Menu

Mengapa Harga Minyak Jatuh Sejak Pertengahan 2014

A Muttaqiena

Merosotnya harga minyak dari titik puncak 115USD per barel pada Juni 2014 membuat banyak orang bertanya-tanya, "Mengapa harga minyak bisa merosot sedemikian rupa dengan tiba-tiba?"

Merosotnya harga minyak dari titik puncak 115USD per barel pada Juni 2014 membuat banyak orang bertanya-tanya, "Mengapa harga minyak bisa merosot sedemikian rupa dengan tiba-tiba?" Berbagai spekulasi pun mulai ditempa dan bermacam faktor disebut-sebut sebagai biang perkaranya. Berikut ini beberapa pendapat yang beredar di kalangan pengamat dan media tentang mengapa harga minyak dunia bisa terjungkal.

The Economist: Empat Faktor

Harga minyak sebagian ditentukan oleh permintaan (demand) dan penawaran (supply), dan sebagian lagi ditentukan oleh ekspektasi. Demand untuk sektor energi sangat berkaitan dengan aktivitas ekonomi. Ini sebabnya mengapa demand dari bumi bagian utara meningkat saat musim dingin dan di khatulistiwa meningkat saat musim panas karena penggunaan AC. Sedangkan supply dipengaruhi oleh musim dan konflik geopolitik yang kemungkinan mengganggu produksi dan distribusi. Jika produsen memperkirakan harga akan tetap tinggi, mereka akan meningkatkan investasi, yang pada gilirannya meningkatkan supply. Demikian pula, harga yang murah akan membuat orang malas investasi. Dalam hal ini, keputusan-keputusan OPEC membentuk ekspektasi: jika OPEC membatasi supply dari negara-negara anggotanya, maka harga akan melejit. Di OPEC sendiri, negara yang paling berpengaruh adalah Arab Saudi yang memproduksi nyaris 10 juta barel perhari, atau sepertiga dari total produksi minyak OPEC.


Menurut media ekonomi terdepan The Economist, saat ini ada empat faktor yang berpengaruh. Pertama, permintaan minyak rendah karena aktivitas ekonomi melemah, efisiensi yang meningkat, dan peralihan dari minyak ke bahan bakar lainnya. Kedua, gejolak di Irak dan Libya (yang bersama-sama menghasilkan nyaris 4 juta barel perhari) tidak berdampak pada output produksi minyak mereka. Ketiga, Amerika telah menjadi produsen minyak terbesar dunia. Walaupun AS tidak mengekspor minyak, tetapi impornya berkurang signifikan sehingga menciptakan banyak suplai yang tak terpakai. Terakhir, Arab Saudi dan kawan-kawannya di Teluk telah memutuskan untuk tidak mengorbankan pangsa pasar mereka demi mengembalikan harga ke level semula. Mereka bisa membatasi produksi dengan mudah, tetapi manfaat utamanya akan dinikmati oleh negara-negara yang tidak mereka sukai, seperti Iran dan Rusia. Negara-negara itu telah cukup terpukul dengan rendahnya harga minyak; sebaliknya Arab Saudi bisa mentolerir harga minyak murah dengan mudah karena cadangan minyaknya yang melimpah dan biaya produksi sedikit (sekitar 5-6 USD per barel).

Efek utama dari kondisi ini dirasakan oleh bagian-bagian industri minyak yang paling berisiko dan rapuh. Termasuk diantaranya adalah pelaku fracking di AS yang sebelumnya melakukan penambangan dengan modal dana pinjaman berbunga dengan ekspektasi harga minyak tinggi. Juga, perusahaan-perusahaan minyak Barat yang terlibat eksplorasi berbiaya tinggi seperti penambangan di laut dalam atau di Arktik, atau di wilayah yang makin lama makin mahal seperti North Sea. Namun yang paling menderita adalah negara-negara yang pemerintahannya bergantung pada harga minyak tinggi untuk membayar program-program sosial dan luar negeri yang mahal, seperti Rusia dan Iran. Mereka yang optimis memperkirakan tekanan harga minyak murah akan membuat negara-negara itu makin mudah ditekan oleh dunia internasional, sedangkan para pesimis menduga negara-negara itu bisa mengamuk ketika dipojokkan.

