Advertisement

iklan

Setelah Sentuh Rekor Rendah 4 Dekade, Jobless Claims AS Naik

Data Jobless Claims AS untuk perhitungan yang berakhir pada tanggal 4 November lalu bertambah 10,000 menjadi 239,000, atau lebih buruk dibandingkan estimasi ekonom.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Menurut laporan Departemen Tenaga Kerja pada hari Kamis (9/11), jumlah warga AS yang mengajukan klaim pengangguran, mengalami kenaikan sepanjang pekan lalu, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor terendah dalam empat dekade. Meskipun sedikit naik, namun data ini tetap mengindikasikan kokohnya kondisi pasar tenaga kerja di Negeri Paman Sam.

Setelah Sentuh Rekor Rendah 4 Dekade,

Data Jobless Claims AS untuk perhitungan yang berakhir pada tanggal 4 November lalu bertambah 10,000 menjadi 239,000, atau lebih buruk dibandingkan estimasi ekonom sebelumnya yang memprediksi Klaim Pengangguran akan bertambah 232,000 pekan lalu.

Klaim Pengangguran yang sedikit naik itu terjadi lantaran proses perhitungan untuk wilayah Puerto Rico --yang sebelumnya sempat terganggu akibat badai Harvey dan Irma– telah pulih, sehingga menambah jumlah Klaim secara keseluruhan. Data yang rilis malam ini menjadi pekan ke-139 secara beruntun berada di bawah 300,000 sebagai ambang batas kesehatan pasar tenaga kerja.

Tren Klaim Pengangguran AS terus menurun, tampak dari adanya penurunan jumlah rata-rata (Moving Average) selama empat pekan terakhir yang turun 1,250 menjadi 231,250. Hal ini menunjukkan kondisi ketatnya pasar tenaga kerja AS sepanjang tahun 2017.

 

Rally Kehabisan Tenaga, USD/JPY Sentuh Level Low 9 Hari

Greenback tergelincir hingga menyentuh level paling rendah dalam 9 hari terhadap Yen pada sesi perdagangan hari Kamis. Penurunan Dollar AS tersebut diakibatkan oleh pembicaraan tentang kemungkinan terjadi penundaan reformasi pajak Presiden Donald Trump.

Rencana Reformasi pajak Presiden Trump atau dikenal dengan istilah "Trumpflation Trade" dinilai banyak pihak akan mendorong trend Inflasi yang pada akhirnya mempercepat laju kenaikan suku bunga Fed. Hal itulah menjadi faktor yang melambungkan Greenback dalam beberapa bulan terakhir atau sejak Trump dilantik menjadi Presiden AS.

"Kekecewaan terhadap (penundaan) reformasi pajak membuat Dollar semakin rendah, ada kekurangan momentum dibalik pergerakan dollar baru baru ini", ucap Marc Ostwald dari ADM Investor Services International di London.

Di awal pekan, Greenback meraih level tertinggi delapan bulan versus Yen, didorong oleh risk appetite yang kuat di pasar. Namun tidak lama kemudian, Dollar turun sebanyak 1.3 persen. Dan penurunan itu berlangsung hingga hari Kamis, hingga sempat menyentuh level 113.25 terhadap Yen setelah terjadi penurunan mendadak ekuitas Jepang. Anjloknya ekuitas Jepang mengekspresikan berkurangnya sentimen resiko pada perdagangan Asia yang berlanjut hingga perdagangan Eropa.

"Dollar telah kehabisan tenaga dan tidak ada katalis yang mendorongnya lebih tinggi," ucap Stephen Gallo, Analis Mata Uang di BMO Capital Markets di London.

Pada pukul 21:20 WIB, pair USD/JPY berada di level 113.52 berusaha menjauhi level low harian 113.25. Sejak awal pekan, Greenback telah melemah sebanyak 1.26 persen dari posisi tertinggi delapan bulan pada level 114.73.

280969

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


18 Jul 2019

15 Jul 2019