Survei Ekonom: Risiko Resesi AS Meningkat, Prospek Fed Hike Suram

Risiko terjadinya resesi di AS dalam 2 tahun mendatang meningkat 40 persen, sehingga berimbas pada penurunan ekspektasi Fed Rate Hike untuk tahun 2019 mendatang.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Sebuah polling terbaru dari Reuters yang melibatkan lebih dari 500 ekonom, Fund Manager, serta ahli mata uang dan sekuritas, menyimpulkan bahwa momentum ekonomi AS telah mencapai puncak, sehingga penurunan (resesi) mungkin akan segera terjadi. Tak main-main, menurut perkiraan para responden survei Reuters tersebut, peluang terjadinya resesi mencapai angka 40 persen.

Probabilitas resesi yang mencapai 40 persen merupakan level tertinggi dan tidak pernah terlihat sejak satu dekade lalu. Probabilitas tinggi untuk resesi terakhir kali muncul pada jajak pendapat Reuters pada bulan Januari 2008, hanya delapan bulan sebelum kejatuhan Lehman Brothers yang mengawali resesi hebat di AS.

Survey Ekonom : Resiko Resesi AS

 

Inverted Yield Curve, Tanda Dini Sebelum Resesi

Apa yang memicu kekhawatiran di kalangan ekonom adalah selisih nilai imbal hasil (Yields) obligasi AS untuk tenor 2 tahun dan 10 tahun yang turun hingga kurang dari 10 basis poin. Kesenjangan itu merupakan yang terkecil sejak menjelang resesi terakhir AS pada 2008 lalu.

Yield Curve yang melandai dengan jarak menyempit (inverted), biasanya menunjukkan signifikansi kekhawatiran investor mengenai pertumbuhan ekonomi dan inflasi yang akan melambat. Perlu diketahui, pergerakan Inverted Yield Curve telah terbukti mendahului semua resesi yang pernah terjadi di AS selama setengah abad terakhir.

Inverted Yield Curve

Grafik ilustrasi Inverted Yield Curve

Yield Curve diperkirakan akan berbalik pada semester pertama 2019. Setelah itu, resesi kemungkinan akan muncul paling cepat satu tahun kemudian, atau pada tahun 2020 mendatang.

 

Bagaimana Tanggapan Ekonom?

"The Fed tidak berpikir bahwa penyempitan jarak Yields Obligasi akan menjadi masalah, sehingga kemungkinan ini akan mengarah pada kesalahan pengambilan langkah kebijakan moneter, yang akan mendorong ekonomi ke jurang resesi," kata Philip Marey, ahli strategi senior di Rabobank.

Pendapat senada juga diungkapkan oleh Joel Naroff yang menjabat sebagai kepala ekonom di Naroff Economic Advisors, "Saya berpikir semua dorongan untuk pertumbuhan ekonomi akan memudar pada 2019 mendatang, jadi dari mana pertumbuhan akan datang? Apakah kita pasti mengalami resesi? Saya tidak bisa memastikan hal tersebut. Selama 9 tahun terakhir, saya belum memiliki Forecast negatif untuk PDB. Namun pada (Forecast) 2020, untuk pertama kalinya saya memasukkan angka negatif dalam perkiraan," ujar Naroff.

286610

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.