OctaFx

iklan

Strategi Theresa May Pasca Gagal Raih Kursi Mayoritas Parlemen Inggris

Kegagalan Partai Konservatif merebut kursi mayoritas Parlemen Inggris mendorong Theresa May melakukan strategi baru guna membentuk Pemerintahan baru agar Brexit Talk tetap berjalan sukses.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pemilu Inggris telah usai dengan hasil yang cukup mengejutkan banyak kalangan, yaitu Partai Konservatif gagal meraih kursi mayoritas di Parlemen Inggris. Kegagalan Konservatif tersebut tentu akan berimbas pada semakin sulitnya agenda Theresa May lolos voting Parlemen. Hal itulah yang mendorong PM Inggris tersebut mencari langkah/ strategi baru.

Strategi Theresa May Pasca Gagal Raih

Perdana Menteri Inggris, Theresa May berencana membentuk Pemerintahan baru yang didukung oleh sebuah Partai Kecil dari Irlandia Utara setelah gagal meraih minimal 326 kursi di parlemen. Dukungan dari partai kecil tersebut diharapkan May dapat menambal kursi yang hilang akibat kekalahan partai Konservatif pada Pemilu Parlemen Inggris, Kamis (8/6) lalu.

Pasar merespon negatif atas kegagalan partai Konservatif merebut mayoritas parlemen dan Investor pun semakin bertanya-tanya mengenai kejelasan “Brexit Talk” yang akan berlangsung tidak lama lagi. Dengan wajah sedikit dingin, May yang berbicara di depan kediaman resmi Downing Street mengatakan bahwa Pemerintah akan memastikan proses pembicaraan dengan Uni Eropa akan berjalan dengan lancar dan sukses.

May mengatakan bahwa dia masih bisa mengontrol Parlemen dengan bantuan dari “teman-teman” di Democratic Unions Party, sebuah partai dari daerah Irlandia Utara, setelah partai Konservatif gagal meraih setengah dari total kursi Parlemen Inggris.

 

Theresa May Didesak Mundur Oleh Pesaing

Pimpinan Partai Labour –yang mendapat kursi terbanyak kedua-- Jeremy Corbyn meminta May untuk turun sebagai PM Inggris dan membentuk Pemerintahan Minoritas. Tapi May tetap ingin bertahan dan berkunjung ke kediaman Ratu Elizabeth pada Jumat siang waktu setempat untuk meminta ijin membentuk Pemerintahan baru.

Dukungan dari Democratic Unions Party (DUP) menjadi sangat krusial, pasalnya dengan 10 kursi DUP cukup mengembalikan kekuasaan partai Konservatif di Parlemen, meski terkesan rapuh. "Dua partai (DUP dan Konservatif) menikmati hubungan yang kuat selama bertahun tahun dan hal itu dapat memberi kepercayaan diri untuk berkerjasama demi kepentingan Inggris”, ucap Theresa May.

Perlu diketahui bahwa hasil akhir Polling memperlihatkan partai Konservatif memperoleh 318 kursi (48.9 %) dan partai DUP mendapatkan 10 kursi (1.5 %). Koalisi antara kedua partai tersebut akan memperoleh 50.4 persen, sangat rapuh untuk membentuk Pemerintahan yang solid.

 

Uni Eropa Khawatirkan Proses Brexit Talk

Kekalahan partai Konservatif pada pemilu Parlemen Inggris pekan ini lantas menyulut banyak komentar dari berbagai pihak, terutama Uni Eropa yang khawatir terhadap kelanjutan Brexit Talk. Komisioner Anggaran Uni Eropa, Guenther Oettinger mengatakan, “Kami butuh Pemerintahan yang dapat bertindak, dengan lemahnya negosiasi patner di Parlemen Inggris (pasca kekalahan Konservatif) akan membahayakan proses hukum Brexit.

Ketua tim Negosiasi Brexit dari pihak Uni Eropa, Michel Barnier mengaku siap melakukan pembicaraan bilamana Inggris telah siap. “Brexit Talk bisa dimulai, asalkan Inggris sudah siap”, demikian penggalan pernyataan Barnier menyikapi hasil pemilu Inggris.

279254

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


25 Mar 2019

28 Feb 2019