Menu

Penggunaan Pivot Point

Martin

Cara trading menggunakan Pivot Point ada beraneka ragam, dan dapat diaplikasikan saat harga mengalami bounce maupun breakout. Ini uraiannya.

Para trader profesional dan mereka yang telah berpengalaman sering menggunakan Pivot Point guna mengidentifikasi level-level Support dan Resistance (SR) yang potensial. Kenapa titik-titik Pivot ini begitu menarik? Jawabnya karena cukup objektif dibandingkan leading indicator yang lain.

 

Sekilas Tentang Pivot Point

Pada dasarnya, Pivot Point adalah suatu level harga yang bisa bekerja sebagai level-level Support dan Resistance pada suatu periode tertentu.

Berikut contoh Pivot Point dan level-level SR pada chart EUR/USD 1-Hour. PP adalah Pivot Point, R1 adalah level Resistance pertama, R2 merupakan Resistance ke 2, S1 level Support pertama, S2 level Support kedua, dan seterusnya.

Untuk menentukan level-level Support dan Resistance, pertama kali kita mesti menentukan Pivot Point. Pivot Point ditentukan berdasarkan harga tertinggi, terendah, dan penutupan pada hari sebelumnya. Pada umumnya, trader menggunakan acuan penutupan pasar New York, yaitu pada jam 4:00 p.m EST atau sekitar jam 4:00 pagi WIB.

Berikut rumusnya:

Pivot Point (PP) = (harga tertinggi + harga terendah + harga penutupan)/3

Level Resistance pertama (R1) = (2 x PP) - harga terendah
Level Support pertama (S1) = (2 x PP) - harga tertinggi
Level R2 = PP + (harga tertinggi - harga terendah)
Level S2 = PP - (harga tertinggi - harga terendah)
Level R3 = harga tertinggi + 2 x (PP- harga terendah)
Level S3 = harga terendah - 2 x (harga tertinggi - PP)

 

Dalam Pivot Point, ada pula level Intermediate (mid point level) atau level-level pertengahan antara PP dan S1, S1 dan S2, S2 dan S3, juga antara PP dan R1, R1 dan R2, R2 dan R3.

Level Intermediate adalah level-level acuan yang kadang-kadang digunakan bila jarak PP ke S1 atau S1 ke S2 dan seterusnya cukup besar. Seringkali, pergerakan harga bouncing pada level-level intermediate tersebut (seperti gambar contoh di atas). Ketika trader menggunakan Pivot Point, level Intermediate sering dianggap sebagai level Support atau Resistance mini.

Perlu diketahui, Anda tidak harus menghitung PP atau level-level Support dan Resistance setiap kali trade, karena saat ini sudah banyak platform trading yang menyediakan indikator Daily Pivot (Pivot Point Harian) dan bisa langsung diterapkan, termasuk pada platform trading populer MetaTrader. Hanya saja, Anda mesti mengatur waktu penutupan berdasarkan jam acuan yang digunakan broker Anda.

Baca Juga:

Check Any Information about Forex Brokers

 

Menggunakan Pivot Point Untuk Trading Bouncing

Cara trading yang sederhana menggunakan Pivot Point adalah memperlakukan level-level Pivot tersebut sebagaimana level Support dan Resistance. Biasanya, harga akan menguji level-level tersebut sebelum bouncing (berbalik arah gerak) atau break (meneruskan arah gerak). Bahkan, pengujian bisa terjadi beberapa kali. Karena berfungsi sebagai Support atau Resistance, maka sifat-sifat dasar SR juga berlaku. Makin sering harga gagal menembus level tersebut, maka akan semakin kuat level Support atau Resistance.

Dengan menggunakan Pivot Point di platform trading, maka kesempatan entry diperoleh ketika harga telah berada pada salah satu level Pivot tersebut, terlepas dari apakah prediksi harga akan bouncing atau break. Contoh berikut adalah entry buy di atas level Support, dengan asumsi ketika harga telah gagal menembus Support, maka akan terjadi bouncing.

Level target profit bisa ditentukan pada PP (Pivot Point) atau R1 (resistance pertama), atau diantara level tersebut tergantung dari Rasio Risk/Reward yang direncanakan. Jika Anda tergolong trader yang agresif, maka level Stop Loss bisa ditempatkan pada beberapa pip di bawah S1 (support pertama), sehingga Rasio Risk/Reward cukup tinggi. Namun, trader yang konservatif akan menentukan level stop loss di bawah S2 (support kedua) dengan asumsi jika harga menembus S1 tetapi tidak menembus S2, maka masih ada kemungkinan bouncing.

Yang terjadi kemudian adalah: Ternyata pergerakan harga mengalami bouncing pada level S1 dan PP.

Agar Anda lebih percaya diri ketika entry, gunakan juga indikator teknikal sebagai konfirmator untuk mengetahui kekuatan level SR, karena pada dasarnya Pivot adalah level-level Support dan Resistance. Selain itu, Anda juga bisa mengamati formasi candlestick dan setup Price Action yang terbentuk.

Baca Juga:

5 Easy Ways of Reading Price Action Signals

 

Menggunakan Pivot Point Untuk Trading Breakout

Trading bouncing menggunakan Pivot Point tidak selalu berjalan baik, walaupun level SR cukup kuat. Terutama pada waktu pembukaan sesi Eropa atau New York, pergerakan harga cenderung sering break (menembus) level-level Pivot. Juga pada saat sentimen pasar sedang kuat seperti ketika rilis data fundamental penting. Berikut contoh pergerakan harga yang break pada level-level Pivot:

Dari gambar di atas tampak bahwa sentimen pasar sedang kuat dengan harga pembukaan yang di atas PP. Pada pergerakan selanjutnya, harga menembus R1, R2 dan R3 sebelum kembali menembus R3 dan bouncing di R2. Bagi trader yang agresif, kondisi pasar yang seperti ini tentu sangat menguntungkan.

Yang penting untuk diperhatikan adalah; sebelum benar-benar menembus level Resistance, harga selalu melakukan retest pada level tersebut. Amati retest pada tanda-tanda lingkaran pada gambar di atas. Sekali lagi, agar Anda lebih percaya diri, bisa diamati setup Price Action dan formasi candlestick yang terbentuk, serta menggunakan indikator teknikal sebagai sarana konfirmator.

 

Menggunakan Pivot Point Untuk Stop Loss Dan Target Profit

Bila Anda cenderung agresif dan trading dengan cara breakout, mungkin hal yang agak sulit adalah menentukan level Stop Loss atau resiko. Pada cara trading dengan level Pivot yang konservatif (cara bouncing), resiko biasanya ditentukan beberapa pip di atas atau di bawah level pivot sebelumnya. Namun bila Anda menggunakan cara breakout , maka penentuan level Stop Loss yang seperti ini akan boros pip, atau dengan kata lain mengandung risiko terlalu besar.

Pada contoh di atas, jika Anda entry buy di sekitar area breakout A, maka Stop Loss bisa ditentukan pada level Intermediate atau pada level terendah bar sebelumnya. Bilamana Anda terbiasa dengan pengamatan formasi candlestick atau setup Price Action, Anda bisa menentukan Stop Loss berdasarkan formasi bar yang terbentuk. Trader yang agresif selalu menentukan resiko seminimal mungkin guna memperoleh Risk/Reward Ratio yang memadai.

Untuk menentukan level target, Anda bisa menggunakan cara yang sama dengan cara bouncing, yaitu pada level Pivot berikutnya. Anda bisa menentukan target pada 2 atau 3 level Pivot di atas level entry untuk memperoleh Risk/Reward yang besar; tetapi jarang sekali pergerakan pasar yang melewati hingga 3 level Pivot sekaligus, kecuali pada kondisi pasar yang ekstrim. Pada umumnya, pergerakan harga akan berhenti pada satu level Pivot sebelum melanjutkan ke level berikutnya. Jika sentimen pasar berubah, maka pergerakan harga akan segera berbalik arah.

Baca Juga:

Monitor the Current Market Sentiment

 


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC | Smartphone

WASPADAI PENIPUAN
Mengatasnamakan Seputarforex!

