Tanggapi Kenaikan Tarif Impor, China Kukuh Pertahankan Kepentingannya

Pembicaraan dagang AS-China kembali menghadapi jalan buntu karena Beijing tidak ingin AS mendikte perubahan aturan perdagangan yang bisa berdampak pada kepentingan China.

FirewoodFX

iklan

FirewoodFX

iklan

Amerika Serikat dan China menemui kebuntuan dalam pembicaraan perdagangan yang berlangsung hari Minggu (12/Mei) kemarin. Washington menuntut janji perubahan konkret dalam hukum China, tetapi Beijing menolak dan mengatakan tidak akan menelan "buah pahit" yang merugikan kepentingannya.

China Menentang Tarif Baru AS, Kudlow

Penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan bahwa China perlu menyetujui ketentuan penegakan hukum untuk menyelesaikan sengketa dagang dengan AS. Namun, keengganan mereka untuk mengubah hukum dan Undang-Undang di China terkait perlindungan kekayaan intelektual dan transfer teknologi secara paksa, menjadi pemicu memanasnya kembali tensi perang dagang sejak minggu lalu.

 

China Menentang Dan Tidak Akan Menyerah

Kenaikan tarif impor barang-barang China yang kini mencapai 25 persen tidak menyurutkan langkah Beijing untuk terus memperjuangkan kepentingan nasional China. Beijing dikabarkan terbuka pada jalur negosiasi, tetapi tidak akan pernah menyerah terhadap hal-hal penting yang bersangkutan dengan kepentingan nasional mereka.

"China tidak akan pernah kehilangan kehormatan dan tidak seorang pun yang mengharapkan China menelan buah pahit yang akan membahayakan kepentingan nasional," kata People's Daily, sebuah surat kabar yang dikendalikan oleh Partai Komunis China.

Tanggapan bernada menentang juga muncul di tabloid nasionalis Global Times. Dalam editorialnya hari Senin (12/Mei) ini, media tersebut mengungkapkan bahwa China tidak punya alasan apapun untuk takut terhadap perang dagang.

"Persepsi bahwa China tak kuasa (mengatasi perang dagang) adalah fantasi dan penilaian yang salah... Jika mereka (AS) tidak memprovokasi secara serius, maka sebenarnya orang-orang China tidak menyukai perang dagang. Namun, apabila sudah dipaksa sedemikian rupa, maka tidak ada jalan lain bagi China kecuali untuk tetap menjaga kedaulatan, martabat, dan hak-hak pembangunan jangka panjang rakyat China," tutur Global Times.

 

Trump: Posisi AS Lebih Menguntungkan

Pada hari Minggu kemarin, Donald Trump menggambarkan AS dalam posisi yang menguntungkan dalam perang dagang dengan China. Trump juga mengulangi pernyataan yang sebelumnya pernah terlontar, bahwa AS akan menerima puluhan miliar dari kenaikan tarif yang ia kenakan terhadap barang-barang China.

Ketika Larry Kudlow ditanya tentang siapa yang akan membayar tarif tambahan atas barang-barang impor China, penasihat ekonomi tersebut mengatakan bahwa kedua belah pihak akan menderita karena perang dagang ini. Namun, dirinya optimis ekonomi AS dapat mengatasi dampak perang dagang dengan lebih baik.

"Kami dalam kondisi luar biasa untuk memperbaiki praktek perdagangan tidak adil dari China selama 20 tahun terakhir... Ini adalah risiko yang harus diambil tanpa merusak ekonomi AS, sehingga patut dihargai," kata Kudlow sembari menambahkan bahwa ada kemungkinan kuat bagi Trump untuk bertemu Presiden China pada Pertemuan Puncak G20 di Jepang akhir Juni mendatang.

288492

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.