OctaFx

iklan

Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Setelah sempat simpang siur hari ini, akhirnya PM Inggris mengumumkan tercapainya deal brexit yang siap disahkan oleh Uni Eropa dan Parlemen Inggris.

Dolar AS melemah signifikan lantaran perkembangan global terkini. Namun, outlook jangka menengah-panjang disangga pendapatan korporat AS yang tetap tangguh.

Polemik brexit belum menemukan titik terang. Poundsterling tertekan, tetapi masih berpeluang untuk melonjak lagi bila situasi berubah dalam dua hari ke depan.

Laporan Inflasi Zona Euro bulan September 2019 menunjukkan perlambatan ekonomi yang lebih buruk ketimbang estimasi awal.

Menjelang European Summit 17-18 Oktober 2019, kegelisahan pasar tentang prospek tercapainya kesepakatan brexit semakin memuncak.

Hasil survei ZEW bulan Oktober 2019 menunjukkan penguatan indikasi resesi Jerman, salah satu ancaman utama bagi kawasan Zona Euro saat ini.

Apabila polemik brexit tak benar-benar terselesaikan dalam bulan ini, maka kondisi ekonomi Inggris berpotensi memburuk lebih cepat.

Walaupun harapan pasar untuk tercapainya kesepakatan dagang AS-China masih tinggi, banyak pihak memilih untuk wait-and-see hingga penandatanganan resmi.

Optimisme pasar terkait kesepakatan dagang AS-China secara umum kembali melemah, sehingga Dolar AS mendapatkan pijakan sementara.

Optimisme seputar brexit pekan lalu ternyata dinilai berlebihan. Menjelang pertemuan penting hari Kamis depan, Pound mulai melemah kembali.

Data GDP Inggris terbaru menunjukkan negeri ini sukses lolos dari ancaman resesi. Namun, reli Pound terbatas karena masalah ketidakpastian brexit.

Selagi menantikan perkembangan negosiasi dagang AS-China, Euro mendapatkan dukungan dari eksternal dan internal kawasan Uni Eropa.

Isu brexit dan perbatasan Irlandia masih menjadi sorotan pasar. Beragam rumor terkait masalah ini mendorong fluktuasi Pound terhadap mata uang mayor.

Ekspansi neraca Fed akan melibatkan pembelian obligasi, tetapi Jerome Powell menegaskan bahwa kebijakan mendatang bukanlah Quantitative Easing (QE) biasa.

Euro menguat didongkrak data produksi industri Jerman, tetapi analis memeringatkan bahwa outlook fundamental tetap suram.

Pound lagi-lagi dibebani kekhawatiran tentang risiko brexit, sementara perundingan antara Inggris dan Uni Eropa terus berlanjut.

Miliuner terkemuka Mark Cuban pernah mengatakan bahwa jika menggunakan kartu kredit, berarti Anda tak ingin kaya. Apa maksudnya?

Pergerakan Dolar AS dan Yen Jepang dikunci di bawah 107.00, sementara para pakar meyakini perang dagang AS-China belum akan diakhiri dalam perundingan pekan ini.

Trader dan investor ambil ancang-ancang bearish terhadap Dolar AS, karena antisipasi skor Non-farm Payroll kemungkinan mengecewakan.

Kemelut seputar proposal brexit yang diajukan PM Boris Johnson masih menggantung nasib Poundsterling terhadap mata uang mayor lain.

Dolar Australia tetap tangguh versus Dolar AS, karena rilis data ekonomi AS yang buruk menjelang publikasi Non-farm Payroll nanti malam.

Pound terhimpit dalam kisaran sempit karena Uni Eropa belum menyampaikan pendapat mengenai proposal brexit terbaru. Sejumlah ekspektasi positif mulai merebak.

Meski Dolar AS terpukul akibat kemerosotan sektor manufaktur, minat beli aset safe haven menanjak lantaran sejumlah isu negatif.

Irlandia diduga membocorkan proposal brexit terbaru, karena menolak rancangan tata perbatasan ala PM Boris Johnson.

Walaupun pemangkasan suku bunga RBA telah diperkirakan oleh trader, tetapi pernyataan Gubernur Philip Lowe memicu aksi jual dadakan.