Advertisement

iklan

Profil Penulis : A Muttaqiena

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.

iklan

iklan

RBA merasa inflasi belum terkendali meski tingkat suku bunga Australia telah mencapai tingkat tertinggi sejak tahun 2012.
Data PMI Jasa Amerika Serikat menandakan laju inflasi kemungkinan tetap tinggi, sehingga indeks dolar AS rebound ke kisaran 105.30.
Data Non-farm Payroll pada hari Jumat mengungguli estimasi konsensus, tetapi nilai tukar dolar AS tetap tertekan.
Reli EUR/USD memperoleh energi ekstra dari pernyataan Ketua The Fed dan indeks PCE inti yang mengikis ekspektasi suku bunga USD.
Pidato Ketua The Fed Jerome Powell mempertegas niat bank sentral AS untuk memperlambat laju kenaikan suku bunga mulai rapat FOMC bulan ini.
Pidato Ketua The Fed Jerome Powell dapat menjadi katalis yang signifikan bagi nilai tukar dolar AS terhadap berbagai mata uang lain.
Data GDP Kanada menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang ekspansif, tetapi prospek nilai tukarnya terbebani oleh beragam faktor lain.
EUR/USD terpantau lesu pada kisaran 1.0345 dan EUR/GBP macet pada kisaran 0.8635. Hasil data inflasi Jerman menjadi katalis.
Sentimen pasar memburuk seiring meluasnya demonstrasi melawan pembatasan aktivitas masyarakat di China, sehingga para trader berpaling pada aset-aset safe haven.
Pejabat The Fed menekankan perlunya mengurangi skala kenaikan suku bunga berikutnya. Hal ini menekan kurs dolar AS selama dua sesi.
Beijing melaporkan tiga kematian baru akibat COVID-19 pada akhir pekan, sehingga mendorong otoritas memperpanjang himbauan stay at home.
Kendati paket kebijakan fiskal Inggris yang baru tak mampu menyetop ancaman resesi saat ini, rinciannya sudah cukup memuaskan bagi para trader GBP/USD.
Data penjualan ritel AS menunjukkan minat belanja masyarakat AS yang tetap tinggi di tengah kenaikan harga-harga, suku bunga, dan tingkat pengangguran.
Sebuah ledakan di Polandia mengguncang sentimen pasar global dan memicu pergolakan pada beberapa mata uang utama, khususnya dolar AS dan euro.
Dolar AS babak belur dalam semua pasangan mata uang mayor, terutama USD/JPY dan GBP/USD. Pasalnya, data inflasi AS mengarah pada perlambatan kenaikan Fed rate.
Dolar AS tenggelam di tengah kekhawatiran pasar terhadap hasil pemilu sela (midterm elections) dan rilis data inflasi AS dalam waktu dekat.
Dolar AS tertekan oleh sentimen risk-on yang merebak berkat kenaikan tingkat pengangguran AS dan rumor pelonggaran kebijakan nol COVID China.
Nonfarm Payroll AS mengungguli ekspektasi, tetapi tingkat pengangguran AS melonjak dari 3.5 persen sampai 3.7 persen.
GBP/USD anjlok nyaris 2 persen akibat sikap BoE yang lebih pesimistis terhadap prospek ekonomi Inggris ke depan.
Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell merupakan katalis positif bagi dolar AS, tetapi menjadi kabar buruk bagi ekuitas dan mata uang lain.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pekan ini tetap jumbo, tapi ada perdebatan tentang rate hike berikutnya yang membebani dolar AS.
Keputusan bank sentral Australia (RBA) terbaru tak memberikan inspirasi positif bagi pelaku pasar maupun pergerakan dolar Australia.
Pernyataan bos ECB mengingatkan pasar pada beragam tantangan ekonomi Zona Euro, berlawanan dengan kondisi ekonomi AS yang lebih tangguh.
Dolar AS melemah seusai serangkaian rilis data ekonomi Amerika Serikat yang menumbuhkan keraguan pasar terhadap ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.
Pound sterling memperoleh secercah harapan dari terpilihnya Rishi Sunak sebagai Perdana Menteri Inggris yang baru.