Optimisme Ekonomi Domestik Ditengah Perkembangan Global

Beberapa isu penting terjadi selama bulan November. Mulai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih lambat sebesar 5.01% di kuartal III, hingga kenaikan harga BBM bersubsidi. Dari luar negeri pun, terdapat berbagai kabar mengenai perkembangan ekonomi terkini yang akan mempengaruhi perekonomian global.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pada perdagangan di hari terakhir bulan November, IHSG terangkat menuju level 5.149,88. Dengan posisi tersebut, IHSG tercatat mengalami kenaikan dalam 3 minggu terakhir. Dan dengan posisi tersebut juga mencatatkan, bahwa perdagangan IHSG selama bulan November mengalami penguatan sebesar 1.19%.

Sebagai informasi, secara bulanan sejak Desember 2013, IHSG tercatat selalu menguat. Hanya pada bulan Juni dan Oktober saja, IHSG secara bulanan mengalami pelemahan. Pada perdagangan bulan Juni, IHSG mengalami melemah sebesar 0.31%. Sedangkan, pada bulan Oktober IHSG mengalami pelemahan signifikan hingga -0.93%. Setelah melewati 11 bulan perdagangan, dan dengan 9 bulan mengalami kenaikan serta hanya 2 bulan mengamai penurunan tersebut, kini pertumbuhan IHSG tercatat sebesar 20.49% dari Januari hingga November.


Grafik IHSGGrafik IHSG Desember 2013-Desember 2014

Beberapa isu penting terjadi selama bulan November. Mulai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) terkait perekonomian Indonesia yang tumbuh lebih lambat sebesar 5.01% di kuartal III, hingga keputusan pemerintah yang akhirnya menaikkan harga BBM bersubsidi, untuk jenis premium dan solar terhitung per tanggal 18 November kemarin. Dari luar negeri pun, terdapat berbagai kabar mengenai perkembangan ekonomi terkini yang akan mempengaruhi perekonomian global.

Mengantisipasi Lonjakan Inflasi

Laporan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang melambat sebelumnya sudah dikhawatirkan banyak banyak pihak. Tidak hanya ekonom dari dalam negeri, lembaga dunia seperti World Bank dan IMF juga mengkhawatirkan hal serupa. Namun, setelah pemerintah memberi kepastian pemangkasan anggaran energi, dan mengalihkannya untuk merealisasikan pembangunan infrastruktur, optimisme bahwa perekonomian Indonesia akan kembali tumbuh tinggi seperti tahun-tahun sebelumnya kembali.

Rasa optimisme tersebut juga nampak dari kepemilikan asing di Surat Berharga Negara (SBN) yang mengalami kenaikan sebesar 39.18% menjadi 478.29 Triliun, pada SBN yang diperdagangkan pada 26 November 2014. Selain itu, total dana FDI juga tercatat mengalami kenaikan sebesar 19.3% YoY sebesar 109.9 triliun di kuartal III 2014.

Namun, saat ini pasar masih menantikan rilisan data ekonomi Indonesia pasca kenaikan harga BBM bersubsidi. Seperti biasa, di awal bulan, data makro ekonomi seperti inflasi Indonesia akan dilaporkan oleh BPS. Rilisan data inflasi awal bulan ini menjadi lebih menarik. Mengingat, dari data inflasi tersebut kita semua akan tahu, seberapa besar kenaikan bbm bersubsidi dampak pada kenaikan harga barang secara keseluruhan. Bank Indonesia (BI) memperkirakan bahwa kenaikan harga BBM dapat menyebabkan laju inflasi mencapai 7.7- 8.1% untuk 2014. Sehingga, untuk mengantisipasi lonjakan inflasi, BI memutuskan untuk menaikkan BI rate sebesar 25 bps menjadi 7.75%.

Ekonomi Amerika Pulih Stabil

Perekonomian Amerika Serikat semakin menunjukan perbaikan yang stabil. Dari publikasi terakhir data ekonomi tercatat, data personal income Amerika pada bulan Oktober tumbuh sesuai estimasi 0.2%, setelah sebelumnya tumbuh 0.4%. Data personal spending Amerika juga membaik dengan pertumbuhan sebesar 0.2%. Meskipun perumbuhan tersebut dibawah estimasi konsensus sebesar 0.3%, namun kenaikan ini masih lebih daik dari bulan sebelumnya yang stagnan. Selain itu, data penjualan rumah baru Amerika Serikat meningkat menjadi 458,000 dari 455,000. Akan tetapi, pengajuan tunjangan pengangguran Amerika Serikat baru saja tembus di atas level 300,000 untuk pertama kalinya. Initial jobless claims Amerika Serikat naik ke level 331,000 dari level 292,000.

Selain itu, data Penjualan ritel Amerika Serikat naik 0.3% di bulan Oktober, melebihi ekspektasi sebesar 0.2%, dan data awal indeks kepercayaan konsumen AS juga naik ke level 89.4 di bulan November, level tertingginya sejak Juli 2007.

