Advertisement

iklan

Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

iklan

iklan

Data Nonfarm Payroll AS menampilkan angka aktual yang tergolong sangat impresif, sehingga lagi-lagi meningkatkan keyakinan pasar pada dolar AS
Dolar AS melemah terhadap mayoritas mata uang mayor, karena beberapa data ekonomi AS terbaru mengisyaratkan data Nonfarm Payroll besok mungkin meleset.
Bank of England memperkirakan kenaikan inflasi akan mengakibatkan Inggris mengalami resesi panjang mulai akhir tahun ini sampai akhir 2024.
Isu suku bunga The Fed dan risiko resesi global masih menjadi sorotan utama, sementara pelaku pasar memantau tensi geopolitik di Asia Timur.
Pelaku pasar terus menurunkan ekspektasi suku bunga The Fed dan menjual dolar AS, karena menganggap Amerika Serikat berisiko mengalami resesi.
Eropa harus menjalankan pembatasan konsumsi gas menjelang musim dingin. Akibatnya, harga gas Eropa meroket dan meningkatkan risiko resesi di kawasan Euro.
Pernyataan Jerome Powell mengisyaratkan kenaikan suku bunga The Fed lanjutan dengan laju yang lambat dalam bulan-bulan mendatang.
Menjelang putusan suku bunga AS pada rapat FOMC pekan ini, dolar AS tersokong oleh kekhawatiran pasar terhadap risiko resesi global dan gejolak geopolitik.
Suku bunga ECB untuk fasilitas deposit telah keluar dari area negatif dan kembali ke tingkat nol persen.
Data inflasi Inggris mencapai rekor tertinggi 40 tahun, tetapi tak mampu mendorong reli GBP/USD pada awal sesi Eropa hari ini.
Para pejabat ECB konon tengah mendiskusikan prospek kenaikan suku bunga sebesar 50 basis poin, atau dua kali lipat dibandingkan ekspektasi pasar sebelumnya.
Mayoritas pelaku pasar kini sepenuhnya berpihak pada prediksi kenaikan suku bunga The Fed sebanyak 75 basis poin saja untuk bulan ini.
Kubu hawkish dan dovish dalam FOMC lagi-lagi berbeda pendapat tentang berapa besar kenaikan suku bunga The Fed berikutnya.
Sedikitnya 3 faktor membebani EUR/USD: memburuknya krisis energi, merebaknya gejolak politik di Italia, serta prospek kenaikan suku bunga The Fed.
Data inflasi AS mencetak rekor baru lagi. Akan tetapi, reli dolar AS malah kehilangan momentum.
Euro menguat tipis pada sesi New York hari ini. Tapi para analis berbeda pendapat tentang ke mana arah EUR/USD selanjutnya.
Hasil pemilu Jepang menandakan bahwa otoritas akan terus mempertahankan suku bunga pada tingkat super-rendah, sehingga USD/JPY melambung tinggi.
Dolar AS membuka perdagangan hari ini dengan menyusuri jalur menuju rekor tertinggi historis yang tercapai seusai rilis data Non-farm Payroll.
Sejumlah analis memandang pengunduran diri PM Inggris Boris Johnson dapat berdampak positif bagi pound sterling, tetapi trader agaknya masih memilih untuk wait-and-see.
Mayoritas analis memperkirakan kurs dolar AS akan tetap perkasa dalam jangka pendek, tetapi melemah dalam kurun waktu sekitar 1 tahun ke depan.
Krisis gas Eropa memburuk akibat kemungkinan pemangkasan pasokan lanjutan dari Rusia, serta meluasnya mogok kerja di Norwegia. Akibatnya, euro dan pound amblas.
Euro kolaps ke rekor terendah dua dekade sedangkan dolar AS melambung lebih dari satu persen.
Dolar AS terimbas oleh laporan Belanja Konsumen AS yang meleset dari ekspektasi, sedangkan trader EUR/USD menantikan laporan inflasi Zona Euro nanti sore.
Risiko resesi bikin investor cari aman. Alhasil Dolar AS, franc Swiss, dan yen Jepang menguat secara moderat terhadap mata uang-mata uang berisiko lebih tinggi.
Dolar AS melemah lantaran penurunan proyeksi terminal rate, tetapi mata uang mayor lain juga menghadapi risiko besar ke depan.