Strategi Trading Ketika Terjadi False Break

Kita membuka posisi buy atau sell saat harga telah menembus level support atau resistance, tetapi ternyata arah pergerakan harga berbalik, tidak sesuai dengan prediksi kita sebelumnya hingga stop loss kita kena. Bagaimana agar tidak kecolongan seperti ini?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

False break adalah sinyal break (tertembusnya level support atau resistance) yang salah, atau disebut juga dengan sinyal break palsu. Kita membuka posisi buy atau sell saat harga telah menembus level support atau resistance, tetapi ternyata arah pergerakan harga berbalik, tidak sesuai dengan prediksi kita sebelumnya hingga stop loss kita kena. Tentunya kita tidak akan masuk jika kita tahu dengan pasti sinyal break yang bakal terjadi, tetapi kita tentu tidak bisa menghindari false break jika kita telah membuka posisi trading. Dalam seri tulisan ini dibahas mengenai beberapa jenis false break yang sering terjadi dan bagaimana seharusnya kita mengantisipasinya sebelum terlanjur masuk.   

False break bisa terjadi kapan saja akibat respon trader terhadap kondisi pasar hingga membuka posisi buy pada level harga tertinggi dan sell pada level harga yang paling rendah. False break bisa dianggap sebagai ‘tipu muslihat’ pasar. Pasar menguji suatu level support atau resistance yang telah ditembus sebelum akhirnya berbalik arah, atau gerak harga pasar tidak berlanjut diluar level yang telah diuji, tetapi kembali ke area semula dan membiarkan keadaan tersebut sebagai sinyal palsu atau false break.

Keadaan ini sering terjadi pada pasar yang normal, baik ketika pasar sedang ‘tenang’ ataupun saat terjadi rilis berita fundamental yang penting. Gambar dibawah adalah contoh keadaan false break pada level resistance. Keadaan sebaliknya juga bisa terjadi pada level support.

  Strategi Trading Ketika Terjadi False

Range
: apakah pasar bergerak dalam range trading yang jelas? Mungkin kondisi pasar benar sideway (ranging) tetapi range trading-nya kurang jelas.

Jarak order yang aman: apakah order untuk membuka posisi sudah pada jarak yang cukup aman? Mungkin kita membuka posisi pada jarak yang terlalu dekat dengan batas range hingga berpotensi untuk terjadi koreksi atau retracement.

Indikator teknikal: apakah indikator teknikal telah mengisyaratkan terjadinya breakout yang valid?, misalnya indikator ADX untuk mengetahui kekuatan trend, atau garis moving average sebagai level support/resistance dinamis yang telah ditembus.

Formasi price action: apakah pada level tersebut terbentuk setup price action yang mendukung keadaan break yang sedang terjadi. Perhatikan formasi candlestick yang terjadi pada pergerakan harganya.

Melihat pada time frame yang lebih tinggi: apakah pada time frame yang lebih tinggi juga terjadi breakout? Jika ya maka validitas breakout cukup besar. Jika pada time frame tinggi terjadi trend yang sebaliknya (counter trend), maka perlu dipertimbangkan lagi untuk membuka posisi.

Dari karakteristik pola pergerakan harga pasar yang biasanya terjadi, break yang pertama kali biasanya bukan yang sebenarnya atau cenderung sebagai sinyal break palsu. Pasar biasanya menguji level tersebut sebelum benar-benar ditembus. Break yang terjadi berikutnya akan lebih besar validitasnya. Jika Anda ragu atau kurang yakin tetapi tetap ingin masuk, maka sebaiknya trading dengan resiko yang kecil dengan ukuran lot (position size) kecil.

Yang mesti Anda hindari adalah menggeser stop loss ke level yang lebih besar dengan harapan harga akan kembali bergerak pada arah yang Anda prediksikan. Jika memang yang terjadi adalah false break Anda pasti akan loss, dan hal tersebut adalah kebiasaan yang mesti dihindari dalam trading.


Agar tidak ‘kecolongan’ ketika Anda membuka posisi trading, pada bagian ini dibahas beberapa jenis false break dan cara untuk mengantisipasinya. Sebenarnya banyak trader forex yang berpengalaman bisa dengan cepat mengenali terjadinya false break, dan memanfaatkannya guna meraup profit. Berikut beberapa jenis false break yang sering terjadi di pasar, sebagaimana diungkapkan oleh Niall Fuller dari situs Learn To Trade The Market:

1. Bull trap dan bear trap pada level resistance atau support
Bull trap atau bear trap biasanya terdiri dari formasi 1 sampai 4 bar candlestick pada level resistance atau support yang bersifat sebagai false break (trap artinya jebakan). False break biasanya terjadi setelah uptrend atau downtrend yang kuat dan harga mendekati level resistance atau supportnya. Trader cenderung berasumsi bahwa level resistance atau support akan segera ditembus karena pergerakan trend yang kuat dan agresif. Segera setelah mereka membuka posisi buy atau sell, harga berbalik arah dengan membentuk formasi bull trap atau bear trap (gambar bawah)

Strategi Trading Ketika Terjadi False

2. False break konsolidasi pada pasar sideway
False break yang terjadi saat pasar dalam keadaan sideway atau ranging, dan berkonsolidasi untuk menentukan arah pergerakan selanjutnya. Trader sering terjebak ketika level support atau resistance sudah ditembus. Cara yang paling mudah untuk menghindari jebakan ini adalah dengan menunggu hingga bar berikutnya setelah bar yang menembus level support/resistance selesai terbentuk, dengan penutupan harga diluar level yang ditembus. Paling bagus (valid) adalah jika terjadi pada chart daily. Jika Anda trading dengan menggunakan metode price action, Anda bisa mengkonfirmasikannya dengan formasi pin bar yang mungkin terbentuk.