Pertumbuhan PDB Amerika Serikat telah melampaui kenaikan konsensus. GDP negara ini dilaporkan oleh Departemen Perdagangan, meningkat dari 3.5% menjadi 3.9% pada kuartal ketiga. Dengan kenaikan tersebut, Kementerian Perdagangan Amerika Serikat merevisi naik estimasi PDB Amerika Serikat pada kuartal ketiga ke 3.9% YoY dari 3.5% YoY. Pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat sedikir menjadi titik terang dari ekonomi global. Di sisi lain, tingkat konsumsi personal Amerika Serikat juga meningkat sebesar 2.2% dari 1.8%. Namun, tingkat kepercayaan konsumen Amerika Serikat menurun ke level terendah dalam 5 bulan.

Namun, dari rilis data survey Markit Service PMI Amerika Serikat yang tercatat di level 56.3, lebih rendah dari level 57.1 di bulan Oktober. Selain itu, data Markit Composite PMI Amerika Serikat juga turun ke level 56.1 dari level 57.2. Meskipun kedua rilis data menunjukan penurunan, kedua indikator tersebut masih berada di atas level 50, atau masih menunjukkan sinyal ekspansi dalam perekonomian Amerika Serikat.

Zona Euro Kembali Melambat

Inflasi kawasan euro kembali melambat di bulan November. Tercatat, Inflasi 0.3% dibanding bulan yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan, inflasi tahunan zona Euro tercatat 0.4%. Dengan demikian, kenaikan inflasi tersebut merupakan terlambat dalam lima tahun terakhir, dan jauh dibawah target ECB sebesar 2.0%.

Kenaikan inflasi yang lebih lambat semakin menunjukan belum adanya perbaikan ekonomi Zona Euro. Hal ini semakin menguatkan akan stimulus tambahan guna mendorong pertumbuhan ekonomi. Seperti yang diumumkan Presiden Bank sentral Eropa, Mario Draghi menegaskan akan menambah stimulus moneter untuk mencapai target inflasi. Bahkan Mario Draghi juga menyatakan kemungkinan pelonggaran moneter tambahan itu akan dilakukan dalam waktu dekat. Hal ini disebabkan oleh pergerekan harga sejumlah barang yang menurun ke level yang dianggap terlalu rendah.

Selain itu, Kepala komisi Uni Eropa, Jean Claude Juncker, bahwa akan ada inisiatif 3 tahun senilai €315 miliar untuk kembali mendorong perekonomian Eropa. Entitas akan berbagi risiko proyek baru dengan investor swasta, dan komisi Uni Eropa akan menjaminkan sebanyak €16 miliar & €5 miliar dari European investment bank. Proposal itu diharapkan menciptakan lapangan kerja dan pertumbuhan di Eropa. Dana Eropa untuk investasi strategis itu harus memperoleh persetujuan dari 28 pemimpin negara di Uni Eropa dalam KTT Desember mendatang.

Namun, pemulihan ekonomi zona euro masih memiliki harapan, setelah indeks kepercayaan bisnis Jerman secara tak terduga naik untuk pertama kalinya dalam 7 bulan terakhir. Ifo institute’s business climate index naik ke level 104.7 di bulan November dari level 103.2 di bulan Oktober. Tingkat pengangguran Jerman juga mengalami penurunan sebesar 14,000 pada bulan November, melebihi konsensus sebesar 1,000. Sedangkan, secara keseluruhan tingkat pengangguran Jerman di level 6.6%. Level tingkat pengangguran Jerman sedikit lebih baik dibandingkan Spanyol yang mencatatkan di level 26%. Dengan demikian, tinggat pengangguran kawasan EURO masih stagnan di level 11.5%.

Perlambatan Ekonomi China

Tanda-tanda perlambatan ekonomi China masih jelas terlihat. Seperti dari data Data Harga Rumah China turun 2.6% YoY di bulan Oktober, dan data awal PMI manufaktur China dari HSBC yang turun ke level 50 untuk bulan November dari 50.4 di bulan Oktober. Dengan penurunan PMI Manufacture tersebut, menunjukan bahwa sinyal ekspansi dalam perekonomian China mengalami penurunan

Pemerintah China, melalui Bank Sentralnya tiba-tiba memangkas suku bunga pinjaman satu tahun sebesar 0.4% ke level 5.6%. PBOC menurunkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya setelah lebih dari 2 tahun. Keputusan tersebut diambil guna mendorong perekonomian yang sedang melemah. Selain itu, pemotongan ini dilakukan sebagai cara untuk menunjukkan adanya reformasi ekonomi dalam pemberian pinjaman bank yang tidak memberatkan para nasabah. Para pemimpin Cina sendiri khawatir bahwa perlambatan ekonomi drastis akan mengurangi lapangan pekerjaan.

Alumni jurusan Manajemen Universitas Negeri Semarang yang aktif di bidang saham sejak masa kuliah. Royan berfokus pada analisa fundamental dalam memilih investasi potensial, khususnya valuasi emiten.