OilPrice: AS, Rusia, Dan Saudi

Mungkin tidak ada yang akan memperdebatkan kalau jatuhnya harga minyak dimulai dari berlipatganda-nya produksi minyak shale di Amerika Serikat. Dari perspektif Amerika, hal ini sangat bermanfaat karena dengan demikian maka negerinya yang dulu merupakan importir minyak terbesar dunia jadi bisa berswasembada energi. Terlepas dari berbagai kekhawatiran akan dampak negatif eksplorasi minyak shale dengan cara fracking bagi lingkungan, strategi itu telah terbukti amat produktif. Menurut media khusus sektor perminyakan dan energi OilPrice.com, itu pula lah sumber dari melimpahnya suplai minyak yang menyeret jatuh harga minyak sejak Juni 2014.


Bahkan, salah satu pendukung terbesar fracking, T. Boone Pickens, menyalahkan booming minyak shale AS sebagai pemicu jatuhnya harga minyak yang memukul industri energi. Ia menilai bahwa ini adalah saat bagi perusahaan-perusahaan AS untuk mulai mengurangi produksi dan mengantarkan harga minyak ke suatu keseimbangan. Dalam wawancara dengan Financial Times yang dipublikasikan pada 18 Maret 2015, Pickens menyebut perusahaan-perusahaan minyak shale telah berproduksi berlebihan (overproduced) dan kenaikan harga minyak ke level yang profitabel akan tergantung pada apakah mereka mau mengurangi output.

Jadi, itulah awal mula kejatuhan harga minyak. Tetapi, apakah itu satu-satunya alasan mengapa harga minyak merosot hingga lebih dari setengahnya, dari 110USD per barel ke 50USD hari ini dalam sembilan bulan saja?

Coba tengok Rusia. Ia adalah eksportir minyak terbesar dunia yang seharusnya bisa menuai manfaat, tetapi harga minyak murah justru berdampak negatif bagi anggaran pemerintahnya yang bersandar pada pendapatan sektor minyak untuk memenuhi lebih dari separuh total penerimaan. Solusi mudah dari masalah adalah mengurangi produksi agar harga naik, tetapi disini ada kendala iklim. Mengurangi produksi bisa buruk bagi sektor minyak Rusia, terutama karena iklim di sebagian besar ladang minyaknya amat sangat dingin hingga penghentian produksi bisa mengakibatkan sejumlah sumur membeku. Oleh sebab itu, Rusia terus memproduksi minyak dan menyimpannya; tetapi karena kapasitas penyimpanan sangat terbatas, maka minyak Rusia terus mengalir ke pasar dan memperparah kelebihan suplai.

Sejauh ini kita mengetahui bahwa melimpahnya suplai minyak yang berakibat pada kejatuhan harga dipicu oleh perusahaan-perusahaan minyak AS, juga ketidakmampuan Rusia untuk memangkas produksi. Tetapi, apakah kita sudah menemukan biang kerok yang sesungguhnya, yang malah memperparah situasi?

Coba tengok Arab Saudi, khususnya Menteri Bidang Perminyakan Ali Al-Naimi, yang dianggap sebagai arsitek dibalik keputusan-keputusan OPEC untuk mempertahankan total produksi kartel minyak tersebut pada 30 juta barel per hari di arena perang harga guna mempertahankan pangsa pasarnya. Keputusan yang diambil pada November lalu itu membuat limpahan persediaan minyak di pasar terus membuncah.

 



Diadaptasi dari artikel:
"Why the oil price is falling" di The Economist
"Who’s To Blame For The Oil Price Crash?" oleh Andy Tully di OilPrice.com


Iman Pratama

Bahan utamanyaa sudah mulai berkurang.





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE