Pasar Pesimis Fed Rate Naik, Reli Rupiah Masih Rapuh

Nilai tukar mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, reli pekan ini setelah laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan membuat pelaku pasar makin pesimis Fed rate bisa dinaikkan dalam tahun 2015. Namun tadi pagi (10/8) Rupiah sedikit melangkah mundur terhadap Dolar AS.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Nilai tukar mata uang-mata uang negara berkembang, termasuk Rupiah, reli pekan ini setelah laporan ketenagakerjaan AS yang mengecewakan membuat pelaku pasar makin pesimis Fed rate bisa dinaikkan dalam tahun 2015. Namun tadi pagi (10/8) Rupiah sedikit melangkah mundur terhadap Dolar AS.

Nilai Tukar Rupiah - ilustrasi

Setelah dibuka pada 14,640 per Dolar AS di awal pekan, kurs Rupiah terus reli hingga mencapai 13,703 tadi malam. Akan tetapi pagi ini Rupiah bounce ke kisaran 13,800-13,900an. Saat ulasan ditulis, USD/IDR spot exchange rate di Bloomberg tercatat pada 13,895. Reli Rupiah didorong oleh peningkatan arus modal masuk, tetapi dinilai masih rapuh.

 

Pasar Pesimis Fed Rate Naik Tahun 2015

Keputusan rapat kebijakan bank sentral AS pada bulan September lalu untuk tidak menaikkan suku bunganya (Fed Rate) serta buruknya data ketenagakerjaan AS yang dirilis akhir pekan lalu (Nonfarm Payrolls/NFP) membuat pelaku pasar memperkirakan Fed rate baru bisa dinaikkan tahun 2016.

Presiden Fed San Fransisco yang juga voting member FOMC 2015, John Williams, dalam pidatonya kemarin mengatakan bahwa kenaikan Fed rate tahun ini "masih masuk akal", tetapi banyak yang berpendapat berbeda. Berdasarkan data Bloomberg dari pasar futures, probabilitas kenaikan Fed rate dalam tahun 2015 telah merosot dari 77 persen pada dua bulan yang lalu menjadi hanya 37 persen kini. Sedangkan bank kawakan asal Perancis yang juga bank terbesar ketiga Dunia, BNP Paribas, memperkirakan musim dingin di akhir tahun bisa kian melemahkan data-data ekonomi AS, sehingga mereka menggeser ekspektasi kenaikan Fed Rate ke bulan Maret 2016.

 

Paket Stimulus Ketiga

Sejalan dengan ekspektasi itu, nilai tukar mata uang-mata uang negara berkembang di Asia menguat, khususnya Rupiah yang telah diperdagangkan dalam status oversold terhadap Dolar AS dalam beberapa bulan terakhir. Diluncurkannya paket stimulus ketiga kemarin juga meningkatkan optimisme investor dan ikut menunjang masuknya kembali dana-dana investasi ke pasar modal.

Paket stimulus ketiga diumumkan setelah dua paket stimulus kurang direspon pasar. Paket kebijakan terbaru ini diantaranya berisi pelonggaran aturan bagi bank-bank dalam memproses valas hasil ekspor, mempermudah perizinan bisnis, memangkas suku bunga pinjaman dan mempermudah prosedur untuk mendapatkan pinjaman, serta mengurangi tarif listrik untuk industri dan harga BBM. Kebijakan-kebijakan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan pada perusahaan-perusahaan di tengah perlambatan ekonomi dan pelemahan Rupiah, sehingga dinilai dapat lebih berpengaruh secara riil dalam waktu dekat ketimbang kedua paket sebelumnya.

 

Harga Komoditas Dan Cadangan Devisa

Namun demikian, keberlanjutan reli masih terganjal beberapa faktor. Pertama, harga-harga komoditas yang merupakan sumber pendapatan ekspor penting telah menunjukkan kenaikan, tetapi masih berada di kisaran level rendah.

Kedua, cadangan devisa Indonesia masih terus menipis. Bank Indonesia kemarin melaporkan bahwa cadangan devisa melorot menjadi 101.7 miliar Dolar AS di akhir bulan September dari 105.3 miliar Dolar AS sebulan sebelumnya. Menguatnya Rupiah akan mengurangi tekanan pada cadangan devisa yang selama ini banyak menyusut karena digunakan BI untuk intervensi di pasar uang, tetapi itu hanya akan berlaku jika penguatan Rupiah berlanjut.

Sementara itu, masih ada risiko reli tidak bisa dipertahankan. Menurut Mitul Kotecha dari Barclays Plc Singapura, sebagaimana disampaikannya pada Bloomberg, "Kita masih dalam suasana sangat was-was pada mata uang negara berkembang, dan jika tidak terjadi perubahan tajam pada harga komoditas atau arus modal masuk, (maka) saya kira akan ada tekanan pada Ringgit dan Rupiah."

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.