Fokus Stabilisasi Rupiah, BI Perketat Syarat Beli Dolar

Pada Rapat Dewan Gubernur kemarin (18/8), Bank Indonesia memutuskan untuk membiarkan suku bunga acuan berada pada 7.5%. Di saat yang sama, bank sentral juga mengumumkan pengetatan persyaratan untuk membeli Dolar.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Pada Rapat Dewan Gubernur kemarin (18/8), Bank Indonesia memutuskan untuk membiarkan suku bunga acuan berada pada 7.5% dengan suku bunga simpanan 5.50% dan suku bunga pinjaman pada level 8.00%. Di saat yang sama, bank sentral juga mengumumkan pengetatan persyaratan untuk membeli Dolar.

Dolar Rupiah - ilustrasi

Dalam menghadapi perlambatan pertumbuhan ekonomi Indonesia, sejumlah pihak telah menghimbau Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga. Namun demikian, pemangkasan suku bunga acuan tidak dimungkinkan saat Rupiah sedang terdepresiasi seperti sekarang. Menurut Gubernur BI Agus Martowardojo seperti yang disampaikannya pada media di Jakarta, fokus kebijakan BI dalam jangka pendek adalah untuk melindungi stabilitas Rupiah.

Untuk alasan tersebut juga, Bank Indonesia kini akan meminta underlying documents untuk pembelian minimal 25,000 Dolar AS. Sebelumnya, underlying documents baru diminta untuk pembelian minimal 100,000 Dolar AS. Peraturan ini dimaksudkan untuk menstabilkan Rupiah dengan membatasi transaksi spekulatif terhadap Dolar AS.

Selain itu, Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya terus bergerak aktif di pasar valas dan obligasi untuk melindungi nilai Rupiah yang telah merosot ke wilayah undervalued. Kepada wartawan, Deputi Gubernur Perry Warjiyo mengatakan BI akan membeli obligasi di pasar sekunder dalam rangka menjaga stabilitas Rupiah. Deputi Gubernur Mirza Adityaswara pun menyebutkan sejumlah langkah lain, seperti optimalisasi repo dan pengaturan likuiditas jangka pendek yang berlebih.

Keputusan BI untuk mempertahankan suku bunga pada 7.5% tersebut didukung oleh para analis, meski masih ada perbedaan pendapat mengenai apakah otoritas moneter Indonesia tersebut sebaiknya menaikkan atau menurunkan suku bunga dalam beberapa bulan ke depan. Daniel Wilson dari ANZ Banking Group Ltd. mengatakan pada Bloomberg bahwa stabilitas Rupiah merupakan prioritas kunci saat ini, namun ia mengestimasi akan ada pemotongan 50 basis poin di akhir tahun. Sedangkan Eric Sugandi dari Standard Chartered Bank setuju bahwa BI tak perlu terburu-buru menaikkan suku bunga, tetapi merekomendasikan kenaikan sebesar 25 basis poin pada bulan September saat the Fed diperkirakan akan menaikkan suku bunganya.

 

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


M Faisal
saya pribadi sangat setuju Bank indonesia harus konrol terhadap mata uang asing terhadap mata uang rupiah dan membatasi penjualan dollar terhadap spekulan dollar atau menintervesi  dollar terhadap rupiah