Advertisement

iklan

GDP Indonesia Tergelincir Ke Level Terendah Enam Tahun

Penulis

+ -

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (5/8) melaporkan, pertumbuhan GDP Indonesia pada kuartal kedua tahun 2015 tumbuh 4.67% (yoy), lebih rendah dibanding angka kuartal sebelumnya dan merupakan angka pertumbuhan terlambat sejak kuartal tiga tahun 2009.

iklan

iklan

Badan Pusat Statistik (BPS) hari ini (5/8) melaporkan, pertumbuhan GDP Indonesia pada kuartal kedua tahun 2015 tumbuh 4.67% (yoy), lebih rendah dibanding angka terevisi 4.72% di kuartal sebelumnya dan merupakan angka pertumbuhan terlambat sejak kuartal tiga tahun 2009.

 

GDP Indonesia

Grafik GDP Indonesia Kuartal I/2009-Kuartal II/2015

 

Pertumbuhan Melambat

Pertumbuhan masih dialami oleh semua sektor di sisi produksi kecuali sektor Pertambangan dan Penggalian yang menurun -3.58%. Sementara dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dilaporkan hanya tumbuh 4.97 persen, lebih rendah dari 5.01% di kuartal sebelumnya. Pengeluaran pemerintah juga mencatat pertumbuhan yang lebih rendah, dari 2.71% menjadi 2.28% di kuartal kedua. Secara umum, perlambatan dalam investasi dan konsumsi publik maupun privat masih berlanjut, meski laju penurunan ekspor telah berkurang dari -0.85% menjadi -0.13%.

Pulau Jawa dan Sumatera masih mendominasi struktur ekonomi. Kontribusi Pulau Jawa dalam GDP Indonesia mencapai 58.35%, disusul Pulau Sumatera sebesar 22.31%, dan Pulau Kalimantan 8.22%.

 

GDP Indonesia

Kontribusi Per-Pulau Dalam GDP Indonesia (Sumber: BPS)


Pencapaian pertumbuhan GDP Indonesia kali ini sedikit lebih tinggi dari ekspektasi ekonom. Sebelumnya, median hasil survei Reuters terhadap 22 analis memperkirakan perlambatan pertumbuhan ke angka 4.61%.

 

Ekonomi Terbebani

Aktivitas manufaktur Indonesia masih lesu di kuartal kedua, menurut laporan yang dirilis Nikkei/Markit Economics awal pekan ini. Indeks PMI Manufaktur telah berada dalam posisi kontraksi selama sepuluh bulan berturut-turut dengan perusahaan-perusahaan kini melakukan pelepasan tenaga kerja dengan laju tercepat sejak survei pertama kali dilakukan pada 2011.

Neraca Perdagangan pun masih mengecewakan. Meskipun secara keseluruhan masih mencatat surplus, namun ekspor dan impor berada dalam tren menurun sejak Oktober 2014 dan diperkirakan masih akan turun lagi pada rilis Neraca Perdagangan tanggal 18 Agustus depan. Hal ini diperburuk oleh anjloknya harga-harga komoditas akhir-akhir ini akibat penguatan Dolar AS dan perlambatan ekonomi China. Harga komoditas yang lebih rendah mengakibatkan penurunan pendapatan ekspor.


Ekspor Indonesia

Grafik Ekspor Indonesia Januari 2014-Juni 2015


Kegagalan pemerintah untuk melakukan reformasi ekonomi dan meningkatkan pembangunan infrastruktur juga dilansir menjadi kendala bagi perekonomian saat ini. Hingga bulan Juni, Pemerintah baru mengeluarkan 40% dari total anggaran, dengan pengeluaran investasi hanya mencapai 10%. Sementara itu, Bank Indonesia mengalami dilema apabila akan memangkas suku bunga acuan dikarenakan tingginya inflasi dan rapuhnya Rupiah.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan pada media bahwa pihaknya meyakini pertumbuhan GDP akan rebound di semester kedua tahun ini, didukung oleh pengeluaran investasi yang lebih tinggi dan sejumlah kebijakan fiskal yang lebih efektif. Namun demikian, analis masih skeptis. Pemerintah masih menargetkan pertumbuhan GDP 5.2% tahun ini, tetapi median perkiraan dari survei Reuters mengekspektasikan pertumbuhan hanya mencapai 4.9%.

Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.