Profil Penulis : Nadia Sabila

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.
FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Konten Oleh Nadia Sabila

Kian besarnya sinyal Rate Cut The Fed di akhir bulan ini, membuat harga emas masih punya peluang besar untuk naik meski tengah melemah di akhir pekan ini.


Menurut John Williams, pemotongan suku bunga di awal sinyal tekanan ekonomi dapat menjadi vaksin yang mencegah dampak buruk inflasi terlalu rendah.


Lonjakan indeks manufaktur Philly Fed menaikkan yield obligasi US Treasury. Harga emas pun turun karena aksi profit taking pasca kenaikan harga di sesi sebelumnya.


Isu yang menyebutkan bahwa Dolar AS sudah overvalued, melemahkan Dolar AS hari ini. Kenaikan Indeks Philly Fed manufacturing tak mampu menyumbangkan bullish.


Penjualan Ritel AS yang melebihi ekspektasi membuat harga emas turun. Pasar emas perlu konfirmasi melemahnya data ekonomi AS lagi untuk mendukung kenaikan harga.


Retail Sales AS bulan Juni 2019 tumbuh dengan persentase yang sama seperti bulan lalu. Namun, Dolar AS menguat karena data tersebut jauh melebihi ekspektasi.


Data ekonomi China yang dinilai positif dan Dolar AS yang sedikit naik malam ini, membuat pelemahan harga emas sulit dihindari.


Euro melemah dengan kecenderungan ranging, karena sebagian besar pelaku pasar memperkirakan pemotongan suku bunga akan menjadi metode pelonggaran moneter ECB.


Meski laporan inflasi AS tak terlalu buruk, harga emas berhasil bertahan di level psikologis 1400 karena pasar yakin bahwa The Fed akan Rate Cut bulan ini.


Producer Price Index (PPI) AS hanya tumbuh 0.1 persen pada bulan Juni, sesuai dengan ekspektasi. Dolar AS masih melemah karena ekspektasi Rate Cut The Fed.