Baca Selengkapnya Di Sini
×
  • Pasang Ekstensi VPN Di Browser
    • Search kata kunci "vpn" atau "proxy" di Mozilla AddOns atau Chrome Webstore.
    • Setelah menemukan salah satu vpn (contoh: browsec), klik "pasang" atau "tambahkan".
    • Aktifkan ekstensi.
Anda juga bisa mendapatkan info lebih detail di:
@seputarforex
@seputarforex.fanspage
@seputarforex
×

Cara Utama:
Unduh Aplikasi Seputarforex di Playstore.

Cara Alternatif:
Anda juga bisa mendapatkan info lebih detail di:
@seputarforex
@seputarforex.fanspage
@seputarforex

Menggunakan Pivot Point Sebagai Indikator Sentimen Pasar

Sentimen pasar dalam hal ini adalah kecenderungan pergerakan harga untuk bullish atau bearish. Yang umum digunakan sebagai patokan adalah harga pembukaan (opening price) pada sesi perdagangan hari itu dan Pivot Point yang dihitung berdasarkan batas-batas harga pada hari sebelumnya.

Misalnya, jika pada sesi Asia, harga dibuka di atas Pivot Point, maka pada sesi tersebut sentimen pasar akan cenderung bullish. Namun, situasi bisa berubah pada sesi berikutnya (sesi Eropa) tergantung posisi pergerakan harga saat itu terhadap Pivot Point. Demikian pula pada sesi New York yang terjadi setelahnya.

Pada gambar di atas tampak pergerakan harga membentuk gap di atas level Pivot. Lompatan harga atau gap yang terjadi menunjukkan sentimen bullish yang cukup kuat. Selanjutnya pergerakan harga mampu menembus level-level R1, R2 dan R3.

Pada contoh GBP/USD di atas yang terjadi adalah sebaliknya. Setelah menguji level Pivot, harga turun tajam (ditandai dengan formasi candlestick bearish full body yang lebih panjang) hingga menembus level S1 dan S2. Meski karakteristik pergerakan harga terhadap Pivot Point tidak selalu demikian, tetapi sentimen pasar cenderung untuk bereaksi di sekitar level Pivot.

Contoh di atas menunjukkan pergerakan harga yang cenderung bearish (1) dan slow pada sesi Asia, serta sempat menguji level S1. Namun, pada sesi Eropa, harga melambung hingga level R2. Perhatikan formasi bar saat harga menembus level Pivot (3). Nampak bahwa harga penutupan (Close) pada bar tersebut berada di atas Pivot.

Dari penjelasan di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa Pivot Point merupakan tool trading multifungsi yang bisa diandalkan dalam berbagai strategi. Namun karena sistem pembacaannya agak kompleks, pemula sebaiknya belajar cara penerapannya di akun demo terlebih dulu.

Baca Juga:

Panduan Akun Demo Untuk Pemula

 

Akhir Kata

Pivot Point khususnya berguna bagi trader jangka pendek atau trader harian yang bermaksud mengambil keuntungan dari pergerakan harga yang tidak begitu besar. Seperti halnya metode trading yang mengandalkan level-level Support dan Resistance lainnya, trader bisa menerapkan konsep bounce dan breakout pada level-level tersebut. Dengan cara bouncing, trader mencoba menentukan level pembalikan arah (reversal), sedangkan trader yang gemar bermain breakout dapat mencoba mengidentifikasi level SR sebagai acuan terjadinya break pada level tersebut. Selanjutnya, mereka akan membuka posisi buy atau sell dekat dengan level-level tersebut.

 

Bagaimana cara trading menggunakan Pivot Point jika pasar sedang trending? Simak ulasannya dalam artikel Cara Trading Dengan Pivot Point Pada Pasar Yang Trending.



Klik di sini untuk tahu cara belajar dan menguasai trading dengan mudah.
Frengki Simamor

Mohon tanya untuk para Guru. Di MT4 saya kok Indikator Pivot Poin ngak ada ya?

Martin S

@ Frengki Simamor:
Pivot point memang bukan indikator ataupun tools bawaan Metatrader. Anda bisa unduh disini untuk Metatrader 4 dalam bentuk file mq4.

Fahmi

Jd kalau menentukan titik entry menghitung pp dari smisal candle merah terus slama 4 hr...gimana master.,?

Kan kata master dr harga sbelumnya





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE