Menu

Harga Minyak Tergelincir Di Tengah Simpang Siur Rencana OPEC

A Muttaqiena

Saat berita ini diturunkan, minyak berjangka Brent berada di kisaran $51.45 per barel, turun 0.91$ dari harga penutupan pekan lalu. Sementara WTI di sekitar $49.30 per barel, atau melorot 0.98% dari penutupan sebelumnya.

Seputarforex.com - Harga minyak mentah bergerak menurun di awal perdagangan hari Senin ini (10/10). Pasar masih diombang-ambingkan oleh simpang-siur seputar rencana OPEC untuk memangkas produksi dan kondisi pasar minyak Amerika Serikat.

Saat berita ini diturunkan, minyak berjangka Brent berada di kisaran $51.45 per barel, turun 0.91$ dari harga penutupan pekan lalu. Sementara WTI di sekitar $49.30 per barel, atau melorot 0.98% dari penutupan sebelumnya. Minggu lalu, kedua harga acuan minyak internasional itu sempat menapaki kisaran di atas $50 per barel.

 

Takkan Ada Kesepakatan Di Istanbul

Sebagaimana diketahui, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) tengah merencanakan pemangkasan output yang akan difinalisasi pada pertemuan resmi-nya di akhir November. Dari output OPEC kini pada rekor tinggi 33.6 juta bph, diharapkan akan berkurang hingga kisaran 32.50 juta - 33 juta bph. Akan tetapi, belum diketahui berapa porsi penurunan masing-masih negara anggota yang diperlukan. Guna mencapai kesepakatan, negara-negara anggota OPEC akan terus melakukan negosiasi selama enam pekan mendatang, dimulai dengan sebuah pertemuan informal di World Energy Conference di Istanbul, Turki, tanggal 9-13 Oktober 2016.

Menteri Energi Rusia, Alexander Novak, kemarin mengatakan bahwa ia tak mengharapkan akan menandatangani kesepakatan (pemangkasan) produksi dengan OPEC di Istanbul. Akan tetapi, sebuah kesepakatan antara OPEC dengan negara produsen minyak Non-OPEC nomor satu itu mungkin dicapai dalam pertemuan resmi tanggal 30 November mendatang di Wina, Austria.

 

Produksi AS Kembali Aktif

Sebuah survei yang digelar Reuters dan dipublikasikan hari Jumat menampilkan bahwa para analis ragu kalau diskusi-diskusi itu akan menghasilkan posisi harga minyak lebih tinggi, mengingat sulitnya mendiskusikan pemangkasan produksi diantara negara-negara yang bersengketa.

Harga minyak juga berada di bawah tekanan setelah Baker Hughes melaporkan adanya kenaikan jumlah drilling rigs di kawasan Amerika Serikat pekan lalu, dari 425 menjadi 428. Sejak akhir Mei, kenaikan jumlah rigs mencapai 112, atau 35%, yang mana ini mengindikasikan bahwa para produsen minyak AS kembali bersemangat untuk menaikkan produksinya setelah harga masuk ke kisaran $50 per barel.

Namun demikian, para analis meyakini bahwa harga minyak akan ditutup pada posisi lebih tinggi di akhir tahun nanti hingga memasuki 2017. Sebagaimana diungkapkan Barclays, salah satu bank investasi terkemuka dunia, "penurunan persediaan di musim dingin mendatang akan mendukung fundamental pasar minyak fisik, terlepas dari apa keputusan (yang dihasilkan) bulan November di Wina. Kami memperkirakan harga akan naik ke kisaran dengan batas bawah $50 per barel di kuartal 4."

 

Dalam sepekan ke depan, ada lima laporan yang akan diperhatikan para pelaku pasar. Di hari Selasa, International Energy Agency bakal menerbitkan laporan bulanannya tentang pasar minyak global. Pada hari Rabu, OPEC akan merilis penilaian bulanannya tentang kondisi pasar. Pada Rabu juga, American Petroleum Institute akan mempublikasikan estimasi persediaan minyak mentah AS pekanan, diikuti US Energy Information Administration menerbitkan laporan serupa di hari Kamis. Akhir pekan bakal ditutup oleh laporan jumlah sumur pengeboran (oil drilling rigs) Baker Hughes di hari Jumat.


Berita Minyak Lainnya




KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE