Advertisement

iklan

Profil Penulis : a muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.
Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Presiden AS Donald Trump mengklaim Rusia dan Arab Saudi akan mengakhiri perang harga minyak dalam beberapa hari ke depan.
Sementara krisis akibat epidemi COVID-19 semakin berlarut-larut, kawasan Euro belum mampu menyepakati upaya bersama untuk menyelamatkan perekonomian.
Data klaim pengangguran AS dikhawatirkan akan menunjukkan kenaikan lagi pada sesi New York nanti malam. Hal ini menahan laju reli Dolar AS versus mata uang lain.
Harga minyak mentah acuan telah merosot nyaris 70 persen dalam sebulan terakhir, dan kini berkubang di kisaran terendah sejak tahun 2002.
Kebutuhan investor Jepang terhadap Dolar AS diperkirakan menopang nilai tukar USD/JPY saat ini. Namun, resesi mengancam outlook dalam jangka waktu lebih panjang.
Penurunan rating kredit Inggris oleh Fitch pekan lalu masih menjadi perhatian pasar hingga hari ini, sehingga turut menekan nilai tukar Pound terhadap Dolar AS.
Sejumlah faktor mendukung reli Poundsterling ke rekor tertinggi sepekan terhadap Dolar AS. Namun, penguatan ini dikhawatirkan tidak bertahan lama.
Demi menambah persediaan Euro untuk menanggulangi kemunduran ekonomi, beberapa negara Eropa menghimbau agar diterbitkan obligasi Corona.
Pelaku pasar mengantisipasi rilis data klaim pengangguran yang melonjak drastis hingga lebih dari 1.5 juta nanti malam. Akibatnya, Dolar AS lanjut melemah.
Senat AS berhasil menyepakati peluncuran paket stimulus fiskal sebesar USD2 Triliun untuk menanggulangi perlambatan ekonomi akibat pandemi COVID-19.
Secara bertahap, China akan melonggarkan lockdown di provinsi Hubei dan kota Wuhan yang sebelumnya menjadi episenter pandemi virus Corona (COVID-19).
PM Boris Johnson mendadak mengumumkan Inggris akan memberlakukan lockdown selama tiga minggu mulai hari ini, karena jumlah korban COVID-19 meningkat pesat.
Kebijakan moneter makin longgar, mendorong pelemahan kurs Dolar AS. Di sisi lain, Kongres belum sepakat soal paket stimulus fiskal untuk menghadapi dampak COVID-19.
New Zealand menjadi negara asal mata uang mayor pertama yang mengambil keputusan tegas untuk lockdown nasional demi membendung wabah virus Corona.
Setelah sempat terkoreksi pada perdagangan akhir pekan lalu, Dolar AS kembali unggul versus beragam mata uang dunia.
Dengan kerjasama swap ini, bank-bank sentral lain dapat mendongkrak nilai tukar mereka versus Dolar AS tanpa perlu menghabiskan devisa sendiri.
Didesak oleh lobi perusahaan energi AS, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan niat untuk intervensi dalam perang harga minyak Arab Saudi-Rusia.
Nilai tukar kuat dianggap buruk bagi perekonomian, sehingga bank sentral Swiss (SNB) menyatakan akan intervensi mata uang secara lebih ketat.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bank sentral Australia (RBA) meluncurkan program Quantitative Easing tanpa batas nilai tertentu.
Menyusul ambrol-nya lagi bursa Wall Street kemarin, Dolar AS mencatat penguatan. Namun, hal ini disinyalir sebatas karena pelaku pasar butuh cash saja.
Trader Pound mengantisipasi kemungkinan BoE mengumumkan pemangkasan suku bunga dadakan lagi, sebelum rapat terjadwal pada tanggal 26 Maret mendatang.
Pasangan Greenback-Dolar Kiwi agaknya kebingungan menyikapi implikasi kebijakan bank-bank sentral kawasan Antipodean yang belum meluncurkan Quantitative Easing.
Pelaku pasar menilai tindakan The Fed terlalu agresif, sedangkan stimulus BoJ dianggap terlalu kecil. Akibatnya, USD/JPY terjungkal lagi.
Federal Reserve lagi-lagi mengumumkan kebijakan dadakan. Bank sentral AS ini memangkas suku bunga sebanyak 1 persen dan merilis program QE masif.
Bank sentral Jepang (BoJ) dirumorkan bakal melakukan ekspansi stimulus moneter dalam rapat pekan depan. Namun, belum diketahui berapa besar skala-nya.