iklan

Profil Penulis : a muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Dolar Australia tertekan oleh rilis data ekonomi China yang mengecewakan, sementara risiko penurunan harga komoditas mulai menjadi sorotan pasar.
Sentimen risk-off mulai merebak lantaran buruknya data ekonomi China dan menjamurnya kembali kebijakan lockdown COVID-19 di seantero Asia. Tetapi, sikap dovish The Fed meredam minat beli dolar AS.
Upaya penguatan dolar AS mulai menghadapi perlawanan dari sisi teknikal dan fundamental. Khususnya karena The Fed tetap enggan menaikkan suku bunga meski inflasi Amerika Serikat meninggi.
Pasar spontan mendorong reli dolar AS seusai rilis data inflasi AS, tetapi analis menilai data tersebut takkan memotivasi The Fed untuk segera menaikkan suku bunga.
Pound terhalang oleh ambang resistance yang vital secara teknikal, tetapi kabar terbaru tentang ekonomi Inggris sebenarnya cenderung bullish.
Pelaku pasar optimistis terhadap pound sterling berkat pengumuman tapering BoE, serta berakhirnya penghitungan suara pemilu Skotlandia tanpa gejolak signifikan.
Rilis data payroll AS pekan lalu amat mengecewakan, sehingga meredam ekspektasi kenaikan suku bunga dan mendorong pelemahan dolar AS.
Dolar AS berkubang dalam beragam spekulasi menjelang rilis data Nonfarm Payroll yang kemungkinan bakal mencetak kenaikan fantastis sampai nyaris satu juta.
Pengumuman tapering BoE ternyata lebih dovish daripada ekspektasi pasar, tetapi analis dari institusi keuangan dunia menilainya tetap bullish bagi pound.
China dan Australia telah lama saling berbalas sanksi dagang minor, sehingga kabar terbaru ini hanya membatasi ruang reli dolar Australia.
Komentar Menteri Keuangan AS Janet Yellen menjadi motor penggerak upaya reli dolar secara tak terduga, menjelang rilis data payroll AS pada hari Jumat.
Data PMI Manufaktur Inggris mengungguli ekspektasi dan mengisyaratkan potensi kenaikan inflasi. Kabar baik ini menopang GBP/USD pada area konsolidasi terbarunya.
Bank sentral Australia tidak mengungkap hal baru terkait kebijakan moneternya ke depan, serta masih berencana mempertahankan suku bunga hingga 2024.
Mulai dari perkembangan COVID-19 hingga potensi perubahan kebijakan bank sentral, berikut ini rangkaian peristiwa penting yang perlu diperhatikan trader.
Setelah data GDP Zona Euro menunjukkan angka negatif untuk kedua kalinya, analis menilai rebound ekonomi Zona Euro boleh jadi tertunda sampai kuartal kedua 2021.
Dolar menguat terhadap euro dan yen Jepang pasca rilis GDP AS kuartal pertama 2021, tetapi kinerjanya terhadap mata uang lain cenderung beragam.
Tak ada katalis signifikan baru dari benua biru hari ini, tetapi sikap dovish The Fed membantu euro untuk mempertahankan penguatan terhadap USD.
Analis dari HSBC dan NatWest Markets memperkirakan bank sentral Inggris akan memulai tapering bulan depan. Hal ini meningkatkan dorongan bullish bagi GBP/USD.
Dolar New Zealand telah menguat cukup pesat selama sebulan terakhir, tetapi sejumlah analis mengkhawatirkan prospek bullish selanjutnya.
Sejumlah analis semakin pesimistis terhadap outlook sterling versus USD dan EUR lantaran naik daunnya lagi isu referendum kemerdekaan Skotlandia.
Pengumuman The Fed dan Presiden AS Joe Biden yang disampaikan pada kesempatan terpisah sama-sama berpotensi jadi katalis pasar dan memengaruhi nilai tukar dolar.
Dolar AS kembali terpukul terhadap dolar Australia, poundsterling, dan sejumlah mata uang mayor lain seiring dengan semakin melemahnya yield obligasi pemerintah AS.
Bank sentral Kanada (BoC) mengawali tapering atas kebijakan moneternya dalam pengumuman hari Rabu lalu, sehingga memicu kemerosotan USD/CAD.
Aksi profit-taking menghalangi reli GBP/USD, tetapi penurunan tingkat pengangguran Inggris mendukung prospek bullish ke atas ambang 1.40.
Dolar AS melemah terhadap beragam mata uang mayor di tengah kemerosotan yield obligasi AS dan melambungnya ekuitas global.

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone