Profil Penulis : a muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan peluncurkan stimulus fiskal terbesar oleh Jepang sejak tahun 2016.
Perubahan kebijakan bank sentral New Zealand (RBNZ) tentang syarat modal perbankan, memicu kemerosotan NZD/USD di tengah sepinya pasar hari ini.
Amerika Serikat dan China masih terus tarik-ulur tentang poin-poin apa saja yang akan dimuat dalam kesepakatan dagang fase pertama.
GBP/USD berhasil menerobos level resistance penting hari ini. Namun, kelanjutan reli tergantung pada beberapa faktor.
Presiden AS Donald Trump lagi-lagi mengecewakan pelaku pasar keuangan global. Bursa saham dan Dolar AS ikut terimbas.
Reli Euro terhenti setelah Amerika Serikat mengancam akan mengenakan tarif impor 100 persen terhadap produk asal Prancis.
Dolar AS ambruk versus Yen Jepang dan Euro, gegara data sektor manufaktur AS yang buruk dan keputusan Washington untuk membuka medan perang dagang baru.
Sebagai Presiden Bank Sentral Eropa, Christine Lagarde berniat untuk mempertahankan kebijakan moneter longgar, tetapi meninjaunya dari sisi berbeda.
Peningkatan minat risiko pasar hari ini dibayangi oleh eskalasi ketegangan antara Beijing dan Washington. Kedua belah pihak terus bersitegang terkait isu Hong Kong.
Pair NZD/USD dan AUD/USD mencetak kenaikan pesat dalam perdagangan hari ini. Ada apa gerangan?
Proyeksi seputar Pemilu Inggris lagi-lagi memengaruhi outlook Poundsterling. Momentum bullish GBP/USD kian memudar seiring berubahnya dukungan calon pemilih.
Laju inflasi Zona Euro dilaporkan meningkat, tetapi belum cukup untuk mengubah arah kebijakan bank sentral. Euro justru dibebani oleh sejumlah isu lain.
Pound reli versus Euro dan USD, karena hasil polling dengan model MRP YouGov menunjukkan partai Konservatif akan menang telak dalam Pemilu Inggris bulan depan.
Langkah Presiden AS Donald Trump menandatangani UU Perlindungan HAM Hong Kong, menjadi pemantik kekhawatiran terbaru di pasar keuangan global.
Data ekonomi AS dan perundingan dagang kembali jadi sorotan pasar hari ini. Ada potensi aksi jual USD/JPY jika perundingan tak berjalan lancar.
Pidato Gubernur RBA Philip Lowe mendorong pasar untuk mengubah proyeksi suku bunga dan Quantitative Easing tahun depan, sehingga berefek menekan AUD/USD.
Prospek kemenangan partai Konservatif dalam Pemilu Inggris bulan depan masih cukup besar, tetapi Pound ketakutan menyaksikan peningkatan dukungan bagi oposisi.
Poundsterling melemah terhadap mata uang mayor lain karena data PMI Inggris preliminer menunjukkan perlambatan dalam sektor manufaktur dan jasa.
Euro sempat melonjak tinggi seusai rilis data PMI Manufaktur Zona Euro, tetapi terjatuh lagi karena laporan tak sepenuhnya cemerlang.
Amerika Serikat mendorong eskalasi konflik dengan China lagi melalui komentar Presiden AS Donald Trump dan pengesahan UU Hong Kong.
Dolar Australia sempat merosot drastis pada sesi Asia, tetapi beranjak naik lagi setelah pelaku pasar menelaah baik-baik rilis notulen rapat RBA.
Arah pergerakan Dolar AS masih tak menentu. Pesimisme pejabat Beijing tentang kesepakatan dagang AS-China jadi kekhawatiran baru.
Poundsterling menyambut hangat hasil polling YouGov yang menunjukkan kenaikan dukungan bagi partai Konservatif untuk memenangkan pemilu Inggris bulan depan.
Dolar menunjukkan performa beragam terhadap pair-pair mayor di tengah minimnya perkembangan dalam kesepakatan dagang AS-China.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi saat ini, Gubernur BoC Stephen Poloz menyarankan agar bank sentral menjaga kebijakan moneter netral.