Advertisement

iklan

Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Konten Oleh A Muttaqiena

Walaupun data Retail Sales baik-baik saja, tetapi outlook ekonomi Inggris tahun ini tetap suram.


Laporan PMI April menunjukkan performa sektor manufaktur yang lagi-lagi meleset dari ekspektasi, sehingga Euro melemah terhadap semua mata uang mayor.


GBP/USD dibebani oleh laju inflasi Inggris yang lebih rendah dibanding target bank sentral, sedangkan masalah brexit masih minim penyelesaian.


Dolar Australia, Kanada, dan New Zealand, mengalami penguatan seusai rilis data GDP China Kuartal I/2019 yang mengungguli ekspektasi.


Bias bearish NZD/USD menguat karena penurunan laju CPI tahunan memengaruhi proyeksi kebijakan suku bunga New Zealand.


Rilis indeks ZEW kemarin dinilai sebagai sinyal pemulihan ekonomi Zona Euro. Namun, EUR/USD masih dibebani oleh lesunya inflasi.


Sejumlah analis mengubah proyeksi Poundsterling menjadi bearish, karena ekstensi deadline brexit dinilai telah mengobrak-abrik rencana kenaikan suku bunga.


Apakah kurs Rupiah pasca Pemilu akan melemah, menguat, atau ya, begitu-begitu saja? Berikut ini opini sejumlah analis dari bank dan lembaga keuangan terkemuka.


AUD/USD rebound, karena ekspor China mengalami kenaikan pesat pada bulan Maret 2019, sehingga membantu memperbaiki sentimen bagi Dolar Australia.


Para spekulator menanggapi rencana sebuah bank Jepang untuk mengakuisisi bisnis pembiayaan maskapai milik sebuah bank Jerman senilai miliaran euro.