Advertisement

iklan

Sterling Konsisten Bearish Setelah PM May Minta Brexit Ditunda Hingga Juni

Poundsterling melemah terhadap Dolar AS dan Euro, walaupun data penjualan ritel cukup memuaskan. Isu Brexit kembali menjadi penyebabnya.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling mencatat pelemahan versus Dolar AS dan Euro pada awal perdagangan sesi Eropa hari Kamis ini (21/Maret), walaupun data aktual penjualan ritel berhasil melampaui ekspektasi pasar. Menjelang sejumlah event berdampak sangat tinggi nanti malam, Sterling masih ditekan oleh isu brexit. Saat berita ditulis, pasangan mata uang EUR/GBP telah meningkat 0.26 persen ke level 0.8679, sementara GBP/USD terperosok sekitar 0.55 persen ke level 1.3125.

GBPUSD Daily

Pada awal sesi New York hari Rabu kemarin, PM Theresa May mengumumkan bahwa pihaknya telah mengirimkan surat permohonan kepada European Council untuk menunda deadline brexit selama 90 hari, atau hingga tanggal 30 Juni mendatang. Alasannya, Uni Eropa bakal menggelar pemilu parlemen dalam beberapa bulan mendatang, sedangkan Inggris tentunya tak ingin ikut andil lagi dalam pemilu itu jika masih ingin merealisasikan rencana brexit dalam waktu dekat.

Sterling merosot tajam terhadap semua mata uang mayor pasca beredarnya kabar itu. Masalahnya, tak ada jaminan kalau negara-negara anggota Uni Eropa lainnya akan setuju menunda deadline brexit dengan jangka waktu tersebut. Beberapa rumor yang beredar saat ini mengindikasikan kalau Uni Eropa hanya akan menyetujuinya jika Inggris bersedia meratifikasi draft kesepakatan yang bersifat "Soft-Brexit" (Inggris tetap terikat dalam kawasan pabean tunggal Uni Eropa).

Data penjualan ritel Inggris yang dipublikasikan satu jam lalu, menunjukkan pertumbuhan solid sebesar 0.4 persen (Month-over-Month) dalam bulan Februari lalu, jauh lebih baik daripada ekspektasi -0.4 persen. Namun, rilisan itu nyaris tak dihiraukan oleh pelaku pasar di tengah antisipasi menjelang pengumuman bank sentral Inggris, serta pertemuan tingkat tinggi Uni Eropa. Kedua event sama-sama diadakan nanti malam dan berpotensi melonjakkan volatilitas semua pair yang melibatkan Poundsterling. Secara khusus, pelaku pasar akan memantau apakah PM May berhasil membujuk para petinggi Uni Eropa untuk menyetujui permohonannya tanpa konsesi tambahan.

287852

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.