Advertisement

iklan

Sepanjang 2019, Penipuan Kripto Capai USD4.3 Miliar

Penipuan berbasis mata uang kripto pada tahun 2019 meningkat tiga kali lipat dari tahun sebelumnya, sebagian besar karena maraknya skema Ponzi yang menjerat jutaan korban.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Sebuah laporan terbaru yang dirilis oleh Chainalysis mengungkapkan bahwa berbagai penipuan mata uang digital pada tahun 2019 diperkirakan mencapai lebih dari $4.3 miliar. Menurut perusahaan yang bermarkas di New York tersebut, Penipuan mata uang kripto sempat turun pada tahun 2018, tapi jumlahnya meningkat hingga tiga kali lipat pada tahun 2019 dan menyebabkan jatuhnya jutaan korban. Peningkatan ini sebenarnya sudah tecium sejak kuartal pertama tahun lalu (Baca juga: Kerugian Scam Dan Pencurian Kripto Capai USD2.1 Miliar Pada Q1/2019).

"Para penipu mengambil keuntungan dari posisi unik mata uang kripto yang saat ini menjadi perhatian publik; sebagian besar orang pernah mendengarnya, dan banyak yang percaya bahwa ini berpotensi menjadi jalan untuk menjadi cepat kaya," tutur Chainalysis dalam laporannya.

Skema penipuan yang bermunculan pun bermacam-macam. Ada skema Ponzi, penjualan token palsu, phishing, pemerasan, hingga fake mixer juga turut berkontribusi dalam meningkatnya penipuan mata uang digital sepanjang tahun 2019.

Sepanjang 2019, Penipuan Crypto

 

Skema Ponzi Adalah Penyebab Terbesar

Jika dihitung dari jumlah aktivitas transfer dan nominal kerugiannya, skema Ponzi menjadi yang paling menonjol di antara model penipuan kripto lainnya. Chainalysis menyimpulkan bahwa rata-rata transfer yang mengalir ke skema Ponzi adalah senilai $1,676, sementara rata-rata transfer untuk penjualan token palsu adalah senilai $4,188.

"Lebih dari 2.4 juta transfer individu mengalir ke skema Ponzi, sebuah angka yang luar biasa jika Anda menyadari bahwa data tersebut hanya mencerminkan enam skema Ponzi individu pada tahun 2019," tambah Chainalysis.

Dalam hal ini, PlusToken dan OneCoin menjadi 2 aktor utama. Tanpa keduanya, total penipuan kripto hanya mencapai 0.46% dari semua aktivitas di industri cryptocurrency tahun lalu. Masih dalam laporannya, Chainalysis menuturkan, "Para penipu menjanjikan tingkat pengembalian besar-besaran dan keuntungan luar biasa bagi mereka yang berinvestasi di perusahaan palsu tersebut, sembari meyakinkan korban untuk berinvestasi dalam jumlah besar dengan iming-iming mendapatkan keuntungan yang juga besar."

Chainalysis juga menemukan fakta bahwa sebagian besar penipu bergantung pada bursa kripto untuk mencairkan dana hasil penipuannya, di mana 57.6 persen mata uang digital yang diperoleh secara ilegal dijual ke bursa.

291848

Rama berstatus sebagai mahasiswa aktif tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi Swasta di kota Kembang. Awal mula perkenalan dengan dunia trading dimulai pada tahun 2014, saat masih mahasiswa baru. Instrumen trading yang pertama kali dikenal adalah saham Indonesia. Seiring berjalannya waktu, tertarik mengikuti trading forex juga. Strategi trading yang banyak digunakan diantaranya Harmonic Pattern dan Chart Pattern.