Rupiah Melejit Lagi Menyusul Kembalinya Investasi

Rupiah dibuka melejit terhadap Dolar AS pagi ini (2/10) setelah melemah di awal pekan. Dari pemantauan USD/IDR Spot Exchange Rate di Bloomberg, mata uang berlambang Garuda ini tercatat sempat menguat hingga 13,420 dari penutupan sebelumnya 13,640 per Dolar AS.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Rupiah dibuka melejit terhadap Dolar AS pagi ini (2/10) setelah melemah di awal pekan. Dari pemantauan USD/IDR Spot Exchange Rate di Bloomberg, mata uang berlambang Garuda ini tercatat sempat menguat hingga 13,420 dari penutupan sebelumnya 13,640, meski saat berita ini diangkat kurs telah melemah kembali ke 13,520 per Dolar AS. Sejumlah faktor dari dalam negeri menunjang penguatan tersebut, disamping juga berhubungan dengan masih digantungnya rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS.

Rupiah

Aliran dana asing kembali masuk ke saham dan obligasi seiring meningkatnya spekulasi akan kebangkitan pertumbuhan ekonomi Indonesia dan tidak mungkinnya kenaikan suku bunga AS dalam tahun 2015. Investor asing telah membeli sekitar 52 juta Dolar saham Indonesia sejak awal pekan ini dan memompa 2.67 triliun Rupiah ke dalam obligasi pemerintah berdenominasi Rupiah. BKPM juga melaporkan bahwa Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk ke Indonesia naik 18.1 persen pada kuartal III/2015, hanya sedikit menurun dibanding pertumbuhan FDI kuartal sebelumnya yang mencapai 18.2 persen.

Pada hari Rabu (21/10), Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi di kuartal ketiga akan mencapai 4.85 persen, lebih tinggi dari pertumbuhan di kuartal sebelumnya yang hanya 4.67 persen. Sedangkan keesokan harinya, Paket Kebijakan Ekonomi Tahap Lima dicanangkan dengan agenda utama terkait insentif pajak bagi korporasi. Paket kebijakan keempat sebelumnya direspon positif oleh pasar dan ikut mendorong Rupiah menguat dan memancing dana-dana asing kembali ke pasar modal Indonesia.

 

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap Lima 

Paket Kebijakan Ekonomi Tahap Lima kemarin diumumkan dalam konferensi pers di kantor presiden di Jakarta yang dihadiri oleh beberapa menteri bidang Ekonomi, Gubernur Bank Indonesia, dan Ketua Otoritas Jasa Keuangan.

Program pertama dalam paket ini tentang insentif keringanan pajak dalam revaluasi aset perusahaan, baik di Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun pihak swasta. Menurut Menko Perekonomian Darmin Nasution, selama ini perusahaan enggan melakukan revaluasi aset karena tarif pajaknya cukup tinggi, meski revaluasi berpotensi meningkatkan nilai aset perusahaan. Oleh karena itu, pajak penghasilan (PPh) untuk revaluasi aset yang biasanya 10 persen akan dipangkas dalam periode tertentu. Pengajuan revaluasi aset hingga 31 Desember 2015 maka besaran tarif hanya 3 persen, sedangkan bila pengajuan dilakukan 1 Juli hingga 31 Desember 2016 maka besaran tarif khusus PPh final revaluasi menjadi 6 persen.

Program kedua mencakup dihapuskannya pajak ganda dalam kontrak investasi kolektif dari dana investasi real estate (Real Estate Investment Trust/REITs). Selama ini, banyak perusahaan menginvestasikannya di luar negeri, sehingga menurut Menteri Ekonomi Bambang Brodjonegoro, kebijakan baru diharapkan dapat menarik investasi yang selama ini dilakukan di luar negeri.

Program ketiga dalam paket ini yang juga mendapat sorotan adalah dilonggarkannya aturan-aturan untuk produk dan aktivitas bank syariah. Mekanisme perizinan dan pengeluaran produk syariah baru akan disederhanakan, termasuk soal gadai emas syariah.

 

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.