Menu

BI Turunkan Suku Bunga, Rupiah Pelan-Pelan Masuk Zona Hijau

Intan Poetri

Keputusan BI yang menurunkan suku bunga sebanyak 25 bps, direspon kalem oleh pasar. Rupiah pun menunjukkan penguatan tipis.

Seputarforex.com - Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang berlangsung pada 21-22 Agustus 2019, menghasilkan keputusan bahwa BI 7-Days Reverse Repo Rate diturunkan ke level 5.5%. Angka ini menunjukkan pemotongan sebanyak 25 basis poin (bps) dari suku bunga acuan sebelumnya di level 5.75%.

Menyikapi pengumuman kebijakan moneter BI, kurs Rupiah yang sebelumnya melemah ke angka 14,240/USD, menguat tipis ke angka 14,230/USD saat berita ini ditulis. Selengkapnya dapat disimak pada chart berikut:

 

Alasan BI Potong Suku Bunga

Dilansir dari CNBC news, Gubernur BI Perry Warjiyo menerangkan beberapa faktor yang menjadi dasar pemangkasan suku bunga, antara lain rendahnya angka inflasi, imbal hasil aset domestik yang tetap menarik, serta langkah pre-emptive untuk mendorong pertumbuhan ekonomi ke depannya.

Mengenai proyeksi perekonomian Indonesia, BI menilai jika pertumbuhan di tahun 2019 akan mencapai 5-5.4%. Di tahun 2020, BI juga masih optimis karena mematok kisaran pertumbuhan di 5.1-5.5%. BI menilai bahwa angka inflasi sepanjang tahun 2019 ini masih stabil, dengan kisaran target kurang lebih 3.5 hingga 1 persen.

 

Pidato Powell Di Jackson Hole Jadi Katalis Eksternal

Selain pengumuman suku bunga acuan BI, sentimen pasar terhadap pair USD/IDR juga dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Dari Negeri Paman Sam, ketua The Fed akan menyampaikan pidatonya pada Jackson Hole Symposium yang berlangsung akhir pekan ini. Pasar saat ini menantikan pernyataan Powell terkait inversi kurva Yield Obligasi AS beberapa waktu lalu, dan dampaknya terhadap outlook kebijakan The Fed. Jika pidato Powell lebih Dovish dari yang diperkirakan, maka Greenback berpotensi untuk melemah dan ini bisa menjadi katalis penguat bagi Rupiah.

Menurut CME Fedwatch, kemungkinan pemangkasan suku bunga The Fed sudah mencapai 98.1%. Walaupun demikian, pasar memilih untuk bersikap wait and see dulu sehingga tekanan jual pada mata uang negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) masih tinggi.


Berita Forex Lainnya

USD
EUR
CHF
CAD
GBP
JPY
CNY
AUD





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE