Ciri Belajar Trading Forex Yang Salah

  By: Parmadita   View: 13658    Belajar Forex  

Selama ini sistem pembelajaran di sekolah masih terpatok perhitungan buku. Anda bakal dijuluki jenius dan dikatakan sebagai murid hebat ketika mampu menyampaikan sama persis seperti yang ada di buku. Seorang murid yang mampu menghafalkan atau menuliskan kembali teori-teori yang ada di buku akan di cap sebagai seorang murid yang pintar dan cerdas. Sayangnya, jika cara pembelajaran tersebut terbawa sampai kita belajar trading malah efeknya buruk.

cara belajar trading yang salah

Efek negatif yang ditimbulkan dari penghafalan teori dapat merusak sistem, dapat merusak psikologis trader, dan menjadi tidak realistis dalam trading. Hal ini tercermin dari beberapa masalah yang sering dialami oleh trader pemula dalam mempelajari market. Berikut adalah beberapa metode belajar trading forex yang salah:


1. Menghafal Pola Candlestick

Biasanya, trader lebih condong ke candlestick karena melihat ulasan dari temannya mengenai hebatnya seseorang mengerti arah trend hanya dari mengetahui pola candlestick. Sehingga, itu membuat trader pemula terinpirasi untuk segera mencobanya.

Akhirnya proses penghafalan pola-pola candlestick dimulai. Namun, ketika Anda sudah mengerti nama-nama candlestick beserta pola-polanya, Anda malah tidak tahu bagaimana caranya mengambil tindakan di market. Kenyataannya, trader pemula yang menghafal nama-nama candle biasanya semakin bingung ketika berhadapan dengan grafik naik-turun.

2. Mencari Indikator Jitu

Nah, trader pemula biasanya mencari indikator yang akurat. Indikator yang bisa mengidentifikasi sendiri saat terjadi perubahan harga, perubahan trend, ataupun perubahan saat pembalikan trend. Situs demi situs dijelajahi, trader-trader senior pun ditanyai, demi untuk menemukan indikator paling jitu.

Namun, faktanya sampai saat ini tidak ditemukan tuh indikator yang jitu dan akurat. Semua indikator akan menghasilkan signal yang terkadang salah. Baik itu custom indikator, indikator bawaan platform MT4, chart pattern, maupun candlestick. Pada saat Anda melihat indikator untuk pertama kali, mungkin Anda akan tertarik menggunakannya karena sepintas bagis sekali. Tapi pada saat Anda menggunakannya, terdapat kelemahan sehingga timbul keinginan untuk menggantinya. Namun saat menggunakan indikator baru pun, Anda kembali menemui kelemahan dan akhirnya beralih lagi ke indikator lain.

Jika Anda terus mencari kesempurnaan dalam indikator, maka proses tersebut tidak akan ada selesainya, karena indikator hanya menampakkan hasil perhitungan dari histori pergerakan harga. Indikasi tersebut kadang bisa digunakan untuk memperkirakan pergerakan harga selanjutnya, namun kadang juga tidak menampilkan prediksi yang akurat. Akan jauh lebih baik bagi Anda untuk mengenali kelebihan dan kekurangan indikator, lalu mengkombinasikan indikator-indikator sesuai dengan kegunaannya dan kebutuhan analisis Anda. Kelemahan dari analisa indikator yang kadang tidak akurat bisa Anda atasi dengan menerapkan manajemen resiko.

3. Menciptakan Sistem Trading Tanpa Rugi

Nah, ini juga yang diinginkan tidak hanya trader pemula tapi juga trader kawakan pun masih ingin mendapatkannya. Sayangnya, sistem trading tanpa rugi itu tidak ada. Setiap ada transaksi, secara probabilitas 50% adalah mendapat keuntungan dan 50% mendapat kerugian.

Jika Anda berusaha mengingat-ingat setiap ada candlestick terbentuk, atau berusaha melakukan test kehandalan indikator dengan menghitung berapa persen kehebatannya, serta berusaha menemukan trading sistem yang anti loss, maka sudah dipastikan fokus trading Anda telah menyimpang dari tujuan awal. Pelajarilah indikator agar Anda tahu rumus dan penggunaanya, pelajarilah pola candlestick agar Anda mengenal pergerakan di market dengan pola-pola umumnya, serta pelajarilah sistem karena Anda dapat menghasilkan hasil darinya walaupun terkadang mendapat kerugian pula. Rugi itu wajar, asalkan secara total masih bisa profit secara konsisten dan Anda bisa belajar dari pengalaman rugi itu.


Kesimpulan

Ketika trader sedang mempelajari trading, terkadang mereka dapat terkecoh dan akhirnya menerapkan metode yang melenceng dari pembelajaran awal. Saat pembelajaran sudah jelas salah, mereka masih saja berusaha menghafal segala teori pola-pola beserta nama dari candlestick. Tidak hanya itu saja, karena trader mungkin sering loss dan frustasi, mereka akhirnya mencari indikator yang jitu dan akurat. Hal itu mereka lakukan untuk memperoleh alat yang dapat diterapkan pada sistemnya untuk menghasilkan keuntungan tanpa kerugian sedikitpun.

Padahal, belajar tanpa memahami esensinya tak akan membuat trader menjadi sukses dan profit secara konsisten. Loss dalam trading adalah fenomena yang wajar dan tak terhindarkan. Tidak ada sistem yang benar-benar anti-loss dan memiliki potensi profit 100%. Hal yang terbaik untuk dilakukan adalah memahami keadaan tersebut dan memperkuat money management untuk memaksimalkan profit dan meminimalkan angka kerugian.




Artikel Belajar Forex


Artikel Forex Lainnya

Komentar: 11
  • ...secara probabilitas 50% adalah mendapat keuntungan dan 50% mendapat kerugian. Sama aja boong dong???
    Gunawan Rw
    6 FEB 2013
    Ane kurang setuju sm bagian ini. Masak bener tiap kali trading peluang kita kayak gini? Kalo bener artinya breakeven aja udah jadi hasil terbaik dong. Padahal udah banyak kan contoh trader yang berhasil profit banyak disini. Kalo nggak salah di trading ada rasio laba rugi.

    Kalo kita nentuinya 2:1, apa tetep 50-50 chance profit sm lossnya? Kan jelas2 sl sama tp ditentuin supaya tp bisa 2x lipat lebih gede dari potensi lossnya, Jd secara jumlah ini udah bukan 50-50 lagi. Nggak tau deh kalo dari segi kebeneran analisanya.
    Septi
    7 MAY 2013
    +1 bro, pingin ketawa setelah baca artikelnya, profit-loss 50-50, itu trading apa hobi buang2 waktu? Yg bener lah, maksudnya gimana? kasi contoh konkrit keq apa keq, ini artikelnya malah nglantur kmana2
    Rosa Singgih
    5 APR 2016
  • emm, nggak juga. kan tujuan kita trading itu buat memperbesar keuntungan dan memperkecil kerugian
    Raymond*wes
    13 MAR 2013
  • DImana-mana kalo ada untung ya pasti ada rugi. Tinggal usaha kita ja gmn ngatur untungnya itu lbh besar dr rugi
    Yuni Triwahyuni
    20 MAR 2013
  • Kalo ada trader yg ngetes2 indikator mah cocoknya jadi pengamat aja.. hehehe
    Hari Santoso
    24 JUL 2013
    pengamat apaan bro? setau ane analis juga gag bakalan serempong itu ngeribetin indikator teknikal? kl yg suka ribet sendiri sm indikator emang y trader itu, yg masih cukup awam lo ya.. jadi wajar belom banyak tau soal faktor laen yg bisa nentukan keberhasilan selaen indikator...

    baru kenal soal analisa mungkin wajar belajarny sm fokusny masih muter2 di daerah indikator... tapi kl udah sadar pentingny mm pastilah trader juga bisa move on dari situ..

    tapi walopun bgt emang masih ada yg masih suka cari holy grail, entah indikator ato sistem, kayakny para pencari holy grail itu belum sadar bener sama esensi trading. bener kata mbak @yuni, tiap ada untung pasti ada resiko rugi. cuman ngarep untung tapi g pengen kena rugi itu yg g realistis.
    Shandi Trader
    16 JAN 2014
  • Memang ada bbrp trader yang overprepared sblm mulai open position. jadinya ya pengen bnr2 bikin peluang trading yg 100% untung deh
    Yuni Triwahyuni
    31 JUL 2013
  • Yaelah.. itu kan imposibel pake banget
    Gunawan Rw
    12 AUG 2013
  • Agak repot nih traing di forex. Mau asal trading salah, trlalu disiapin jg malah salah
    Hari Santoso
    24 SEP 2013
    sebetulnya tidak ada yang salah dengan mempersiapkan trading dengan baik. yang dipersoalkan di sini mungkin adalah persiapan mental yang kurang tepat, sehingga mempengaruhi cara berpikir dalam trading.

    perlu diketahui bahwa untuk menjadi trader yang berhasil, diperlukan pula mindset yang tepat, seperti menganggap forex sebagai tempat berinvestasi dan bukan judi, serta memahami resiko loss dalam trading sebaik mungkin.

    dengan cara pikir yang masih tertuju pada pencarian holy grail, tentu saja hal itu dapat mengarahkan trader ke dalam persiapan trading yang hanya terpacu pada penemuan sistem yang tidak ada habisnya. padahal persiapan tersebut lebih baik untuk difokuskan pada bagaimana cara menemukan sistem yang cocok dengan gaya trading kita, cara memaksimalkan peluang keuntungan, dan mengatur resiko loss sebaik mungkin.
    Dino Firmansyah
    20 OCT 2013
  • sebenarnya ndak ada salahnya buat kita mahamin pola candle. ya meskipun cara belajarnya nggak perlu dengan dihapalin satu2 juga, tapi tiap orang kan punya cara belajarnya sendiri2 yang sesuai gimana, jadi sebenarnya ndak terlalu jadi masalah juga kalo pengen hafalan pola candle.

    yang jadi salah itu terlalu percaya sama teori candle dan mengira bahwa tiap pola candle pasti benar bisa mensinyalkan peluang tertentu. pada kenyataannya bahkan pola candle pun bisa menjebak, mereka ada yang namanya fake candle jadi untuk mengatasinya perlu ada teknik khusus sebagai konfirmator.
    Jefri Indrianto
    22 NOV 2013
  • melihat dr tulisan d atas dn komentar kawan2 trader,
    sepertix yg perlu ditekankan disini adalah konsep pembelajaran awalx.
    berkali2 disebutkn diatas bahwa cuma fokus menghapal candle, mencari indikator jitu bisa menyebabkan trader melenceng dr pembelajaran awal.

    nah pembelajaran awalx ini sendiri seperti apa?
    bisa jadi dr awal trader emang belum dapet pencerahan tentang sia-siax mncari holy grail. jd wajar klo nantix trader bakalan mengarah ke cara belajar yg seperti ini

    supaya ttp di track yg bener, coba dr awal utk dikasih pengertian ttg hal ini,
    apa aja efek negatif dr cara belajar yg seperti itu
    maka fokus belajarx bisa berganti ke arah yg lebih baik
    Nurcholis Wahyudi
    5 DEC 2013
    Hmm menurut gue sendiri sih blajar forex tuh relatif subyektif yah, materi yg diplajari sama waktu yg dhbiskan ga bisa dipukul rata. Misalnya satu trader newbie A blajar ototidak, noobie B blajar pake dibimbing ma mentor. Menurut sampeyan mana yg lebih bakal cepet nyerep materi ma sukses sampe live trading?

    Kalo mnurut gwa sih, dua2nya ga bisa dijamin bakal lebih cepet atau sukses dari satu sama lainnya. Meskipun diajarin langsung sama mentornya, faktor psikologis juga punya andil besar dalam proses blajar dan trading.   
    Mira Mizdi
    4 JUN 2016
  • Beberapa tahun lalu ada senior yg mengatakan 20-30% win aja masi bisa profit..saat itu saya tidak paham dengan kalimatnya, skr mulai paham..
    Fran
    4 AUG 2016
    ya secara teori sih masi bisa 30% win rate kalau pake rasio risk reward di atas 1:3 masih bisa untung dikit di atas break even. Masalahnya tuh pas live trading. Rasio di atas 1:2 asli bikin jantungan, coba aja kalo ga percaya. Rata-rata sih trader biasanya mentok juga 1:2, seringnya juga paling 1:1,5 lah...

    Soalnya kalo TPnya jauh banget ada resiko harga berbalik arah juga sih...
    Kcuali kalo rajin pake trailing stop, tapi itupun juga ga jamin bisa bikin adem ayem lo ya di live trading hahaha... mending gedein dulu win ratenya sampe paling ga 60% terus rasionya dijadiin max 1:2
    Agus Bastian
    4 AUG 2016
  • Menurut Ane ni agan semua. Dari obrolan di atas metode belajar seperti apa pun bisa, boleh dan kemungkinan untuk menjadi trader profesional pasti ada jalan. Semua kembali lagi kepada Mindset dan Psikologis masing-masing trader maupun calon trader. Dia seorang penjudi atau seorang trader yang ingin berinvestasi.
    Bedjo Ajah
    21 MAR 2017

Apakah Anda Trader Pemula?

belajar forex untuk pemula Klik di sini untuk tahu cara belajar dan menguasai trading dengan mudah.