Volatilitas Poundsterling Terkikis, Antisipasi Manuver Parlemen Inggris

Poundsterling diperdagangkan dalam volatilitas terbatas, menjelang serangkaian voting penentu arah Brexit yang akan digelar di Parlemen Inggris.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling diperdagangkan dalam volatilitas terbatas sejak awal pekan, menjelang serangkaian voting penentu arah Brexit yang akan digelar di Parlemen Inggris pada hari Rabu besok. Saat berita ditulis pada awal sesi Eropa hari Selasa ini (26/Maret), pasangan mata uang GBP/USD telah melandai sekitar 0.1 persen ke kisaran 1.3185, EUR/GBP naik 0.07 persen ke level 0.8579, sementara GBP/JPY naik 0.1 persen ke level 145.22.

GBPUSD Daily

Situasi politik Inggris kembali menjadi sorotan pelaku pasar, setelah terjadinya serangkaian "pemberontakan" dalam tubuh partai Konservatif melawan PM Theresa May. Bahkan, PM May sempat diancam agar langsung mengundurkan diri, apabila ia bersikukuh ingin proposal Brexit-nya disetujui.

Pada hari Senin malam, berbagai manuver tersebut mengakibatkan diloloskannya mosi yang memungkinkan Parlemen Inggris untuk "mengambil alih kendali" proses Brexit dari PM May dengan perolehan suara 329:302. Ini artinya, voting Parlemen berikutnya bukan lagi berupa pilihan menyetujui atau tak menyetujui draft yang diajukan PM May saja, melainkan Parlemen dapat menunjukkan seperti apa hubungan dengan Uni Eropa yang mereka inginkan.

Perkembangan ini membuka kemungkinan untuk dilakukannya voting atas sejumlah alternatif draft kesepakatan Brexit; selain EU Withdrawal Agreement yang telah diajukan oleh PM May dan berulang kali ditolak Parlemen Inggris. Voting tersebut akan diselenggarakan pada hari Rabu besok (27/Maret), dan diekspektasikan akan melahirkan sebuah rekomendasi tak mengikat bagi pemerintah Inggris.

"Meskipun ini tidak menyelesaikan kebuntuan Brexit saat ini, tetapi ini merupakan satu langkah ke arah yang tepat. Karena mayoritas anggota parlemen cenderung ingin (a) mempertahankan hubungan erat dengan Uni Eropa dan (b) mencegah 'No-Deal Hard Brexit', maka kekuatan Parlemen yang lebih besar akan menanggulangi risiko 'Hard Brexit'," kata Kallum Pickering, seorang ekonom di Berenberg Bank.

Sejumlah alternatif yang kemungkinan disetujui oleh Parlemen antara lain "Soft Brexit", penundaan Brexit, atau pembatalan rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa. Namun, hingga saat ini, masih sulit untuk memperkirakan opsi mana yang bakal meraih suara mayoritas, sehingga investor dan trader cenderung mempertahankan posisi "wait and see".

287902

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


30 Apr 2019