Menu

Dolar Naik Pasca Data PMI Manufaktur Dan Kegagalan Negosiasi Ukraina

Nadia Sabila

Dolar AS terapresiasi oleh data PMI Manufaktur AS yang naik mengungguli ekspektasi. Sementara itu, negosiasi Rusia-Ukraina nihil kesepakatan.

Seputarforex - Dolar AS melanjutkan reli di sesi perdagangan Selasa malam (01/Maret), terdukung oleh positifnya PMI Manufaktur AS dan konflik Rusia-Ukraina. Indeks Dolar AS naik 0.73% ke 97.45 saat berita ini ditulis.

 

PMI Manufaktur AS Naik, Negosiasi Rusia-Ukraina Gagal

PMI ISM Manufaktur AS dilaporkan naik dari 57.6 ke 58.6 pada bulan Februari. Perolehan tersebut lebih tinggi daripada ekspektasi kenaikan ke 58.0. Infeksi COVID-19 varian Omicron yang mulai mereda di AS membuat aktivitas manufaktur kembali menggeliat. Meskipun dibayangi oleh perlambatan rekrutmen pekerja dan kenaikan harga bahan baku, tetapi peningkatan aktivitas manufaktur mengindikasikan pengurangan dalam masalah rantai pasokan.

Selain itu, lonjakan Dolar AS malam ini juga dipengaruhi oleh fungsinya sebagai safe haven. Negosiasi tingkat tinggi antara Rusia dan Ukraina yang digelar di perbatasan Ukraina-Belarusia tidak menghasilkan kesepakatan apapun hari ini. Akibatnya, serangan misil dan ledakan-ledakan masih bergema di Kyiv. Namun demikian, kedua negara yang sedang berseteru itu akan kembali berunding.

Pihak Rusia ingin agar tuntutannya dipenuhi tanpa syarat, termasuk melegitimasi kedaulatan Rusia atas Krimea dan jaminan status netral Ukraina. Status netral Ukraina berarti bahwa negara tersebut tidak akan bergabung dengan NATO. Di sisi lain, Ukraina yang ingin bergabung dengan NATO mengharapkan gencatan senjata dan penarikan tentara Rusia secepatnya dari wilayahnya.

 

Dampak Konflik Rusia-Ukraina Pada Ekonomi AS

Pada dasarnya, perekonomian AS tak akan mengalami dampak besar akibat perang Rusia-Ukraina. Sebab, tak banyak impor AS yang berasal langsung dari Rusia. Menurut kolumnis The New York Times Jeanna Smialek dan Ana Swanson, dampak perang Rusia-Ukraina akan paling terasa di sektor minyak, mengingat Rusia adalah salah satu eksportir minyak terbesar dunia.

"Yang menjadi pertanyaan adalah: Berapa lama harga minyak dan harga gas alam akan tetap tinggi?" ujar Alan Detmeister, ekonom UBS, "Semua orang menerka-nerka hal ini."

Harga minyak yang meninggi akan memicu kenaikan inflasi. Padahal inflasi AS saat ini sudah melangit akibat pandemi COVID-19. The Fed yang sudah mengambil ancang-ancang untuk menaikkan suku bunganya bulan Maret depan, diperkirakan harus kembali memutar otak dalam menyusun kebijakan moneter di tengah ketidakpastian baru.


Berita Forex Lainnya

USD
EUR
CHF
CAD
GBP
JPY
CNY
AUD





KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE