Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Konten Oleh A Muttaqiena

Sementara perang dagang masih menggelora, Presiden AS Donald Trump dicurigai mencoba tengah ambil ancang-ancang untuk picu perang mata uang.


Poundsterling berupaya mencatat kenaikan dua hari beruntun versus Dolar AS dalam perdagangan hari ini, seusai rilis data inflasi Inggris.


Tahukah Anda mana saja negara anggota G20, topik apa yang dibahas dalam KTT G20, dan kritik apa yang mengakibatkannya sering didemo massa?


Pernyataan Presiden ECB Mario Draghi tentang stimulus moneter tambahan mengakibatkan Euro merosot drastis terhadap mata uang mayor lain.


Peran Euro sebagai mata uang cadangan devisa global mulai pulih, setelah sempat tumbang pasca krisis keuangan global 2008/2009.


Poundsterling merosot drastis pekan lalu, setelah terungkap bahwa tokoh pro-brexit terkemuka, Boris Johnson, menjadi kandidat PM Inggris terkuat.


Dolar AS menguat tipis terhadap sebagian besar mata uang mayor, karena antisipasi pasar menjelang sejumlah rapat kebijakan bank sentral utama pekan ini.


Pelaku pasar memprediksi kalau bank sentral Australia dan New Zealand bakal memangkas suku bunga dengan lebih agresif, sehingga memicu kemerosotan AUD dan NZD.


Spekulasi dovish tentang rapat FOMC masih ramai diperbincangkan, tetapi pelemahan sejumlah mata uang utama lain telah menyangga nilai tukar Dolar AS.


Kemarin, Trump menyinggung kemungkinan penerapan sanksi guna memblokir pembangunan pipa gas antara Jerman dan Rusia yang bernama Nordstream 2.