa menambah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan global. Menyusul hasil tersebut AS diperkirakan akan memangkas prediksi pertumbuhan ekonominya dari 3.5% untuk tahun ini karena lemahnya kinerja ekspor.

PMI sektor jasa China dari HSBC/Markit pada bulan Oktober turun menjadi 52.9, level terendahnya sejak Juli 2014. PMI sektor jasa China versi pemerintah berada pada level 53.8 di bulan Oktober, turun dari level 54,0 di bulan September. Level tersebut merupakan posisi terendahnya dalam 9 bulan. Selain itu, aktifitas manufaktur China menunjukkan tanda-tanda mulai stabil, dimana PMI final bulan Oktober dari HSBC berada pada level 50.4, naik dari level 50.2 di bulan September. Selain itu, PMI manufaktur versi pemerintah China berada pada level 50.8 di bulan Oktober, turun dari level 51.1 di bulan September.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.