Menu

Eks Menkeu Indonesia: BI Perlu Menciptakan Kripto Sendiri

Yodik Prastya

Muhammad Chatib Basri selaku mantan Menteri Keuangan Indonesia menyarankan BI untuk menciptakan kripto mereka sendiri. Simak penjelasan lengkapnya di sini.

Mantan Menteri Keuangan indonesia, Muhammad Chatib Basri, menyampaikan pendapatnya tentang mata uang kripto. Dilansir CNBC, sosok tersebut berpendapat bahwa Bank Sentral Indonesia (BI) harus berpikir tentang menciptakan mata uang kripto mereka sendiri. Hal ini perlu dilakukan untuk mengurangi ancaman Bitcoin terhadap stabilitas keuangan global.

 

Bubble Bitcoin Dapat Mempengaruhi Stabilitas Ekonomi

Bitcoin mengalami awal tahun terburuk dalam sejarahnya setelah serangkaian peretasan, blokir iklan kripto oleh berbagai raksasa teknologi, serta larangan tegas dari berbagai badan regulasi.

Untuk menghindari risiko mata uang kripto, Basri merekomendasikan investor untuk fokus pada Blockchain daripada Bitcoin. Kepada CNBC Basri mengatakan, "Apa yang Bank Sentral dapat lakukan adalah mencoba masuk ke dalam teknologi di belakang Bitcoin, Blockchain, dan memantau prosesnya."

Setelah mencapai level terendah sejak 23 November 2017, Bitcoin sempat pulih dan berfluktuasi kembali di atas $7,000. Meskipun penurunan demi penurunan yang terjadi ini melegakan kekhawatiran Basri, tetapi dirinya masih menganggap Bitcoin sebagai ancaman terhadap stabilitas ekonomi.

"Jika terdapat gelembung, maka Bitcoin mungkin berdampak pada stabilitas keuangan di banyak negara termasuk Indonesia. Tapi, tidak ada cara (bagi) regulator, bahkan Bank Sentral untuk dapat melarangnya," tambah Basri.

Sebaliknya, Muhammad Chatib Basri menyarankan Bank Indonesia untuk mengeluarkan mata uang digital mereka sendiri. Mata uang seperti itu akan mudah dipantau dan bersifat legal. Dengan cara ini, Dampak Bitcoin pada stabilitas keuangan Indonesia akan berkurang.

 

Bitcoin Sudah Dimanfaatkan Pelaku Kriminal Di Indonesia

Hingga saat ini, Bitcoin masih sering digunakan untuk berbagai macam tindakan kriminal. Hal ini mencerminkan perlunya kontrol dari Bank Indonesia untuk membatasi peredaran mata uang digital. Baru-baru ini, pihak berwenang telah melakukan penangkapan terhadap seorang mahasiswa yang diduga membeli pil ekstasi dengan Bitcoin dari Belanda.

Seperti yang dilansir Jakarta Post, tim dari BNNP (Badan Narkotika Nasional Provinsi) Jawa Tengah menangkap seorang mahasiswa dari Universitas Diponegoro di Semarang. Tersangka diduga menggunakan mata uang digital untuk melakukan pembelian obat psikoaktif berjenis ekstasi.

Brigjen Tri Agus Hero Prasetyo, Kepala BNNP mengatakan, "Ia membeli obat melalui transaksi Bitcoin sebesar Rp800,000,- ($56). Transaksi semacam itu (Bitcoin) lebih mudah untuk membeli obat-obatan dari luar negeri."

Menurut Prasetyo, tersangka mengklaim bahwa dia membeli pil ekstasi melalui metode yang sama pada tahun lalu. Dipercaya bahwa mahasiswa tersebut melakukan pembelian melalui Belanda karena harganya jauh lebih murah.

Hal-hal seperti inilah yang sangat dikhawatirkan oleh Basri jika penyebaran mata uang digital tidak diawasi oleh BI. Apalagi, akses untuk dapat membeli dan menggunakan mata uang digital ini bisa tersambung secara langsung ke berbagai penjual di negara manapun.


Berita Kripto Lainnya




KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE