Tensi Perang Dagang AS-China Meningkat, Dolar Menguat

Dolar AS menguat signifikan karena investor was-was terhadap kemungkinan deadlock negosiasi dagang AS-China yang tengah berlangsung di Beijing.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar AS bertahan mendekati level tertinggi tahun 2019 di sesi Asia hari Selasa ini (12/2), karena merebaknya kembali ketegangan perdagangan AS-China, dan kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan ekonomi global yang menopang USD sebagai mata uang safe haven. Penguatan Dolar AS tercermin dari pergerakan indeks DXY yang berada di kisaran 97.05 pagi ini.

Tensi Perang Dagang AS-China Meningkat,

 

Pembicaraan Dagang AS-China Jadi Fokus Pasar

Investor saat ini tengah fokus pada pembicaraan perdagangan yang berlangsung di Beijing, sebagai langkah lanjutan setelah pertemuan kedua negara di Washington beberapa saat lalu. Saat itu, baik AS maupun China belum menemukan kata sepakat dalam upaya menyelesaikan sengketa perdagangan yang sudah berlangsung sejak tahun lalu.

Pasar melihat kemungkinan perwakilan AS akan kembali menekan China sesuai dengan tuntunan lama dan desakan Presiden Trump, bahwa Negeri Tirai Bambu tersebut harus melakukan reformasi struktural guna melindungi kekayaan intelektual perusahaan-perusahaan AS, termasuk mengakhiri kebijakan transfer teknologi ke perusahaan China.

Investor memperkirakan pembicaraan antara AS dan China pada minggu ini akan berlangsung alot dan berpotensi kembali berujung buntu. "Dolar AS mendapatkan manfaat dari kegelisahan investor terkait pembicaraan perdagangan lanjutan AS-China. Di luar daya tarik sebagai safe haven, Dolar AS masih merupakan mata uang dengan imbal hasil tertinggi dibandingkan negara maju lainnya," kata Sim Moh Siong, ahli strategi mata uang di Bank of Singapore.

 

Dolar AS Jadi Yang Paling Unggul

Selain negosiasi dagang AS-China, isu utama yang mendominasi pasar saat ini adalah perlambatan ekonomi global. Karena pasar melihat kondisi fundamental AS termasuk yang paling kecil terdampak perlambatan dibandingkan kawasan lain seperti Eropa, Inggris, Jepang dan China, maka tak heran jika mata uangnya bisa menguat dan mengalahkan mata uang mayor lainnya.

Pair EUR/USD terperosok hingga menyentuh level terendah sejak akhir November 2018 lalu, karena dipicu pertumbuhan kawasan Euro yang melambat dan tingkat inflasi tetap rendah. Sementara itu, GBP/USD juga melemah karena rilis mengecewakan dari data GDP Inggris dan kekhawatiran Brexit.

287351

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.


21 Mei 2019

30 Apr 2019