Strategi Trading Ketika Terjadi False

3. False break  pada formasi fakey bar
Dengan terbentuknya formasi fakey (false) bar pada setup price action yang memang mengindikasikan sinyal palsu, kita bisa membuka posisi pada bar setelah inside bar, atau lebih valid jika terjadi pin bar setelah inside bar. (Baca: Strategi trading dengan price action : pin Bar, fakey dan inside bar).

Strategi Trading Ketika Terjadi False

Mengantisipasi false break dengan price action
Dengan metode price action, kita bisa menguji validitas break yang terjadi, terutama pada time frame daily. Kalau memang terjadi false break, kita bisa membuka posisi yang berlawanan jika kondisi pasar memang mendukung. Untuk level support/resistance yang tertembus, perhatikan setup price action yang terbentuk, terutama ‘ekor’ candlestick yang dekat pada level tersebut.

Bagaimana reaksi harga yang menembus level itu? Apakah harga penutupan daily-nya berada diluar level yang ditembus?, jika tidak biasanya akan terjadi retracement yang kuat atau bahkan reversal atau pembalikan arah trend. Sebagai contoh false break yang terjadi pada chart daily EUR/USD seperti pada gambar berikut, dimana false break mengakibatkan reversal ke arah downtrend dengan kuat.

Strategi Trading Ketika Terjadi False

Contoh dari histori George Soros ketika ‘menggoyang’ Bank of England
Contoh penting false break dalam trading forex adalah ketika trader legendaris George Soros ‘menggoyang’ Bank of England (BoE) pada 16 September 1992. Lihat gambar chart GBP/USD berikut:

Strategi Trading Ketika Terjadi False

GBP/USD break kearah uptrend dengan terbentuknya level-level puncak yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ketika George Soros melakukan sell GBP dengan volume yang sangat besar, harga turun dengan range yang sangat besar pula. Terlihat pada chart tersebut telah terjadi false break pada formasi fakey bar.

Martin Singgih memulai trading sejak 2006. Pernah menjadi scalper dan trader harian, tetapi sekarang cenderung beraktivitas sebagai trader jangka menengah-panjang dengan fokus pada faktor fundamental dan Money Management. Strategi trading yang digunakan berdasarkan sinyal dari Price Action dengan konfirmasi indikator teknikal.


Nanda
kayaknya si om nial nih jagonya price action apa ya? Kog yang dijelasin disitu gak pake indi. Jadi puyeng deh kite...hehehe..sori..abis e kebiasaan pake indi
Rusli
dik nanda gmn to? Coba dibaca lg baik2..jelas ada saran dia pake indi adx buat ngukur kekuatan tren kan? Cuma begini dik..model price action itu emang dah jadi favorit para master dunia lho. Jadibia adik lebih tau lebih dini. Nantinya jam terbang yang akan membuktikan kalo dengan sebersih mungkin chart kita dari coretan indi maka akan semakin jelas sinyal yang kita lihat. Silakan buktikan sendiri..nantinya
Sherly
buat gan @martin..mo tanya..ini murni teknikal yaa? Mohon dijelaskan juga pengaruh fundamentalnya gan. Kog kayaknya saya lihat masih ada yang kurang disitu..terimakasih sudah berkenan menjawab
Joe
salam knal @jeng sherly cantik..hihihi. Mo coba membantu jawab yaa..begini ya jeng, strategi price action sebenarnya sudah memasukkan faktor fundamental dalam analisanya. Lho kog gak ikut ditulis? mungkin itu pertanyaan jeng kan? Nah para pemain senior ini dengan melihat pergerakan harga saja sudah bisa merasakan fundamental akan bergerak kemana. Jadi bagi meraka gak perlu lg bolak balik cari berita cuma buta bahan analisa yang notabene telah bisa mereka lihat dan rasakan melalui pergerakan-bentuk chart.. begitu sudah paham?
Upit
Master tanya..boleh kan? Ini saya pingin tau, kalo model beginian bisa kagak ya kalo pake time frame yang kecilan dikit kek. Soale gue cuma main scalper. Pingine biar gampang ngliate sinyal. Selama ini kebiasaan pake sinyal tumpuk-tumpuk jadi tambah bingung.Thanks ya
Martin S
@ sherly:
Kalau dari topik ini memang full teknikal karena penulisnya (Nial Fuller) memang seorang technicalist (chartist) yang biasa trading dengan analisa price action.

Dalam tulisan-tulisannya dia selalu menganjurkan agar tidak entry atau membuka posisi pas ada rilis data fundamental, jadi bener-bener dia menghindari analisa fundamental.

Untuk menjelaskan pengaruh fundamentalnya dari artikel tersebut agak susah, karena topiknya memang sepenuhnya analisa teknikal yaitu sinyal break palsu atau false break, jadi tidak ada hubungannya dengan suku bunga atau tingkat pengangguran.

Kalau Anda mau artikel aslinya bisa dibaca disini
Martin S
@ upit :
Bisa, asal level support atau resistance-nya jelas. Jelas disini maksudnya kuat atau sulit ditembus. Kalau bisa ambil support dan resistance dari time frame yang lebih tinggi misalnya daily. Kalau pada time frame daily tidak bisa tembus jelas pada time frame yang lebih kecil juga tidak akan ditembus.