Menu

Minyak Terkonsolidasi Setelah Melonjak Dari Penurunan Stok

M Septian

Harga minyak terkonsolidasi pada perdagangan Asia hari Kamis (17/09). Para trader masih menatap pada kebijakan the Fed yang mungkin akan menaikkan suku bunga. Suku bunga AS yang lebih tinggi kemungkinan akan menarik uang tunai dari para trader dan mengangkat nilai Dolar AS.

Harga minyak terkonsolidasi pada perdagangan Asia hari Kamis (17/09). Para trader masih berfokus pada kebijakan the Fed yang mungkin akan menaikkan suku bunga. Suku bunga AS yang lebih tinggi kemungkinan akan menarik trader untuk mengangkat nilai Dolar AS. Hal ini merupakan proyeksi bearish untuk minyak yang diperdagangkan dalam denominasi Dolar, karena bahan bakar jadi lebih mahal bagi importir yang memegang mata uang lain.

Kemarin harga minyak mentah naik sekitar enam persen, ketika laporan dari EIA menunjukkan penurunan cadangan minyak terbesar sejak tujuh bulan terakhir di titik utama pengiriman minyak Cushing, Oklahoma. Hari ini West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan pada 47.15 Dolar AS per barel, relatif tidak berubah dari penutupan sebelumnya. Sementara di bursa saham Intercontinental Exchange, minyak Brent juga mendatar pada USD 49.77 per barel.

"Harga minyak mentah AS mengalami kenaikan besar bulan ini, setelah EIA melaporkan menyusutnya stok minyak 2.1 juta barel pekan lalu, sementara data aktivitas pengilangan meningkat pertama kalinya sejak Juli. Keluaran dari perusahaan pengilangan AS sedang lambat selama bulan September karena dilakukan pemeliharaan (mesin dan peralatan)," menurut catatan Bank ANZ dikutip dari CNBC.

Beberapa analis berpendapat bahwa pasar minyak sedang keluar dari titik terendahnya setelah selama setahun ini hancur. Hal ini tampak dari para produsen minyak yang mulai melakukan pemangkasan produksi. "Suplai minyak dari negara non-OPEC dan non-AS telah memuncak dan mulai berkurang. Pemangkasan belanja mulai berdampak pada produksi minyak," kata Bernstein Research. Yaman, Meksiko, Malaysia dan China merupakan negara-negara terdepan yang memangkas produksinya, yang jika digabung produksi minyak global berkurang sekitar 400 juta barel per hari.

Harga minyak WTI naik lebih tinggi dari Brent pada beberapa pekan belakangan, sebagian besar karena melemahnya perekonomian Asia serta meningkatnya output dari Afrika Barat serta Laut Utara. Perbandingan antara kedua jenis minyak tersebut menipis menjadi USD 2.20 per barel, turun lebih dari 70 persen dibanding pertengahan bulan Agustus. "Brent tampak terkena imbas dari meningkatnya pasokan Basin Atlantic (Afrika Barat dan Laut Utara) sebagaimana gambaran makro yang lebih luas, dengan keprihatinan atas China dan masalah yang konsekuen di pasar negara berkembang, sementara pertumbuhan Eropa masih pucat," kata JBC Energy seperti dilansir CNBC.


Berita Minyak Lainnya




KONTAK KAMI PASANG IKLAN BROKER BELAJAR ANALISA ARTIKEL TERM OF USE