Menu

AUD Dan NZD Didongkrak Stimulus China Pasca Voting Brexit

A Muttaqiena

Dolar Australia dan Dolar New Zealand didukung oleh melonggarnya minat risiko pasar dan dirilisnya stimulus China, tapi tertahan oleh buruknya data domestik.

Duo mata uang antipodean menguat tipis pada awal sesi Eropa hari Rabu ini (16/Januari), di tengah kelegaan pelaku pasar menyusul usainya voting draft kesepakatan Brexit di Parlemen Inggris pada dini hari tadi (WIB). Sebelumnya, AUD dan NZD ditutup melemah pada hari Selasa akibat ketidakpastian terkait isu yang sama. Saat berita ini ditulis, pasangan mata uang AUD/USD tercatat naik 0.10 persen ke level 0.7208, sementara NZD/USD menanjak 0.15 persen ke kisaran 0.6826.

 

Hasil Voting Brexit Beri Lebih Banyak Waktu Untuk Mempertimbangkan Ulang

Pada Selasa malam waktu setempat, Parlemen Inggris menolak draft kesepakatan Brexit yang diajukan oleh PM Theresa May dalam voting dengan marjin 230 suara. Pimpinan partai oposisi, Jeremy Corbyn, segera memanfaatkan situasi dengan menggalang mosi tidak percaya bagi PM May. Voting terkait mosi tersebut akan diadakan hari ini, tetapi mayoritas media dan pelaku pasar mensinyalir kalau upaya melengserkan PM May itu akan gagal.

"Pelaku pasar tampaknya berpikir bahwa pada titik ini, tiadanya kesepakatan adalah lebih baik daripada sejumlah kesepakatan (yang tidak baik), karena memberikan lebih banyak waktu dan meningkatkan kemungkinan kalau negeri ini bakal berubah pikiran sepenuhnya soal Brexit," ujar Marshall Glitter, pimpinan pakar strategi di ACLS Global, sebagaimana dikutip oleh The Business Times. Lanjutnya lagi, "(Pembatalan Brexit) itu merupakan rute terbaik, tetapi saya tak mengecualikan kemungkinan para politisi memilih rute yang kurang optimal."

Dolar Australia dan Dolar New Zealand terimbas positif oleh melonggarnya minat risiko pasar pasca voting yang hasilnya sesuai ekspektasi tersebut. Di sisi lain, kabar stimulus yang diluncurkan China turut mendongkrak mata uang kedua negara.

 

Didongkrak Stimulus China, Ditahan Data Domestik

Setelah kemarin Pemerintah China berjanji akan menerbitkan stimulus moneter dan fiskal untuk menanggulangi perlambatan ekonomi, bank sentral China langsung bertindak. People's Bank of China telah mulai menginjeksi dana sebesar 560 miliar yuan (USD82.73 miliar) ke sistem keuangannya melalui Reverse Repo hari ini, dan muncul rumor bahwa Beijing akan mengumumkan pemangkasan pajak senilai 2 triliun Yuan dalam waktu dekat.

Meski demikian, laporan ekonomi domestik cenderung mengecewakan. Data sentimen konsumen Australia yang dirilis Westpac merosot 4.7 persen pada bulan Januari, dari 0.1 persen pada periode sebelumnya. Ini merupakan penurunan bulanan terparah dalam tiga tahun terakhir yang terjadi karena responden cenderung pesimis dalam memandang outlook perekonomian dan prospek keuangan mereka.

Di sisi lain, data penjualan ritel via kartu elektronik di New Zealand anjlok 2.3 persen pada bulan Desember, jauh lebih buruk ketimbang estimasi penurunan 0.4 persen yang diperkirakan analis. Padahal, laporan Electronic Card Retail Sales mencakup sekitar 68 persen dari penjualan ritel inti di negeri tersebut.


Berita Forex Lainnya

USD
EUR
CHF
CAD
GBP
JPY
CNY
AUD





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE