Neraca Pembayaran Indonesia Positif, Ekonomi Kuartal VI Optimis

Di tengah ancaman perlambatan ekonomi Indonesia pasca kenaikan harga BBM bersubsidi, pencapaian pendapatan dan belanja pemerintah hingga kuartal ketiga 2014 dan neraca pembayaran Indonesia yang positif sedikit memberi angin segar.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Perdagangan di pekan terakhir Bursa Efek Indonesia kemarin mengantarkan IHSG naik ke level 5,049.49. Dengan demikian, selama sepekan IHSG mengalami kenaikkan sebesar 1.24%. Kenaikan ini sedikit memperbaiki posisi IHSG setelah di minggu awal bulan November sempat tergerus dalam hingga minus 2.01%. Sehingga, selama November 2014 IHSG mengalami pelemahan sebesar 0.79%.

Memasuki awal November, IHSG langsung merespon negatif pelemahan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang hanya sebesar 5.01% hingga akhir September. Selain itu, ketidakjelasan kapan dinaikkannya harga BBM (Bahan Bakar Minyak) bersubsidi juga ikut membuat investor khawatir dan resah. Mengingat, harga acuan minyak dunia terus mengalami pelemahan. Sehingga, pasar khawatir jika pemerintah akan menunda ataupun malah membatalkan rencana kenaikan harga BBM bersubsidi tersebut.

Ekonomi Indonesia - ilustrasi

Harga BBM Bersubsidi (Jadi) Naik Awal Desember?

Di tengah kekhawatiran pasar terkait kepastian kenaikan harga BBM bersubsidi, Wakil Presiden Jusuf Kalla menegaskan bahwa kenaikan BBM bersubsidi pasti dilakukan secepatnya setelah Presiden Jokowi tiba di Indonesia. Keputusan untuk memangkas besaran subsidi energi merupakan langkah yang paling ditunggu dari pemerintah. Dalam kesempatan presentasi di hadapan para pemimpin negara dan investor dunia, Presiden Jokowi menegaskan selama pemerintahannya akan fokus membangun infrastruktur. Presiden juga menyinggung besarnya dana yang sebelumnya terbuang untuk subsidi bahan bakar, akan dialihkan untuk mendanai terlaksananya proyek tersebut.

Sejak masa kampanye pemilihan presiden, Presiden Jokowi berjanji akan mengejar pembangunan infrastruktur Indonesia dinilai ketinggalan. Beberapa fasilitas seperti jalan, bandara dan pelabuhan akan dibangun sebagai sarana lebih memajukan perekonomian. Proyek infrastruktur tersebut akan dibangun dengan jumlah yang banyak dan menyebar dari pulau Sumatera hingga Papua. Proyek yang digagas pemerintah dinilai sangat baik, bahkan Bank Dunia menilai Indonesia dapat mengatasi perlambatan ekonominya jika pemerintah Indonesia mau menata dan membangun infrastrukturnya.

Setelah ajakan Presiden Jokowi dalam forum APEC ditanggapi positif oleh para pemimpin negara dan investor dunia, World Bank juga menawarkan bantuan untuk merealisasikan proyek pemerintah Jokowi. Kini pasar menanti langkah pemerintah guna merealisasikan sejumlah proyek tersebut, salah satunya adalah keberanian pemerintah untuk mengalihkan alokasi dana subsidi BBM ke  infrastruktur.

BBM Bersubsidi - ilustrasi
Kepastian untuk menaikkan harga BBM Bersubsidi tentu akan membuat tingkat konsumsi masyarakat akan menurun karena terjadinya inflasi, juga menyebabkan ekonomi Indonesia akan tumbuh lebih lambat. Namun, hal tersebut akan terjadi dalam jangka pendek, sedangkan untuk kedepannya pemindahan anggaran dari subsidi energi ke pendanaan infrastruktur akan menjadikan perkembangan perekonomian dalam jangka panjang lebih baik.

Kenaikan harga BBM Bersubsidi dan ancaman perlambatan konsumsi masyarakat membuat laju IHSG  sedikit tersendat. Banyak harga saham perusahaan tercatat yang menurun. Seperti saham sektor konsumer, properti dan transportasi. Namun, kenaikan harga BBM bersubsidi ini justru membuat emiten konstruksi dan emiten pendukung seperti semen mengalami penguatan.

