Advertisement

iklan

TLKM: Pendapatan Tumbuh Tapi Laba Tergerus

Emiten telekomunikasi nasional, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. jatuh bangun untuk mengejar laba tahun ini. Dengan kebijakan registrasi kartu prabayar yang menekan penjualan, perseroan harus putar otak untuk membesarkan ceruk pendapatan dari segmen lain.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Raksasa telekomunikasi milik negara, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. masih mencatatkan penurunan laba bersih hingga kuartaal III/2018, terdampak dari kebijakan registrasi kartu prabayar. Namun, secara kuartalan, kinerja perseroan mulai tumbuh.

Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan perseroan, pendapatan emiten dengan sandi TLKM tersebut terkerek tipis 2.3% pada periode yang berakhir 30 September 2018 menjadi Rp99.2 triliun. Laba bersih perseroan pun tergerus 20.6% menjadi Rp14.32 triliun.

Secara kuartalan, pendapatan perseran tumbuh 8.8% pada kuartal III-2018 dibandingkan kuartal II-2018. Menurut manajemen, kenaikan pendapatan tersebur merupakan hasil dari upaya monetisasi layanan data dan pengendalian biaya yang berjalan dengan baik. Sebagai hasilnya, EBITDA dan net income tumbuh masing-masing sebesar 35.5% dan 86.7% qoq.

TLKM, Pendapatan Tumbuh Tapi Laba

Direktur Keuangan Telkom Harry M. Zen menyampaikan, kinerja kuartal III-2018 jauh lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. “Peningkatan ini merupakan hasil dari upaya Perseroan dalam memperkuat kinerja segmen bisnis mobile, disamping terus menumbuhkan segmen bisnis fixed line dan melakukan pengelolaan biaya secara efektif,” ujar Harry.

Di kuartal III 2018, segmen bisnis mobile Telkomsel berhasil meraih pendapatan Rp23 triliun atau tumbuh 10.1% QoQ dibandingkan kuartal II-2018. Salah satu pendorong utama pencapaian ini adalah strategi di segmen Digital Business Telkomsel yang tumbuh cukup tinggi.

Segmen bisnis digital, khususnya layanan Data, masih menjadi mesin pertumbuhan Telkomsel dan mengkontribusi 54.2% dari total pendapatan Telkomsel di kuartal III 2018.

Kinerja Telkomsel

Telkomsel juga berhasil melakukan pengendalian biaya dengan baik meskipun terus gencar menggelar BTS 4G di seluruh Indonesia. Biaya operasional Telkomsel mengalami sedikit penurunan sebesar 0.1% dibandingkan kuartal sebelumnya dan memberikan dampak terhadap kenaikan EBITDA sebesar 20.7% QoQ menjadi Rp12.4 triliun dan laba bersih sebesar 24% qoq menjadi Rp6.6 triliun.

Dengan penambahan tersebut, secara total, hingga akhir September 2018 Telkomsel telah membangun 50,755 BTS 4G. Sehingga, total BTS on-air Telkomsel mencapai 183,283 unit, dengan 72.5% di antaranya merupakan BTS 3G/4G.

Pengembangan jaringan ini mendukung layanan prima kepada para pelanggan Telkomsel. Pada kuartal III 2018, jumlah pelanggan Telkomsel mencapai 167,8 juta di seluruh Indonesia, yang 112,6 juta di antaranya merupakan pengguna layanan data. 

Sementara itu Bisnis Digital Telkom semakin menunjukkan peningkatan yang signifikan di sembilan bulan pertama tahun ini dengan capaian pertumbuhan sebesar 21.2%  dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan mencatatkan kontribusi dominan sebesar 51.88% dari total pendapatan perseroan. 

Kinerja segmen bisnis Fixed Line Telkom juga terus mengalami penguatan. Pada Sembilan bulan pertama di tahun 2018, pendapatan dari layanan IndiHome tercatat sebanyak Rp9 triliun atau meningkat 57.7% dari tahun lalu.

Kontribusi ini diraih berkat peningkatan produktivitas tenaga sales dan teknisi, diversifikasi produk yang menarik dan konten-konten berkualitas, serta sistem IT yang semakin andal. ARPU IndiHome juga meningkat dari Rp251 ribu pada kuartal II 2018 menjadi Rp258 ribu pada kuartal III 2018.

Selama sembilan bulan pertama 2018, pelanggan IndiHome bertambah 1.7 juta, sehingga total pelanggan hingga akhir September 2018 mencapai 4.7 juta atau meningkat 101.2% dibandingkan tahun lalu, di mana 52% di antaranya merupakan pelanggan layanan Triple Play.

TLKM, Pendapatan Tumbuh Tapi Laba

Bisnis Enterprise

Sementara itu, untuk segmen bisnis Enterprise, dalam sembilan bulan pertama ini terdapat peningkatan pendapatan sebesar 18.9% YoY. Pertumbuhan di segmen ini diproyeksikan terus menguat seiring dengan tren digitalisasi bisnis di berbagai perusahaan-perusahaan di Indonesia.

Telkom berada di posisi yang strategis dalam mendukung tren digitalisasi tersebut, karena kami memiliki jaringan konektivitas, data centers, hingga menyediakan beragam platform dan solusi berbasis teknologi digital yang terintegrasi.

Di sisi lain, segmen bisnis Wholesale and International juga mengalami peningkatan 32.6% dari periode yang sama di tahun 2017. Segmen ini ditargetkan terus tumbuh hingga akhir tahun 2018, didukung oleh infrastuktur terutama backbone, baik domestik dan internasional.

Saat ini, Telkom tengah menyelesaikan pembangunan sistem kabel laut Indonesia Global Gateway (IGG) yang diperkirakan rampung pada akhir 2018. IGG menghubungkan sistem kabel laut South East Asia – Middle East – West Europe 5 (SEA-ME-WE-5) dengan South East Asia – United States (SEA-US). Pembangunan IGG merupakan milestone penting untuk menjadikan Telkom sebagai global digital hub.

 

286005

Penulis lepas bidang saham yang juga merupakan investor pasar modal. Selain itu, Alia merupakan pemerhati aksi korporasi emiten. Penulis sudah berkecimpung lebih dari 3 tahun dalam tulis-menulis sektor ekonomi dan update terhadap isu-isu nasional.