Perdagangan saham-saham konstruksi selama kuartal empat berjalan, seperti Wijaya Karya (WIKA) mengalami penguatan sebesar 18.6%. Waskita Karya (WSKT) juga tumbuh sebesar 18.6%. Dan juga, PT PP menguat 33.3%. Sedangkan saham pendukung seperti saham Emiten semen juga ikut menguat. Misalnya, Indocement (INTP) yang naik 12.3% selama kuartal empat berjalan. Dan juga Semen Indonesia (SMGR) yang juga naik sebesar 3.6% dalam periode yang sama. Penguatan harga saham-saham tersebut tidak lepas dari optimisme proyek infrastruktur yang pemerintah laksanakan akan berdampak pada kinerja perusahaan – perusahaan tersebut.

Neraca Pembayaran Indonesia Positif

Di tengah ancaman perlambatan ekonomi Indonesia pasca kenaikan harga BBM bersubsidi, pencapaian pendapatan dan belanja pemerintah hingga kuartal ketiga 2014 dan neraca pembayaran Indonesia yang positif sedikit memberi angin segar.

Realisasi pendapatan negara dan hibah hingga akhir September  telah mencapai sekitar 66.1% dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2014, atau telah mencapai 1,081.31 triliun rupiah. Capaian ini sekaligus menunjukkan peningkatan jika dibandingkan realisasi pendapatan negara dan hibah pada periode yang sama tahun lalu, yang mencapai 982.16 triliun rupiah atau 65.4% dari pagu APBNP 2013.

Peningkatan tersebut disebabkan persentase realisasi penerimaan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) lebih tinggi 4.9%, meskipun realisasi penerimaan perpajakan lebih rendah 0.7% dibandingkan persentase realisasi tahun lalu. Sementara itu, realisasi belanja hingga 30 September 2014 mencapai Rp1,234.67 triliun, atau 65.8% dari pagu APBN-P 2014. Pada periode yang sama tahun lalu, realisasi belanja baru mencapai 63.3% dari pagu APBNP 2013, atau mencapai Rp1,092.74 triliun.

Defisit transaksi berjalan pada kuartal ketiga dilaporkan sebesar USD6.8 miliar atau 3.07 persen PDB. Jumlah tersebut lebih rendah dari defisit sebelumnya yang mencapai USD8.7 miliar atau 4.85 persen PDB pada triwulan kedua 2014. Namun, transaksi finansial kuartal ketiga mengalami surplus sebesar US$13.7 miliar. Sehingga,  mampu menutupi transaksi berjalan yang defisit sebesar US$6.8 miliar. Secara keseluruhan, Neraca Pembayaran Indonesia masih melanjutkan tren positif, yaitu surplus US$6.5 miliar pada kuartal ketiga 2014. Jumlah tersebut meningkat dari Neraca Pembayaran Indonesia kuartal kedua USD4.3 miliar. Kondisi ini memberi sedikit angin segar bagi pasar.

Sementara itu, Bank Indonesia masih mempertahankan BI Rate di level 7.5%. BI juga mempertahankan landing facility tetap di level 7.5%, serta fasilitas simpanan Fasbi bertahan di 5.75%. Keputusan tersebut diambil setelah BI melihat adanya kenaikan inflasi di bulan Oktober. Meskipun mengalami kenaikan, inflasi masih berada di level yang aman.

Selain itu, realisasi investasi hingga kuartal ketiga 2014 mencapai 199.9 triliun Rupiah. Jumlah tersebut masih didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang mencapai Rp78.3 triliun. Sedangkan, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) hanya sebesar Rp41.6 triliun. Secara keseluruhan, total realisasi investasi Januari-September 2014 tembus Rp342.7 triliun, atau 75.1% dari target Rp456.6 triliun. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari realisasi investasi pada periode yang sama tahun 2013, yang sebesar Rp293.3 triliun. Tingginya realisasi investasi pada  kuartal ketiga 2014 ini menunjukkan bahwa Indonesia masih menarik dan dipercaya investor.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.